Sukses

Serunya Penutupan Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta di TIM

Liputan6.com, Jakarta Sebagai salah satu cara untuk mewujudkan kota Jakarta sebagai pusat kesenian dan budaya nusantara serta mengapresiasi ragam seni budaya lokal sebagai kekayaan bangsa, Dinas Pariwisata & Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta menyelenggarakan acara “Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta”.

Acara yang berlangsung pada 16-20 Desember di Pelataran Teater Besar, Taman Ismail Marzuki telah memberikan sajian hiburan gratis dan edukasi yang menarik kepada warga Jakarta dengan menampilkan “kilas balik” aneka ragam kesenian terbaik yang pernah tampil di Ibukota dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Mulai dari pertunjukan Rancak (teater tutur Betawi) dari Sanggar Puja Betawi, Wayang Golek Pesisiran,  monolog, musik eksperimentasi, tanjidor, bazaar kuliner, serta pameran foto dan artefak kesenian.

Arie Budhiman, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta mengatakan, “Aktivitas seni budaya merupakan kegiatan yang mengolah raga, rasa dan emosi dari pelaku seni maupun penikmat seni. Hal tersebut dapat menstimulus manusia untuk berkembang positif sesuai dengan yang dirasakan saat berkesenian dan berkebudayaan.

Di antara aktivitas tersebut, tentunya ada yang menarik masyarakat dan perlu diingatkan kembali atau didokumentasikan. Salah satu caranya adalah dengan ‘Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta’. Acara yang menyajikan aktivitas seni budaya mulai tahun 2010 – 2014 ini diharapkan dapat menumbuhkan proses evaluasi dari pelaku dan penikmat seni guna pengembangan aktivitas seni budaya di kota Jakarta,” katanya. 

'Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta' mendapat sambutan yang meriah dari para penonton, juga tampak adanya antusiasme dari para seniman sebagai pengisi acara. Acara ini telah menyedot pengunjung sekitar 1.000 orang setiap harinya, yang berarti sampai hari terakhir, kurang lebih 5.000 orang telah menyaksikan 'Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta.'

“Kami berharap, acara ini dapat dijadikan kegiatan yang berkelanjutan dan menjadi acara rutin sebagai penutup tahun yang membuat para penggiat kesenian dan masyarakat dapat berefleksi melalui kesenian lokal dan menjadi ajang untuk bertemunya berbagai kalangan demi memajukan seni nusantara. Dengan adanya pameran artefak ternyata memberi kesadaran akan munculnya ide baru untuk nantinya dapat didirikan sebuah museum yang merangkum sejarah seni pertunjukan Indonesia. Karena banyak masyarakat yang tidak tahu, bahwa seni pertunjukan Indonesia banyak yang sudah membawa nama baik negara di kancah internasional,” ujar Arie Batubara, Ketua Pelaksana acara Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta

Acara penutupan berlangsung pada hari Sabtu, 20 Desember 2014 di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, dengan menghadirkan tarian kombinasi hip-hop dan tradisi berjudul “Old School” dari Boogie Dance Company dan pertunjukan kolaborasi kelompok musik Mahagenta dan Dolok Martimbus.

Mahagenta merupakan sebuah kelompok musik yang dibentuk pada tahun 1996 dengan ciri khas instrumen musik klasik, tradisional dan kontemporer sedangkan Dolok Martimbus adalah sebuah grup musik yang menggunakan instrumen Gordang Sambilan yang berasal dari etnis Mandailing, Sumatera Utara. Gordang Sambilan adalah instrumen perkusi yang terdiri dari sembilan buah gendang berukuran besar yang mampu memainkan melodi. Sehingga, meski hanya perkusi, Gordang Sambilan bisa memainkan lagu tanpa bantuan instrumen lain. Keunikan ini kemudian dipertemukan dengan grup Mahagenta yang yang jalur bermusiknya adalah world music. World music sendiri merupakan kategori musik yang dimainkan dengan memasukkan unsur musik tradisional dengan elemen kontemporer.

Alat musik yang digunakan oleh Mahagenta antara lain, adalah talempong dari Padang, gender dari Bali, serunai kale dari Aceh, tehyan dari Betawi, dan alat musik lainnya.

“Kami membawakan genre world music, tapi jika ingin ditarik lebih minornya lagi, kami lebih ke arah pencarian idiom musik Indonesia. Kami berkolaborasi di empat lagu dengan Dolok Martimbus, di antaranya lagu ‘Anak Kampung’ dan ‘Sitogol’. Untuk lagu sendiri kami bawakan ‘Kucinta’ (OST Opera Hanoman), ‘Lentera’ dan ‘Menari-nari’. Ada sekitar 16 lagu yang kami mainkan. Kami juga mainkan lagu ‘Kala Cinta Menggoda’ dari Chrisye, dan’Damai’ dari Swara Mahardhika. Setelah acara penutupan ‘Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta’, Mahagenta juga dalam waktu dekat akan mengadakan konser tunggal di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 7 Maret 2015 dalam rangka ulang tahun Mahagenta yang ke-19,” ujar Henry Surya Panguji (Uyung) pendiri grup musik Mahagenta.

Boogie Dance Company menampilkan pertunjukan bertajuk “Old School” yang memadukan tarian hip hop dengan tradisi.

“Hip hop yang kami tampilkan bukan hip hop yang ‘masa kini’ seperti suffle dance. Akan tetapi lebih ke hip hop ‘zaman dulu’, yang memperlihatkan gerakan-gerakan basic seperti walking dan popping karena itu kami ambil judul ‘Old School’.” ujar Serraimere Boogie Y. Koirewoa, pendiri Boogie Dance Company.

Lagu bernuansa Bali membuka aksi pertunjukan, para penari menarikan tarian Kecak sebelum memulai gerakan hip hop.  Bogie Dance Company (BDC) merupakan sebuah group pemuda yang begitu "gila-gila" dalam menari. Tarian yang dibawakan adalah tarian hip-hop yang berangkat dari beberapa teknik tradisional dan dikembangkan sekreatif mungkin sehingga menjadi tarian hip-hop bernuansa tradisional.

Seirraimere Boogie Yason Koirewa, yang akrab disapa Boogie merupakan salah satu koreografer muda dan penari berbakat yang dimiliki Indonesia. Pria kelahiran 8 Juli 1987 ini pernah mengikuti Hongkong Art Festival (2007) sebagai penari di kelompok tari Jecko Siompo. Sebagai koreografer, Boogie pernah membawa tarian berjudul "Merah" tampil di Praha, Ceko. Selain itu Boogie telah menghasilkan karya yang dipentaskan di berbagai acara seperti Indonesian Dance Festival, Indonesian Got Talent, Berlin Art Festival, dan World Culture Forum. (Cyn/Ars)