Sukses

Destinasi Wisata di China Ditutup Sementara untuk Cegah Penyebaran Virus Corona

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah China  telah menutup beberapa lokasi wisata dan penerbangan akibat adanya virus corona. Tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk pencegahan penularan yang sejauh ini sudah menewaskan 25 orang dan sekitar 800 orang telah terinfeksi.

Pemberhentian sementara semua transportasi dikabarkan telah dimulai sejak Jumat, 23 Januari 2020. Tindakan ini dilakukan di 13 kota di sekitar Wuhan. NBC News melaporkan dengan pemberhentian tersebut, sebanyak 33 juta orang terttahan untuk tidak bepergian.

Selain transportasi, tempat wisata seperti Shanghai Disney Resort  ditutup mulai, Sabtu (25/1/2020) hingga waktu tertentu. Padahal, dalam momen Tahun Baru Imlek, Disney biasanya sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat. Akibat adanya virus corona, pihak Disney akan mengembalikan tiket pada mereka yang sudah memesan tiket masuk jauh-jauh hari.

“Kami akan terus memantau situasi dengan cermat dan terus berkomunikasi dengan pemerintahan setempat,” tulis Disney dalam sebuah pernyataan di situs resminya. “Kami akan mengumumkan tanggal pembukaan kembali setelah ada konfirmasi,”l anjutnya.

Perayaan Tahun Baru Imlek yang biasanya digelar meriah kini mau tidak mau harus dibatalkan. Pameran kuil tradisional hingga penayangan film selama satu minggu penuh yang biasa menarik ribuan pengunjung pun terpaksa ditiadakan.

Penutupan lokasi wisata juga berlaku untuk beberapa bagian The Great Wall dan Beijing’s Forbidden City. Kedua tempat wisata tersebut pun belum mengumumkan kapan akan buka kembali.

2 dari 3 halaman

WHO: Bukan Kasus Kesehatan Darurat Global

Dilansir dari USA Today, Jumat, 24 Januari 2020, virus corona terdeteksi di Chicago. Korban pertama adalah seorang wanita berusia 60 tahun yang kembali dari Wuhan pada 13 Januari 2020, sedangkan korban kedua dilaporkan berada di Washington.

World Health Organization (WHO) memutuskan untuk tidak menyebut wabah virus corona sebagai keadaan darurat secara global. “Jangan salah. Ini darurat di China, tetapi belum menjadi darurat kesehatan global,” kata Direktur Jenderal WHO, dikutip dari Travel+ Leisure, Sabtu (25/01/2020).

Setelah dua warga negaranya terinfeksi, pemerintah Amerika Serikat mengimbau untuk jangan bepergian ke Wuhan demi kesehatan warganya. Virus yang diketahui memiliki gejala demam, batuk, sesak napas tersebut bisa menjadi lebih parah yang bisa mengakibatkan sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan kematian.

Adapun penduduk asli Wuhan wajib mengenakan masker saat hendak keluar dari rumah. Penyakit ini telah mencapai level 2 di Provinsi Hubei, yang menyebabkan penutupan pasar dan hotel. Bahkan, gerai makanan cepat saji, McDonalds pun turut serta menutup lima tokonya di provinsi ini

Sebagai bentuk penanganan terhadap penyakit tersebut, NBC News melaporkan bahwa aka nada rumah sakit baru dengan kapasitas yang bisa menampung 1.000 pasien. Rumah sakit ini diperkirakan akan dibuka di Wuhan pada 3 Februari mendatang. (Tri Ayu Lutfiani)

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Presiden China Xi Jinping Minta Warganya Kembali Bekerja
Artikel Selanjutnya
Rencana Kerja Pemerintah 2021 Pertimbangkan Dampak Corona