Liputan6.com, Semarang: Suara tembakan terdengar beruntun di lantai dua Markas Kepolisian Wilayah Kota Besar Semarang, Jawa Tengah, pertengahan bulan ini. Tak lama kemudian, sejumlah anggota Gegana bersenjata laras panjang menyerbu masuk ke tempat asal suara tembakan. Dor! Suara letusan kembali terdengar di markas polisi ini.
Wakapolwiltabes Semarang Ajun Komisaris Besar Polisi Liliek Purwanto meninggal. Begitu obrolan yang belakangan menyeruak di Semarang. Pelakunya, Brigadir Polisi Satu Martinus Hance Kristianto yang tak lain adalah bawahan Liliek. Hance juga tewas.
Menurut beberapa saksi mata, Rabu kelabu itu berawal usai apel pagi. Saat itu Hance baru saja mendapatkan surat mutasi ke Kepolisian Resor Kendal dari Kepala Unit Pelayanan Pengaduan dan Penegakan Disiplin (P3D) Ajun Inspektur Polisi Satu Titik Sumartini.
Rupanya Hance tak terima dimutasi. Dia kemudian menyandera Titik sambil menuju ruangan Liliek. Beberapa waktu kemudian terdengar beberapa tembakan di ruangan tersebut. Liliek ditemukan terkapar bersimbah darah. "Dari depan tiga (tembakan), dari belakang tiga. Jadi enam," kata Kepala Kepolisian Daerah Jateng Inspektur Jenderal Polisi Dody Sumantiawan.
Saat kejadian, Hance sudah dibujuk untuk menyerah. Alih-alih memberikan senjata yang digenggamnya, Hance memuntahkan peluru ke arah atasannya. Tim Gegana dibantu Unit Resmob yang sudah di tempat kejadian akhirnya menyerbu masuk. Hance tewas. "Hanya satu (tembakan) tembus ke belakang," tambah Kapolda Jateng.
Kedua polisi yang sudah tak bernyawa itu dikirim ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk diotopsi. Hasilnya, di tubuh Liliek memang ditemukan enam peluru. Sementara Hance meninggal diterjang sebutir peluru yang dilepaskan tim Gegana.
Jasad Liliek dimakamkan di TPU Borgota sore harinya. Pemakaman Liliek dilaksanakan dalam upacara resmi kepolisian dengan dipimpin Kapolwiltabes Semarang Kombes Guritno Sigit. Kapolda Jateng Dody Sumantiawan tak hadir dalam upacara ini dan hanya melepas jenazah dari rumah duka.
Liliek menjabat sebagai Kapolres di Klaten sebelum menjadi Wakapolwiltabes Semarang. Pada 27 Februari silam, almarhum memberi keterangan kepada sejumlah wartawan dalam pengungkapan kasus perampokan. Saat itu ia baru empat bulan menjabat sebagai Wakapolwiltabes Semarang [baca: Rekonstruksi Pembunuhan Wakapolwiltabes Semarang].
Suasana berbeda terdapat dalam pemakaman Hance. Tak ada karangan bunga duka cita dalam pemakaman yang digelar di Taman Pemakaman Kedung Munggu, Semarang. Tak ada juga penghormatan pemakaman resmi secara kepolisian. Bahkan polisi yang terlihat hanya bertugas mengendalikan massa yang penasaran dengan kejadian ini.
Hance telah dimakamkan. Pun demikian dengan Liliek. Namun untuk memastikan latar belakang peristiwa itu, Unit Bunuh Culik Poltabes Semarang terus bekerja. Di antaranya dengan memeriksa delapan saksi. Mereka adalah Kepala Unit P3D AKP Kusriyanto, staf Binamitra AKP Indratiningsih, dua pegawai Polwil Semarang dan beberapa anggota provos.
Selain para saksi yang diperiksa, sebenarnya ada satu lagi saksi kunci. Dia adalah Titik Sumantini yang disandera pelaku saat kejadian. Namun perempuan ini belum bisa dimintai katerangan karena depresi berat sehingga harus dirawat intensif di RS Bhayangkara Semarang. Titik sempat tak bisa mengenali anak kandungnya sendiri akibat shock dengan peristiwa ini.
Ada satu hal menarik dalam kasus ini. Yakni senjata api yang dibawa Hance ke ruangan Liliek. Dalam prosedur protokoler kepolisian, seorang polisi tak boleh membawa senjata api saat menghadap atasan. "Ada kalanya di beberapa tempat rahasia, handphone, kamera itu dimatikan," ungkap Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Polisi Sisno Adiwinoto.
Kasus yang terjadi di Semarang ini seakan menambah panjang catatan buruk di tubuh intitusi kepolisian. Pada 27 April 2005, anggota Polres Jombang, Jatim Inspektur Satu Polisi Sugeng menembak atasannya, Kepala Samapta Polres Jombang Ajun Komisaris Polisi Ibrahim Gani. Setelah menembak, pelaku menembak kepalanya. Belakangan diketahui, mantan Kepala Unit Kecelakaan Polres Jombang ini sempat dinonaktifkan karena depresi.
Setahun berselang, tepatnya 28 Juli 2006, Briptu Martolawani ditembak mati oleh atasannya, Kapolsek Telaga, Gorontalo Iptu Koko Arianto Wardani. Dari hasil pemeriksaan pelaku dan para saksi, diduga tindakan itu dilakukan secara sengaja.
Pada 13 November 2006, anggota Polsek Sayung, Demak I Gede Mustika ditembak rekannya Bripka Nugroho pada sebuah acara. Pelaku yang sedang mabuk sebenarnya bermaksud melerai dua pemuda yang berkelahi. Namun peluru dari pistolnya ini justru menembak korban.
Sebelum kejadian di Semarang yakni pada 12 Maret silam, anggota Satuan Reserse Narkoba Polda Jawa Barat Brigadir Polisi Sopian meninggal. Korban tewas setelah pistolnya memuntahkan peluru yang menembus leher. Menurut saksi, peristiwa terjadi di ruang kerja Sopian. Saat ia sedang sibuk, tiba-tiba pistol yang berada di pinggangnya turun dan hampir jatuh. Pistol ini meletus dan menewaskan Sopian yang memperbaiki posisi pistolnya.
Masih di bulan ini atau 8 Maret 2007, Briptu Rifai yang tak lain anggota Polres Bangkalan, Madura ditemukan tewas. Dia bunuh diri setelah menembak mati istri, ibu mertua, dan dua pria di ruang tamu rumahnya. Kejadian ini diduga karena istri Rifai berselingkuh dengan teman sekantornya di Dinas Pendapatan Daerah Bangkalan bernama Satrio yang juga menjadi korban penembakan Briptu Rifai.
Menurut psikolog Sarlito Wirawan yang juga penasihat ahli Kapolri Bidang Psikologi, rangkaian peristiwa di atas diharapkan menjadi cermin diri bagi polisi untuk berintrospeksi. Di antaranya dengan membenahi dan menegaskan bahwa polisi harus memenuhi sejumlah persyaratan untuk memegang senjata api. Selain bidang tugas yang disandang, yang lebih penting lagi adalah kepribadian polisi. "Polisi juga manusia," kata Sarlito.(YAN/Tim Derap Hukum SCTV)
Wakapolwiltabes Semarang Ajun Komisaris Besar Polisi Liliek Purwanto meninggal. Begitu obrolan yang belakangan menyeruak di Semarang. Pelakunya, Brigadir Polisi Satu Martinus Hance Kristianto yang tak lain adalah bawahan Liliek. Hance juga tewas.
Menurut beberapa saksi mata, Rabu kelabu itu berawal usai apel pagi. Saat itu Hance baru saja mendapatkan surat mutasi ke Kepolisian Resor Kendal dari Kepala Unit Pelayanan Pengaduan dan Penegakan Disiplin (P3D) Ajun Inspektur Polisi Satu Titik Sumartini.
Rupanya Hance tak terima dimutasi. Dia kemudian menyandera Titik sambil menuju ruangan Liliek. Beberapa waktu kemudian terdengar beberapa tembakan di ruangan tersebut. Liliek ditemukan terkapar bersimbah darah. "Dari depan tiga (tembakan), dari belakang tiga. Jadi enam," kata Kepala Kepolisian Daerah Jateng Inspektur Jenderal Polisi Dody Sumantiawan.
Saat kejadian, Hance sudah dibujuk untuk menyerah. Alih-alih memberikan senjata yang digenggamnya, Hance memuntahkan peluru ke arah atasannya. Tim Gegana dibantu Unit Resmob yang sudah di tempat kejadian akhirnya menyerbu masuk. Hance tewas. "Hanya satu (tembakan) tembus ke belakang," tambah Kapolda Jateng.
Kedua polisi yang sudah tak bernyawa itu dikirim ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk diotopsi. Hasilnya, di tubuh Liliek memang ditemukan enam peluru. Sementara Hance meninggal diterjang sebutir peluru yang dilepaskan tim Gegana.
Jasad Liliek dimakamkan di TPU Borgota sore harinya. Pemakaman Liliek dilaksanakan dalam upacara resmi kepolisian dengan dipimpin Kapolwiltabes Semarang Kombes Guritno Sigit. Kapolda Jateng Dody Sumantiawan tak hadir dalam upacara ini dan hanya melepas jenazah dari rumah duka.
Liliek menjabat sebagai Kapolres di Klaten sebelum menjadi Wakapolwiltabes Semarang. Pada 27 Februari silam, almarhum memberi keterangan kepada sejumlah wartawan dalam pengungkapan kasus perampokan. Saat itu ia baru empat bulan menjabat sebagai Wakapolwiltabes Semarang [baca: Rekonstruksi Pembunuhan Wakapolwiltabes Semarang].
Suasana berbeda terdapat dalam pemakaman Hance. Tak ada karangan bunga duka cita dalam pemakaman yang digelar di Taman Pemakaman Kedung Munggu, Semarang. Tak ada juga penghormatan pemakaman resmi secara kepolisian. Bahkan polisi yang terlihat hanya bertugas mengendalikan massa yang penasaran dengan kejadian ini.
Hance telah dimakamkan. Pun demikian dengan Liliek. Namun untuk memastikan latar belakang peristiwa itu, Unit Bunuh Culik Poltabes Semarang terus bekerja. Di antaranya dengan memeriksa delapan saksi. Mereka adalah Kepala Unit P3D AKP Kusriyanto, staf Binamitra AKP Indratiningsih, dua pegawai Polwil Semarang dan beberapa anggota provos.
Selain para saksi yang diperiksa, sebenarnya ada satu lagi saksi kunci. Dia adalah Titik Sumantini yang disandera pelaku saat kejadian. Namun perempuan ini belum bisa dimintai katerangan karena depresi berat sehingga harus dirawat intensif di RS Bhayangkara Semarang. Titik sempat tak bisa mengenali anak kandungnya sendiri akibat shock dengan peristiwa ini.
Ada satu hal menarik dalam kasus ini. Yakni senjata api yang dibawa Hance ke ruangan Liliek. Dalam prosedur protokoler kepolisian, seorang polisi tak boleh membawa senjata api saat menghadap atasan. "Ada kalanya di beberapa tempat rahasia, handphone, kamera itu dimatikan," ungkap Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Polisi Sisno Adiwinoto.
Kasus yang terjadi di Semarang ini seakan menambah panjang catatan buruk di tubuh intitusi kepolisian. Pada 27 April 2005, anggota Polres Jombang, Jatim Inspektur Satu Polisi Sugeng menembak atasannya, Kepala Samapta Polres Jombang Ajun Komisaris Polisi Ibrahim Gani. Setelah menembak, pelaku menembak kepalanya. Belakangan diketahui, mantan Kepala Unit Kecelakaan Polres Jombang ini sempat dinonaktifkan karena depresi.
Setahun berselang, tepatnya 28 Juli 2006, Briptu Martolawani ditembak mati oleh atasannya, Kapolsek Telaga, Gorontalo Iptu Koko Arianto Wardani. Dari hasil pemeriksaan pelaku dan para saksi, diduga tindakan itu dilakukan secara sengaja.
Pada 13 November 2006, anggota Polsek Sayung, Demak I Gede Mustika ditembak rekannya Bripka Nugroho pada sebuah acara. Pelaku yang sedang mabuk sebenarnya bermaksud melerai dua pemuda yang berkelahi. Namun peluru dari pistolnya ini justru menembak korban.
Sebelum kejadian di Semarang yakni pada 12 Maret silam, anggota Satuan Reserse Narkoba Polda Jawa Barat Brigadir Polisi Sopian meninggal. Korban tewas setelah pistolnya memuntahkan peluru yang menembus leher. Menurut saksi, peristiwa terjadi di ruang kerja Sopian. Saat ia sedang sibuk, tiba-tiba pistol yang berada di pinggangnya turun dan hampir jatuh. Pistol ini meletus dan menewaskan Sopian yang memperbaiki posisi pistolnya.
Masih di bulan ini atau 8 Maret 2007, Briptu Rifai yang tak lain anggota Polres Bangkalan, Madura ditemukan tewas. Dia bunuh diri setelah menembak mati istri, ibu mertua, dan dua pria di ruang tamu rumahnya. Kejadian ini diduga karena istri Rifai berselingkuh dengan teman sekantornya di Dinas Pendapatan Daerah Bangkalan bernama Satrio yang juga menjadi korban penembakan Briptu Rifai.
Menurut psikolog Sarlito Wirawan yang juga penasihat ahli Kapolri Bidang Psikologi, rangkaian peristiwa di atas diharapkan menjadi cermin diri bagi polisi untuk berintrospeksi. Di antaranya dengan membenahi dan menegaskan bahwa polisi harus memenuhi sejumlah persyaratan untuk memegang senjata api. Selain bidang tugas yang disandang, yang lebih penting lagi adalah kepribadian polisi. "Polisi juga manusia," kata Sarlito.(YAN/Tim Derap Hukum SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968655/original/065769700_1647752951-presiden_ukraina_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472796/original/057767300_1782376694-cek_fakta_BPS.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/475037/original/160307derap.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259732/original/038298000_1781511216-000_B7396ZD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263772/original/067560900_1782010379-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258990/original/029859700_1781430570-AP26154680263164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260144/original/013036700_1781578034-AP26166147695589.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8362045/original/070572100_1782237587-AP26174619862047.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8385152/original/045727200_1782264420-panama.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378005/original/081695500_1782256125-ghana.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264303/original/054619900_1782106281-AP26172737361128.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264253/original/054046300_1782102358-uruguay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8456333/original/005196400_1782354547-063_2282682114.jpg)