Sukses

Memberdayakan Perempuan Lewat Pengolahan Sampah

Liputan6.com, Jakarta - Membuat para perempuan lebih berdaya bisa dilakukan lewat ragam sektor, tak terkecuali pengolahan sampah. Membalikkan citra perempuan sebagai semata pembuang sampah jadi semangat di balik pemberdayaan yang dilakukan komunitas lingkungan, Sarana Olah Sampah (SOS).

Pemberdayaan ini dilakukan lewat bank sampah yang dikelola SOS, di mana para perempuan mengumpulkan dan nantinya mengolah sampah. "Bisa mereka bawa dari rumah sendiri atau kumpulkan dari wilayah sekitar, termasuk sekolah,"  tutur salah satu pengurus SOS Muhliatun di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu, 23 November 2019.

Peran dalam pengolahan sampah disebut Muhliatun sebagai salah satu cara jitu dalam meredam kemungkinan kekerasan menimpa perempuan di rumah tangga karena sektor ekonomi.

"Dari pengolahan sampah, pemilahan sampah, nanti yang dikumpulkan ditimbang, terus ibu-ibu bisa dapat uang. Jadi, punya tabungan sendiri, punya simpanan uang yang sedikit bisa bantu keluarga," paparnya.

Di samping, secara otomatis, upaya pemberdayaan ini membuat para perempuan aktif terlibat dalam pengolahan sampah yang lebih baik. "Mereka jadi punya sesuatu yang lebih dibanggakan ketimbang sehari-hari cuma ngobrol sana-sini," kata Muhliatun.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Ubah Pola Pikir

Perlibatan perempuan dalam pengolahan sampah jadi salah satu strategi SOS untuk mengubah mindset warga sekitar. "Kampung tematik tidak hanya soal penghijauan, tapi juga bagaimana bisa mengolah sampah dengan baik," katanya.

"Kami berangkat dari penanganan sampah organik. pengangkutan sampah, pemilahan sampah, sampai penyuluhan ke sekolah-sekolah. Satu rumah-dua rumah diedukasi bahwa sampah itu bisa jadi uang," sambung Muhliatun.

Selain uang sebagai ganti dari sampah yang diserahkan, SOS memberi reward berbeda bagi anak-anak. "Kalau anak-anak, misal bawa sampah botol pastik, kami ganti pulpen. Kalau uang, nanti dibuat jajan es, akhirnya berujung sampah plastik lagi," tuturnya.

Muhliatun menyambung, pihak SOS siap membantu pihak pemerintah maupun swasta dalam pengolahan sampah dan ragam penanganan terkait isu lingkungan.

"Kayak daur ulang popok bayi yang sudah kami lakukan bersama PT Softex Indonesia," tandasnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS