Sukses

Restoran di AS Buat Acara Terinspirasi Lagu Galau Taylor Swift untuk Orang Anti-Valentine's Day

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah restoran di AS membuat acara spesial bertajuk "Bad Blood," yang terinspirasi lagu hits Taylor Swift, untuk mereka yang anti-Valentine's Day. Acara berkonsep pop-up itu digelar untuk menghormati penyanyi asal Amerika Serikat (AS) tersebut.

Restoran bernama Electric Garden ini berlokasi di wilayah West Loop Chicago, AS. Koki eksekutif dan manajer umum program "Bad Blood," Alex Vazquez, mengatakan bahwa Swift adalah pilihan sempurna untuk konsep yang ditujukan pada orang-orang anti-Hari Valentine karena sejarah panjang lagu perpisahan dan drama percintaan pribadinya.

"Apa yangdia nyanyikan, patah hati dalam musiknya, itulah yang kami cari untuk sejenak menjauh dari pop-up asmara dan romansa yang khas," katanya pada Variety, dikutip Selasa (24/1/2023). 

Tak hanya untuk nama acara, restoran juga akan menyajikan koktail dan makanan yang bersumber dari lagu Swift. "Brunch akan menyajikan sosis, biskuit dan saus, serta roti panggang Prancis Fruity Pebbles," kata Vazquez. 

Swift juga akan menginspirasi orang anti-valentine dengan minuman yang disajikan di restoran. Restoran akan memakai nama minuman dari judul lagu, seperti "Lavender Haze" yang merupakan salah satusingle hit Swift tahun lalu. Menu itu dibuat dari gin dan lavender pahit.

Semua minuman akan disajikan dalam warna gelap, seperti merah dan biru tua, untuk memberikan visual pada lagu-lagu sedih penyanyi berusia 33 tahun tersebut. Ada dalam daftar juga, yakni minuman Taylor's Fave, perpaduan rum dan soda yang kabarnya merupakan pilihan Taylor Swift saat bermalam di kota tersebut.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Didedikasikan untuk Mantan Pacar

Sementara itu, minuman Fave Harry akan didedikasikan untuk mantan Taylor Swift, yaitu Harry Styles. "Semua orang pernah mengalami putus cinta, jadi ia mudah 'bergaul' dengan semua orang," kata salah satu pemilik bar itu, Chris Johnston.

"Dia adalah seseorang yang menginspirasi banyak orang. Jadi, mengapa kita tidak ingin jadi bagian dari itu juga?" tambahnya.  

Selain makanan dan minuman, "Bad Blood" juga akan disalurkan dalam desain interior. Ruangan restoran akan dihias dengan potongan gambar Swift seukuran asli dan sampul albumnya.

Pembaca kartu tarot tersedia untuk memprediksi arah kehidupan cinta di sudut bar dan akan ada karaoke yang menampilkan lagu-lagu dari lirik lagu Swift yang dalam. Konsep pop-up telah jadi tren yang lebih besar di industri perhotelan yang didorong persaingan ketat pasca-COVID di kota-kota besar seperti Chicago, New York City, dan Los Angeles.

"Ada ribuan bar di kota ini, semua orang berusaha memperebutkan ceruk yang sama," kata Johnston. "Di dunia ketika semua orang mencari kepuasan instan, Anda harus menarik perhatian orang dengan cara yang berbeda dan baru."

"Bad Blood" adalah acara bertiket yang membutuhkan pembelian di awal. Setiap tiket seharga 22 dolar AS atau setara Rp330 ribu mencakup slot waktu 90 menit. Ini akan berlangsung hingga 26 Februari 2023 dengan kemungkinan diperpanjang.

3 dari 4 halaman

Punya Gangguan Makan

Sementara itu, baru-baru ini penyanyi Lady Gaga memberikan pujian untuk Taylor Swift atas keberaniannya bicara mengenai gangguan makan yang sempat disampaikannya lewat film dokumenter Netflix, Miss Americana

"Itu benar-benar sangat berani, semua yang kau katakan 'wow'," ungkap Gaga di kolom komentar TikTok yang menampilkan cuplikasi video yang dimaksud.

Di video tersebut, Swift direkam secara diam-diam saat mengaku secara 'bertahap' mengalami gangguan makan setelah mencapai ketenaran di usia muda. "Saya lebih bahagia dengan diri saya yang sekarang... Saya tak peduli bila seseorang menyebut berat badan saya naik. Hal itu sesuatu yang membuat hidup saya lebih baik," ungkap pencipta lagu I Knew You Were Trouble tersebut.

Dikutip dari Page Six, Swift ikut mengungkap bahwa ia sempat 'tak makan' dan 'banyak berolahraga' agar bisa memenuhi standar kecantikan ideal, yang belakangan disadarinya 'tak mungkin.' "Selalu ada sejumlah standar kecantikan yang Anda tak bisa penuhi. Sebab, bila Anda cukup kurus, artinya Anda tidak akan punya bokong yang semua orang mau," ujar Swift lagi.

4 dari 4 halaman

Tak Harus Sempurna

Di lain sisi, Lady Gaga juga sempat mengalami masalah serupa, yakni mengidap bulimia dan anoreksia. Pada 2012, penyanyi Born This Way itu berbicara di konferensi It's Our Turn dan membagi ceritanya usai seorang gadis muda mengungkap bahwa ia pun mengalami masalah gangguan makan.

"Saya pernah memuntahkan semuanya (makanan dan minuman) sepanjang waktu di SMA," ucap Gaga. "Itu terlalu sulit, namun Anda harus berbicara dengan seseorang mengenai hal itu."

Ia pun menyebut bahwa menjaga berat badan ideal tetaplah sebuah perjuangan. Dia mengingatkan bahwa ada orang lain yang akan menyunting gambar, membuatnya nampak sempurna, di setiap foto maupun video yang menampilkan dirinya.

"Itu bukan hidup yang nyata. Saya akan katakan ini tentang anak-anak muda, 'Perang diet harus dihentikan. Semua orang hanya menjatuhkannya. Sebab pada akhirnya, itu memengaruhi anak-anak seusia Anda, dan itu membuat para gadis sakit," ucapnya.

Adapun dokumenter Taylor Swift diputar perdana di Sundance Film Festival pada Januari 2020 lalu. Dikutip dari Variety, satu cuplikan video menyoroti komentar negatif mengenai tubuh Swift.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS