Sukses

Misteri Tsunami Palu Ada di Dasar Laut, Ini 4 Jawabannya

Liputan6.com, Jakarta - Lebih dari 2.000 jiwa meninggal dunia serta puluhan ribu warga mengungsi akibat gempa bermagnitudo 7,4 disusul tsunami yang menyapu Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu sore, 28 Oktober 2018.

Saat itu, gelombang besar yang diperkirakan setinggi 3 meter menerjang dan menghancurkan setiap bangunan yang dilewatinya. Kendaraan dan benda lainnya mengapung dan saling bertubrukan, terombang-ambing tak berdaya.

Dampak terparah terjadi di pesisir Kota Palu usai diterjang tsunami. Bangunan yang berada di atasnya rusak parah dan rumah-rumah penduduk nyaris rata dengan tanah.

Hingga kini kedahsyatan tsunami Palu masih misteri. Namun, setelah dua bulan berlalu teka-teki itu mulai terjawab. Apa saja itu:

2 dari 5 halaman

1. Air Laut Mengalami Penurunan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di teluk yang berada di Palu, terjadi penurunan signifikan di dasar laut saat gempa terjadi.

Hal ini memungkinkan pergerakan air laut menerjang secara tiba-tiba ke darat hingga memicu banyak korban berjatuhan.

Kesimpulan awal ini dilaporkan dalam ajang Fall Meeting yang digelar American Geophysical Union di Washington DC, demikian dikutip dari BBC News, Selasa 11 Desember 2018.

Gempa di Palu terjadi di sesar strike-slip (sesar geser), yang bergerak secara horizontal. Konfigurasi semacam itu biasanya tak pernah dikaitkan dengan peristiwa tsunami besar.

"Saat mencocokkan batimetrik daya sebelum dan sesudah (gempa), kita bisa dapat melihat bahwa area dasar laut di dalam teluk. Dan dari data ini, kami juga bisa memantau pergerakan ke utara. Sebenarnya ada pergeseran vertikal dan horisontal," kata Udrekh Al Hanif dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang hadir dalam dalam ajang Fall Meeting kepada BBC.

Namun, hal tersebut menurutnya belum bisa memastikan secara pasti ukuran tsunami yang terjadi di Palu.

3 dari 5 halaman

2. Longsor Bawah Tanah

Berdasarkan analisis sementara dari para ahli tsunami di Institut Teknologi Bandung (ITB), LIPI, dan BPPT, tsunami pascagempa disebabkan oleh dua hal.

Pertama, adanya longsoran sedimen dasar laut di kedalaman 200-300 meter. Sedimen dari sungai-sungai yang bermuara di Teluk Palu belum terkonsolidasi kuat, sehingga longsor saat gempa dan memicu tsunami.

"Hal ini terindikasi dari naik turunnya gelombang dan air keruh," jelas kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPN Sutopo Purwo Nugroho, seperti dilansir dari situs resmi BNPB, Sabtu, 29 September 2018.

4 dari 5 halaman

3. Dorongan ke Atas dari Dasar Laut

Penyebab terjadinya tsunami di Palu, Donggala, dan sekitarnya disebabkan oleh gempa lokal. Gempa ini terjadi di bagian luar dari Teluk Palu.

Kemungkinan lain adalah dorongan ke atas dari dasar laut, di zona dekat Palu, di mana sesar geser terpecah ke jalur yang berbeda.

Pergerakan pada dua lintasan, pada waktu bersamaan, bisa jadi menekan lempeng yang berada di antaranya.

"Itu adalah kejadian yang tak biasa. Namun, proses tektoik menginformasikan bahwa hal tersebut bisa terjadi lagi," kata Finn Løvholt from dari Norwegian Geotechnical Institute.

4. Gempa Lokal

Penyebab terjadinya tsunami di Palu, Donggala, dan sekitarnya disebabkan oleh gempa lokal. Gempa ini terjadi di bagian luar dari Teluk Palu.

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Upaya Meredam Dampak Bencana di Pasigala Saat Hujan Lebat
Artikel Selanjutnya
Perbaiki Rumah Korban Gempa Palu, Pemerintah Kucurkan Rp 1,9 Triliun