Tren Kencan Toxic untuk Bikin Putus Cinta Lebih Mudah, Kok Bisa?

Banyak pihak mempertanyakan etika dan dampak psikologis dari praktik kencan toxic tersebut.

Diterbitkan 11 September 2025, 02:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dunia kencan modern tidak henti memunculkan berbagai fenomena baru, salah satunya adalah tren kontroversial yang dikenal dengan sebutan, "Date Them 'Til You Hate Them." Tren ini jadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial, khususnya TikTok, karena pendekatannya yang tidak konvensional dalam mengakhiri sebuah hubungan.

Melansir NY Post, Selasa, 9 September 2025, tren kencan "Date Them 'Til You Hate Them" ini menarik perhatian publik karena menawarkan cara yang diklaim lebih mudah untuk putus dari pasangan. Alih-alih menghadapi percakapan sulit atau perasaan tidak nyaman, fenomena ini mendorong individu tetap bertahan dalam hubungan yang sudah tidak diinginkan hingga perasaan benci terhadap pasangan menumpuk.

Dipopulerkan kreator TikTok bernama Meg Neil, tren ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kritik. Banyak pihak mempertanyakan etika dan dampak psikologis dari praktik kencan toxic tersebut.

Mengenal 'Date Them 'Til You Hate Them'

"Date Them 'Til You Hate Them" adalah sebuah konsep kencan di mana seseorang secara sadar memilih untuk tetap berada dalam sebuah hubungan yang sudah tidak sehat. Tujuannya adalah menunggu hingga perasaan negatif, seperti kebencian, terhadap pasangan mencapai puncaknya.

Praktik ini dilakukan dengan harapan bahwa akumulasi emosi negatif tersebut akan mempermudah proses putus cinta. Dengan adanya perasaan benci yang mendalam, individu merasa lebih mudah mengakhiri hubungan tanpa perlu merasa bersalah atau menghadapi konfrontasi emosional yang intens.

Definisi ini menyoroti bahwa tren ini bukan tentang memperbaiki hubungan, melainkan mencari jalan keluar yang dianggap lebih "mudah" bagi pihak yang ingin mengakhiri. Ini menunjukkan pergeseran fokus dari komunikasi dan penyelesaian masalah jadi penghindaran konflik langsung.

Asal Mula dan Popularitas di TikTok

Neil, yang mempopulerkan frasa "Date Them 'Til You Hate Them," membagikan pengalaman pribadinya di TikTok, menjelaskan bagaimana ia mengakhiri hubungan empat tahunnya dengan menerapkan metode ini.

Dalam ceritanya, TikToker itu mengungkap bahwa ia secara emosional menarik diri dari hubungannya dan menunggu hingga rasa benci terhadap pasangannya menumpuk. Pengalamannya ini kemudian jadi viral, memicu diskusi luas di kalangan pengguna TikTok dan melahirkan tren kencan baru yang kontroversial.

Popularitas tren ini di TikTok menunjukkan bagaimana platform media sosial dapat dengan cepat menyebarkan ide dan perilaku, bahkan yang bersifat toksik sekalipun. Banyak pengguna lain mulai membagikan pengalaman serupa atau memberi pandangan mereka tentang fenomena ini, baik yang mendukung maupun yang mengkritik.

Menuai Kritik

Kritik utama muncul karena tren ini mendorong individu menghindari komunikasi terbuka dan jujur dalam hubungan. Alih-alih mencari solusi, berkomunikasi tentang masalah, bahkan berani mengakhiri hubungan jika memang sudah tidak bisa dipertahankan, tren ini justru menyarankan bertahan dalam kondisi yang tidak nyaman.

Hal ini dapat menyebabkan penderitaan bagi kedua belah pihak, terutama untuk pasangan yang tidak menyadari bahwa hubungan mereka sedang "diuji" hingga timbul kebencian.

Para ahli hubungan dan psikolog menyoroti bahwa praktik semacam ini dapat merusak kepercayaan, menciptakan luka emosional yang mendalam, dan membentuk pola perilaku tidak sehat dalam hubungan di masa depan. Ini adalah cara yang merugikan untuk mengakhiri hubungan, yang pada akhirnya dapat lebih menyakitkan daripada percakapan sulit yang ingin dihindari.