Sukses

Cerita Akhir Pekan: Suka Duka Seorang Pemandu Wisata

Liputan6.com, Jakarta - Meldi Tamengge sudah 10 tahun bekerja sebagai pemandu wisata. Suka dan duka tentu sudah ia rasakan rentang waktu yang cukup lama itu. Lelaki kelahiran Bitung 34 tahun lalu itu senang berprofesi sebagai pemandu wisata di di Taman Wisata Alam Batuputih yang merupakan bagian dari Cagar Alam Tangkoko di Bitung, Sulawesi Utara.

Selain bisa berinteraksi dengan turis, baik domestik maupun mancanegara, Meldi juga kian mengenal kultur mereka sekaligus mengasah kemampuannya berbahasa Inggris.

"Saya banyak mendapat pengetahuan dari turis-turis yang datang ke sini, termasuk juga saya jadi lebih lancar berbahasa Inggris," kata Meldi saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 16 Agustus 2019.

Bagi Meldi, jadi pemandu wisata bukan hal yang sederhana. Selain menguasai tempatnya secara mendalam, mereka juga harus bisa bahasa asing, minimal bahasa Inggris.

Meldi sempat grogi saat pertama jadi pemandu wisata, terutama kepada turis asing. Karena ia harus menjawab beragam pertanyaan. Tak kalah akal, ia menjelaskan secara berputar-putar. Apa yang ia sudah jelaskan, kemudian ia ulang kembali.

"Tapi sekarang sudah nggak grogi lagi. Saya sudah biasa mendampingi turis asing, baik dari Asia, Eropa, maupun Amerika," kata Meldi.

Selain sebagai pemandu wisata, Meldi juga bekerja di Macaca Nigra Project sebagai peneliti lapangan.  Keberadaan Macaca Nigra Project di antaranya mempelajari tentang biologi dan habitat hewan-hewan, melindungi hewan di alam liar, mempromosikan konservasi melalui kolaborasi dengan otoritas lokal.

"Oleh karena itu, saya paling hanya satu atau dua kali memandu pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri," ucap Meldi.

2 dari 3 halaman

Tur Biasa dan Khusus

Sebagai pemandu wisata, Meldi harus sabar menghadapi berbagai pertanyaan yang diajukan para turis, baik domestik maupun mancanegara. Ia juga harus menjelaskan secara rinci berbagai dari pertanyaan tersebut. Terlepas apakah ia memandu turis yang mengadakan tur biasa atau tur khusus.

"Kalau tur biasa itu, para turis (berkunjung) hanya untuk holiday (liburan) saja. Kalau tur khusus itu mencari objek spesial, seperti birdwatching dan fotografi, juga spesial serangga," tutur lelaki yang masih lajang ini.

"Tur khusus itu fokus pada spesies yang menjadi target dari pengunjung," sambung lelaki yang lebih banyak merasakan suka ketimbang duka saat memandu turis.

Khusus tur khusus, kata Meldi, seorang pemandu wisata lebih kerja keras. Artinya, ia harus punya kecepatan mata dan pendengaran untuk melihat dan mendengarkan objek karena banyak binatang yang berkamuflase.

"Apalagi, di dalam hutan kita lebih sulit melihat objek, selain berkamuflase di dalam huta juga lebih gelap. Contohnya, melihat burung yang ukurannya kecil dan juga reptil serta serangga yang berkamuflase," papar Meldi.

Meldi mencontohkan, cicak terbang yang sempat ia foto. Warna objek itu menyerupai warna tempat atau daerah yang ia hinggapi sehingga sulit untuk dilihat. Oleh karena itu, imbalan yang Meldi terima pun berbeda antara tur biasa dan khusus.

"Kalau tur biasa ratusan (rupiah), sedangkan kalau tur khusus bisa jutaan," ungkap lelaki yang awalnya tak pernah berencana menjadi pemandu wisata.

Di luar penghasilan yang ia terima, satu hal yang membuat Meldi Tamengge bersedih adalah saat melepas para turis pulang ke rumah. Mereka itu biasanya yang mengambil tur panjang atau lama.

"Setiap saat saya bersama mereka, baik pagi, siang, malam. Saya sedih saat melepas mereka pulang, karena sudah seperti keluarga," tandas Meldi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: Potensi dan Perkembangan Wisata di 5 Bali Baru
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: Mengulik Fenomena Bule-sentris di Bali