Sukses

Wujud Sandal Jepit Minim Bahan Plastik, Nyaman dan Ramah Lingkungan

Liputan6.com, Jakarta - Nyaman, ringan, dan murah mungkin saja menjadi faktor utama bagi banyak orang untuk memilih sandal jepit sebagai alas kaki favorit. Tapi, apa yang terjadi setelah sandal jepit tak lagi terpakai?

Sebuah riset yang dikerjakan tim peneliti dari University of California pada 2017, menyebutkan, produksi sandal jepit dari berbagai belahan dunia mencapai 3 miliar pasang setiap tahunnya. Benda yang sudah tidak terpakai itu kebanyakan berujung mengotori lautan.

"Faktanya, banyak pencemaran yang ada di lautan adalah sesuatu seperti ini (sampah sandal jepit karet) yang terbawa arus dari sungai dan berakhir di lautan, menjadi bagian dari tumpukan sampah," ungkap Stephen Mayfield, Profesor Biologi dan Direktur Bioteknologi Alga California Center UC San Diego, dikutip dari kanal YouTube UC San Diego.

Berangkat dari temuan itu, mereka kemudian bermitra dengan perusahaan teknologi dan start-up Algenesis Materials untuk membuat sandal jepit yang lebih ramah lingkungan. Perlu waktu bertahun-tahun untuk menciptakan busa poliuretan yang diperoleh dari ekstrak minyak alga.

Busa tersebut dibuat untuk memenuhi spesifikasi sol bagian tengah sepatu dan alas sandal jepit, dikutip dari UCSD News, Jumat, 21 Agustus 2020. Berbeda dengan sandal jepit karet biasa yang umumnya terurai menjadi mikroplastik, sandal jepit alga diklaim bersifat mudah terurai (biodegradable).

"Setelah ratusan formulasi, akhirnya kami mendapatkan satu (formula) yang memenuhi spesifikasi komersial. Busa ini berasal dari 52 persen kandungan hayati – pada akhirnya kita akan mencapai angka 100 persen," tambah Mayfied.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Partisipasi Mahasiswa Asal Indonesia

Proyek penciptaan material ramah lingkungan dari alga dikerjakan oleh tim peneliti lintas bidang. Salah satunya melibatkan mahasiswi pascasarjana Ilmu Fisika asal Indonesia bernama Natasha Gunawan dari laboratorium Profesor Michael Burkart. Sementara, Stephen Mayfields mewakili jurusan Ilmu Biologi, dan Marissa Tessman mewakili Algenesis.

Produk tersebut diharapkan bisa menggantikan produksi sandal karet yang disebut Mayfield sebagai salah satu penyumbang limbah plastik terbesar di lautan. Alas kaki yang dapat didaur ulang sepenuhnya dianggap sebagai langkah penting dalam upaya keberlanjutan.

Pasalnya, dalam laporan yang diterbitkan Ellen MacArthur Foundation pada 2016, populasi sampah plastik di laut diperkirakan akan lebih banyak daripada habitat ikan pada 2050 bila tak ada intervensi signifikan untuk mengatasinya. Hal itu akan sangat berbahaya bagi kelangsungan makhluk hidup di dalam laut karena akan banyak mengonsumsi limbah plastik hingga berujung pada kepunahan.

Kini, produksi sandal jepit berbahan alga sudah dimulai. Pakar dan mitra manufaktur Algenesis juga sedang mengusahakan agar produk ini dapat didistribusikan dengan harga ekonomis. "Orang-orang berdatangan akibat pencemaran lautan oleh plastik dan mulai menuntut produk yang dapat mengatasi bencana lingkungan. Kebetulan, kami berada di tempat dan waktu yang tepat," ucap Tom Cooke, Presiden Algenesis. (Brigitta Valencia Bellion)