Sukses

Awal Mula Arak-arakan Ogoh-Ogoh Jelang Hari Raya Nyepi

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat Hindu di Tanah Air akan merayakan Hari Raya Nyepi pada Rabu, 7 Maret 2019. Berbagai upacara digelar untuk menyambutnya, termasuk mengarak ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh berbentuk boneka raksasa yang menakutkan merupakan manifestasi dari Bhutakala. Dalam ajaran Hindhu Dharma, Bhutakala merupakan kekuatan Bhu (alam semesta) dan Kala (waktu) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di mayapada, surga, dan neraka, seperti: naga, gajah, garuda, widyadari, bahkan dewa.

Biasanya ogoh-ogoh dibuat dari styrofoam, bambu, koran bekas, kain, cat, kawat besi, kayu, dan lainnya. Ogoh-ogoh kemudian diarak keliling kota dan desa pada perayaan Nyepi.

Sejak abad ke-7, ogoh-ogoh selalu ada setiap upacara dan menjadi salah satu bagian upacara adat dan hiburan yang sangat penting dan menarik dalam tradisi umat Hindu di Bali. Awalnya, Ogoh-ogoh hanya dipajang di pura atau tempat upacara keagamaan. Hal tersebut berbeda dengan saat ini, ogoh-ogoh diarak keliling kota, bahkan dilombakan.

Menurut Andy Putra Hartanto, Bedjo Riyanto, dan Elisabeth Christine Yuwono dalam Perancangan Buku Foto Tradisi Kesenian Ogoh-Ogoh di Pulau Dewata, desain Ogoh-ogoh yang semula mengikuti gaya tradisional yang mengambil wujud raksasa, kini sebagian mulai dibuat dengan menerapkan gaya desain yang lebih kontemporer.

Sebagai contoh, ogoh-ogoh yang dibuat menyerupai karakter kartun televisi, atau menyerupai tokoh-tokoh terkenal, atau dengan menggabungkan antara kedua gaya tersebut. Misalnya, membuat ogoh-ogoh dengan karakter Celuluk (salah satu tokoh jahat dalam kepercayaan Hindu Dharma) yang sedang menaiki sebuah motor sport modern.

Dari penelusuran Liputan6.com, sejak 1960-an, Ogoh-ogoh mulai diarak keliling kota dan Denpasar merupakan kota dimulainya parade ogoh-ogoh secara besar-besaran. Dari sana kemudian disusul di daerah lain, seperti Gianyar, Badung, Tabanan, Buleleng, Karangasem, Bangli, Klungkung, Jembaran.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Mick, Si Kelinci Usia 16 Tahun Tertua di Dunia
Loading
Artikel Selanjutnya
Beragam Aktivitas yang Dapat Dilakukan di Hotel Bali Saat Hari Raya Nyepi
Artikel Selanjutnya
Doa dan Harapan Umat Hindu dalam Ritual Melasti di Pantai Paseban Jember