Sukses

Saat Seniman dan Budayawan Adu Tangkas Masak Nasi Goreng

Liputan6.com, Jakarta
Memasak nasi goreng biasa dilakukan masyarakat, namun bagaimana jika yang masak para seniman dan budayawan dalam balutan lomba. Justru yang terlihat bukanlah kompetisi dengan peserta lain. Seniman dan budayawan ini justru saling mencicipi masakannya sebelum dipajang untuk dinilai juri.
 
"Coba dulu enak gak? Wes enak yakin. Ok siap tak pamerke," kata seniman Yogya, Bambang Gundul, Senin (15/1/2018).
Setelah nasi goreng yang dibuat para seniman dipastikan enak maka nasi goreng itu di hias secantik mungkin ala mereka. Ada yang menghias nasi gorengnya dengan bunga Jombrang pakai pelepah pisang hingga pakai daun pisang. 
 
"Dihias pakai bunga jombrang. Ini beda dengan lain ya kan biasanya cuma telor,kita pakai bunga jombrang namanya nasi goreng honje (bunga jombrang)," ujar Yani seniman kethoprak.
 
Tidak hanya cara menghiasnya tapi para seniman ini juga kreatif menamai nasi goreng buatannya. Karena seniman jadi mereka menamai dengan berbagai nama nyeleneh seperti nasi goreng anti penindasan, nasi goreng shaggydog, nasi goreng sastra radikal, Nasi goreng iseh epbak jamanku to hingga nasi goreng Out of Debog (pelepah pisang). Tidak hanya itu pemanang lomba juga diberi gelar seperti  juara nasi goreng asas tunggal.
 
"Wah kalo namanya nasi goreng shaggydog, gamikir menang  tapi yang jelas kita disini kumpul sesama seniman seneng-seneng," katanya.
 
Dibyo seniman Yogya lainnya mengatakan jika mengikuti lomba ini tidak menyiapkan sesuatunya dengan baik. Namun ia memiliki ide unik dalam penyajiannya dengan menggunakan debog pisang yang sudah di modifikasi. 
 
"Saya bayangkan pakai piring itu biasa makanya saya pakai debog saja. Makanya namanya Out of Debog," katanya.
 
Seniman lainnya Bayu Saptama  yang mendapatkan juara nasi goreng kambing hitam juga berkelakar. Bahwa nasi goreng buatannya dapat menang karena bumbu rahasia. 
 
"Pokoknya nasi goreng tak kasih bumbu rahasia pokoknya. Rahasia," kekehnya. 
 
 
 
1 dari 3 halaman

58 Orang Peserta

Lomba masak nasi goreng ini diikuti 58 seniman dan budayawan Yogyakarta meperingati kejadian mencekam MALARI pada 15 Januari 1974 yang menolak modal asing waktu itu. Para seniman dan budayawan Yogyakarta memperingati Malari itu dengan Malari, Lomba Masak Lima Belas Januari Seniman & Budayawan Yogyakarta di XT Square.
 
"Ada 58 orang seniman budayawan memperingati Malari. Orang Jogja itu suka dengan plesetan dan jenaka ini cara berbeda," ujar Widihasto Wasana Putra  Ketua Panitia Malari.
 
2 dari 3 halaman

Nama-Nama yang Unik

Hasto mengatakan pemenang lomba menyandang nama-nama nasi goreng dengan rasa politik seperti Nasgor Lengser Keprabon, Nasgor Aman Terkendali, Nasgor Isih Penak Zamanku Tho, Nasgor Subversif, Nasgor Salah Prosedur, Nasgor Kambing Hitam, Nasgor Nepotisme dan lain sebagainya. Pemilihan nama-nama nasi goreng rasa politik sebagai upaya mengajak masyarakat merefleksikan situasi politik secara jenaka.
 
"Saat ini masih terjajah secara ekonomi memasak ini ekspresi politik dan jadi refleksi situasi demokrasi yang telah melalui horor politik," ujarnya.
 
Hasto mengatakan pemenang masing-masing membawa pulang uang tunai sebesar 500 ribu rupiah dalam bentuk uang receh seribuan rupiah dan limaratus rupiah. Lilik Shaggydog,Yati Pesek, Yanjangkrik Jogja, Bambang Gundul dan Dibyo Primu berlomba memenangkan lomba.
 
"Receh itu sesuatu hal yang kecil atau sedikit jumlahnya jika dipersatukan akan menjadi besar dan berguna," ujarnya.
Artikel Selanjutnya
Kuliner Istimewa di Bulan Ramadan ala Kampung Betawi 
Artikel Selanjutnya
Nasi Goreng Selimut, Praktis dan Lezat untuk Ramadan