Sukses

Isu Kebangkitan PKI dalam Pandangan Romo Magnis

Liputan6.com, Jakarta - Awalnya adalah peristiwa yang disebut Gerakan 30 September. Partai Komunis Indonesia atau PKI dituding menjadi dalang pembunuhan sejumlah jenderal Angkatan Darat. Dalam sekejap situasi berbalik: ada upaya pembersihan anggota dan simpatisan PKI.

Ribuan vigilante -orang yang menegakkan hukum dengan caranya sendiri - dan tentara Angkatan Darat dianggap berperan dalam menangkap dan membunuh orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI.

Hingga kini, Gerakan 30 September 1965 dianggap sebagai peristiwa pengkhianatan terbesar terhadap bangsa Indonesia. Belakangan, muncul razia kaos palu arit dan penyitaan buku-buku terkait komunis.

Rohaniawan Katolik dan filsuf Franz Magnis Suseno berpendapat, penyitaan barang-barang yang diduga kembali menggaungkan komunisme di Indonesia sudah tepat. Hanya, jangan sampai menjadi kelewat batas bahkan main hakim sendiri.

"Mengenai simbol-simbol kalau saya sih jangan jadi histeris. Di Jerman, memakai simbol Nazi, terutama swastika, termasuk tindakan kriminal. Itu juga tidak akan diizinkan di sebuah kaos. Bahwa tidak diizinkan memamerkan simbol resmi PKI, misalnya palu arit, saya setuju. Tapi yang saya anggap sekarang itu histeris," tutur pria yang akrab disapa Romo Magnis di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin 16 Mei 2016.

Romo Magnis pun menyinggung kejadian yang sempat heboh belakangan. Seorang anak muda dipukuli beberapa orang setelah kedapatan menggunakan pin berlambang palu arit.

Salah satu buku yang disita aparat Polres Sukoharjo terkait razia buku yang diduga berisi ajaran komunis. (www.bukalapak.com)

Dia mengecam penganiayaan itu. Bagi dia, penganiayaan itu tak tepat dan memalukan.

Sebab, saat ini sudah tidak ada lagi ideologi marxis, komunis, dan ideologi sejenisnya. Anak muda yang mengenakan lambang komunis hanya ingin sekedar terlihat keren.

"Orang-orang muda pakai itu juga ada yang tidak tahu sama sekali. Ada yang mau keren. Jangan memalukan dong," jelas Romo Magnis.

Penulis disertasi mengenai Karl Marx itu juga menyayangkan penyitaan buku-buku yang mengandung unsur komunis. Padahal, tidak semua buku yang membahas tentang komunis adalah mendukung komunisme.

Dia menyarankan masyarakat dan penindak, perlu memahami maksud dan isi dari buku terlebih dulu sebelum menindak.

"Buku-buku saya tentang Karl Marx itu tidak dilarang. Tapi dibakar oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu penulisan tentang Marx dibedakan dengan penulisan Marxisme. Saya di situ (dalam buku) mengkritik Marx, tapi mereka tidak tahu," ujar Romo.

2 dari 2 halaman

Tak Bisa Salahkan Fobia

Fobia masyarakat terhadap hal berbau komunis, entah simbol palu arit ataupun terkait ideologi politiknya, pun diakui Romo Magnis tak bisa disalahkan pula. Apalagi di masa lalu, komunisme di Indonesia berkembang.

Saat itu, tekanan akan kengerian paham berbau ateisme dirasakan kuat. Masyarakat hanya bisa bungkam. Kala itu, dia hanya dapat melihat tanpa menyuarakan apapun. Takut.

"Saya datang ke Indonesia pada 1961. Itu tahun-tahun demam komunisme. Waktu itu saya masih muda. Warga negara Jerman. Rohaniawan kecil. Tidak punya kedudukan apa-apa. Saya hanya melihat-lihat. Saya melihat bagaimana komunisme maju. Kritik terhadap komunisme juga tidak bisa diberikan," kenang peraih gelar Doktor Kehormatan di bidang Teologi dari Universitas Luzern, Swiss itu.

Pemuda pakai kaos palu arit ditangkap tentara (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

"Saya mendengar mengenai Peristiwa Madiun 48, yang waktu tahun-tahun terakhir rezim Sukarno tidak boleh dibicarakan. Ditutup-tutupi. Jadi terkait Peristiwa Madiun, juga terjadi goncangan atas kekejaman pihak komunis. Saya juga takut. Banyak orang merasa terancam," imbuh dia.

Hingga pada akhirnya, G30S menjadi pemicu warga Indonesia melawan ideologi komunis, yang saat itu menjadi salah satu gerakan politik paling berpengaruh di abad ke-20.

ini, Romo Magnis mengatakan, membicarakan dan menguak tabir masa lalu yang kelam itu bukan tabu lagi.

"Jadi memang dulu ada suasana yang, katakan saja, polarisasi kuat di masyarakat. Lalu dengan Gerakan 30 September sepertinya pecah. Ya saya kira sudah waktunya tidak takut mengangkat kembali apa yang terjadi waktu itu," pungkas Romo Magnis.

Loading