Sukses

6 Oleh-Oleh Kuliner Legendaris Khas Madiun yang Sayang untuk Dilewatkan

Liputan6.com, Jakarta - Berbicara tentang oleh-oleh Madiun, pelancong bisa mendapatkannya dalam kategori kuliner legendaris. Karena sudah lama eksis, cita rasanya tidak perlu diragukan lagi.

Tidak sedikit pusat oleh-oleh yang menjual deretan kuliner ini di seantero Mandiun. Apa saja pilihannya? Berikut enam di antaranya seperti dihimpun dari berbagai sumber, Sabtu, 7 Mei 2022.

Sambal pecel

Sambal pecel jadi salah satu perwakilan kuliner legendaris asal Madiun. Bahkan, kota itu dijuluki surganya sambal pecel. Olahan dari resep turun-temurun itu memang cukup mudah dan sering ditemukan di kota Madiun.

Biasanya, warga lokal menikmatinya dengan campuran sayur, seperti kecambah, kacang hijau, dan kangkung. Hidangan ini kian nikmat disajikan bersama nasi putih hangat.

Bahan dasar sambal pecel adalah kacang tanah, cabai, daun jeruk, dan bumbu rempah. Rasanya pun didominasi gurih, sedikit manis, dan pedas. Para pelancong bisa membelinya di semua pusat oleh-oleh dengan harga yang terjangkau.

Brem

Makanan satu ini terbilang populer. Karena itu, jika mendengar kata Madiun, sebagian orang mungkin langsung terpikir jajanan brem.

Brem terbuat dari sari ketan yang sudah difermentasi. Bahan itu dibentuk kotak pipih. Camilan ini umumnya berwarna putih maupun sedikit kuning yang nantinya dikemas dalam satu kotak plastik.

Setiap digigit, teksturnya akan terasa melebur dalam mulut. Para pelancong bisa menikmati rasa manis yang khas saat mencicipi brem.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Madumongso

Makanan yang cocok dijadikan oleh-oleh khas Madiun selanjutnya adalah Madumongso. Teksturnya yang lengket dan lembek siap membuat ketagihan. Oleh-oleh satu ini pun kerap diburu karena terbilang awet.

Bahan utamanya berasal dari ketan hitam yang difermentasi sampai berubah jadi tapai. Selanjutnya, itu dimasak bersama campuran gula dan santan yang terus-menerus diaduk sampai teksturnya menyerupai dodol.

Makanan ini dikemas dalam plastik warna-warni maupun bening yang praktis dibawa ke mana-mana.

Bluder Cokro

Kue Bluder sudah terkenal sejak tahun 1889 oleh Nyonya Susana. Awalnya, kue itu dibuat menggunakan resep orang Belanda. Kemudian, bluder mengalami perubahan agar pas di lidah sekaligus digabungkan dengan cita rasa khas jajanan Indonesia.

Saat ini, blunder cokro sudah mempunyai banyak varian rasa, mulai dari isi kismis, fruty tam, smoked beef, hingga yang lebih kekinian, seperti nutella. Banyak yang menyukai kue blunder karena memiliki cita rasa manis dan teksturnya sangat lembut.

Oleh-oleh khas Madiun ini hanya mampu bertahan sekitar enam hari saja. Para pelancong bisa menemuinya di daerah Hayam Wuruk, Madiun yang letaknya dekat dengan kawasan wisata.

 

 

3 dari 4 halaman

Lempeng Puli

Camilan satu ini memiliki tekstur dan bentuk menyerupai keripik. Lempeng puli sering dimakan sebagai pendamping makanan harian di Madiun.

Biasanya, warga setempat menyantap lempeng puli dengan sayur lodeh dan tempe goreng. Sesuai dugaan Anda, camilan ini bertekstur renyah.

Lempeng Puli sendiri terbuat dari nasi yang digepengkan dan dijemur sampai kering. Selanjutnya, bahan itu digoreng hingga kerupuk memiliki warna kekuning-kuningan. Jika sudah tidak berminyak, lempeng puli akan dimasukkan ke dalam plastik dan siap dipasarkan.

 

4 dari 4 halaman

Kue Semprong

Makanan ringan ini cocok dibawa pulang sebagai buah tangan selepas liburan di Madiun. Kue semprong memiliki tekstur sangat renyah, namun dalam tingkat berbeda dengan lempeng puli.

Kue ini terbuat dari campuran tepung tapioka, gula merah, dan kelapa. Campuran bahan itu diolah jadi adonan, kemudian dibentuk jadi egg roll sebelum digoreng dalam wajan cukup besar.

Para penjual akan mengemas camilan ini dengan plastik yang cukup tebal karena tekstur kuenya sangat tipis. Itu mengapa para pelancong harus berhati-hati ketika membawa kue semprong agar tidak hancur. (Natalia Adinda)