Liputan6.com, Jakarta - Kisah singkat nabi yang mengajarkan kesabaran dalam ujian merujuk pada sosok Nabi Ayyub AS, hamba mulia yang namanya menjadi simbol kesabaran hingga hari ini. Allah SWT mengabadikan kisahnya dalam Al-Qur'an sebagai pelipur bagi setiap jiwa yang sedang ditimpa musibah, sekaligus bukti bahwa penderitaan seorang mukmin tidak pernah sia-sia di sisi-Nya.
Ibnu Katsir dalam kitab monumentalnya, Qashashul Anbiya (Kisah Para Nabi), menguraikan secara rinci bagaimana Nabi Ayyub diuji dengan kehilangan harta, anak, dan kesehatan dalam rentang waktu yang sangat panjang, namun tidak pernah sekalipun mengeluh atau menyalahkan Tuhannya.
Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi dalam buku Kisah Nabi Ayyub Alaihis Salam mengungkapkan latar belakang Nabi Ayyub yang sangat kaya, memiliki tanah yang luas, hewan ternak yang banyak, serta keluarga yang besar dan saleh. Meski taat dan tak sombong, Allah SWT berkehendak mengujinya dengan ujian yang tidak pernah dialami manusia biasa, sebagai bentuk pemuliaan dan peningkatan derajatnya di sisi-Nya.
Advertisement
Kesabaran Nabi Ayyub dalam menghadapi semua ujian itu menjadikan dirinya sebagai seorang hamba yang saleh dan menjadi teladan dalam kesabaran yang harus diikuti oleh kaum Muslim, terutama bagi orang-orang yang tertimpa musibah. Kisah ini menjadi pelajaran tentang bagaimana seorang hamba seharusnya bersikap ketika Allah menguji keimanannya.
Kisah Singkat Nabi Ayyub AS, Teladan Kesabaran Menghadapi Ujian
Kehidupan Awal dan Ujian yang Menimpa
Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa silsilah Nabi Ayyub adalah Ayyub bin Mush bin Razah bin Al-'Ish bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil ‘alaihimassalam. Ibunya adalah putri Nabi Luth AS. Sebagaimana dijelaskan dalam Qashashul Anbiya, Nabi Ayyub hidup pada masa antara Nabi Yusuf dan Nabi Musa ‘alaihimassalam, dan beliau termasuk keturunan Nabi Ibrahim yang mendapatkan wahyu sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 163 dan Al-An'am ayat 84.
Pada awalnya, Nabi Ayyub adalah seorang yang sangat kaya raya. Beliau memiliki tanah yang luas di Hauran, ternak yang berlimpah, dan anak keturunan yang banyak. Dr. Amin asy-Syaqawi menyebutkan bahwa semua lahan luas di wilayah Batsinah di Hauran adalah miliknya. Namun, kekayaan ini tidak pernah menjadikannya lalai dari ibadah. Beliau dikenal sebagai hamba yang selalu berzikir kepada Allah, baik siang maupun malam, pagi dan petang.
Kemudian Allah SWT menghendaki untuk mengujinya. Dalam kitab Qashashul Anbiya, Ibnu Katsir menukil riwayat bahwa iblis pernah berkata kepada Allah, "Ayyub telah Engkau beri kekayaan dan anak, lalu dia bersyukur kepada-Mu. Seandainya Engkau cabut semua itu darinya, niscaya dia akan kufur." Maka Allah menjadikan ujian sebagai bukti kebenaran hamba-Nya. Satu per satu nikmat itu dicabut.
Pertama, harta benda Nabi Ayyub lenyap. Semua ternak, tanah, dan kekayaannya habis. Kedua, anak-anaknya meninggal dunia dalam peristiwa yang tragis. Ketiga, yang paling berat adalah penyakit yang menimpa tubuhnya. Penyakit tersebut digambarkan sebagai penyakit kulit yang sangat parah dan menjijikkan, sehingga ulat-ulat pun banyak yang menikmati penderitaannya. Tubuh Nabi Ayyub semuanya terkena penyakit; hampir tidak ada secuil pun anggota badannya yang sehat, kecuali lisan dan hatinya yang selalu digunakan untuk berzikir kepada Allah.
Pengasingan dan Kesetiaan Istri
Karena penyakitnya yang menjijikkan, seluruh teman dan kerabatnya menjauh. Setiap orang merasa jijik, baik kerabat dekat maupun teman jauh. Akhirnya Nabi Ayyub diasingkan ke sebuah tempat pembuangan sampah di luar kota tempat tinggalnya. Dalam keadaan yang demikian terpuruk, hanya satu orang yang tetap setia mendampinginya: istrinya, yang menurut riwayat mayoritas ulama bernama Rahmah binti Afraim bin Yusuf bin Ya'qub AS.
Istri Nabi Ayyub dengan penuh kesabaran merawat suaminya. Ketika Nabi Ayyub hendak buang hajat, sang istri menuntunnya karena badannya yang terlalu lemah, dan setelahnya menuntunnya kembali ke tempat semula. Untuk memenuhi kebutuhan makan, sang istri bekerja kepada orang lain. Namun lama-kelamaan, masyarakat tidak lagi mau mempekerjakannya karena mengetahui bahwa dia adalah istri Nabi Ayyub, dan mereka takut tertular penyakit yang dideritanya.
Ketika tidak ada lagi yang mau memberinya pekerjaan, istri Nabi Ayyub menjual salah satu kepang rambutnya kepada gadis-gadis pembesar negeri untuk mendapatkan makanan. Pada suatu ketika, sang istri membuka kerudungnya dan Nabi Ayyub melihat bahwa rambut istrinya telah botak.
Melihat pengorbanan yang begitu besar, Nabi Ayyub merasa marah dan bersumpah akan memukul istrinya seratus kali cambukan apabila dirinya sembuh, karena sang istri telah melakukan sesuatu yang membuatnya tidak berkenan.
Doa dan Kesembuhan
Setelah 18 tahun menjalani ujian yang begitu berat, Nabi Ayyub akhirnya memanjatkan doa kepada Allah SWT. Doa ini diabadikan dalam Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 83:
"Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.'"
Perlu dipahami bahwa doa Nabi Ayyub ini bukanlah bentuk keluhan atau ketidaksabaran. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa doa tersebut diucapkan ketika Nabi Ayyub dituduh oleh sekelompok Bani Israil telah melakukan dosa besar sehingga ditimpa musibah. Beliau tidak meminta agar penyakitnya disembuhkan secara langsung, melainkan mengadukan keadaannya kepada Allah yang Maha Penyayang.
Allah SWT mengabulkan doanya. Dalam Surah Shad ayat 42, Allah berfirman: (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan Nabi Ayyub untuk memukulkan kakinya ke bumi. Maka dia pun melaksanakan perintah Tuhannya, lalu Allah memancarkan mata air yang dingin.
Dia diperintahkan untuk mandi dan minum dari air tersebut, kemudian Allah menghilangkan semua penyakit dan penderitaan yang menimpa tubuhnya, baik lahir maupun batin, dan menggantikannya dengan kesehatan yang sempurna serta harta yang banyak hingga belimpah-ruah.
Kembalinya Nikmat Allah
Setelah sembuh, Nabi Ayyub dihadapkan pada sumpahnya untuk memukul istrinya 100 kali. Allah SWT memberikan jalan keluar yang penuh hikmah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Shad ayat 44:
"Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah."
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Ayyub diperintahkan untuk mengambil sekumpulan tangkai kurma atau rumput, lalu memukulkannya kepada istrinya dengan satu pukulan. Dengan demikian, dia telah memenuhi sumpahnya seratus kali pukulan dan tidak melanggarnya. Ini adalah salah satu bentuk kelapangan dan jalan keluar yang diberikan Allah bagi orang yang bertakwa kepada-Nya.
Allah SWT juga mengembalikan keluarga Nabi Ayyub yang telah tiada. Dalam Surah Al-Anbiya ayat 84, Allah berfirman:
"Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah."
Sebagian ulama menafsirkan bahwa Allah menghidupkan kembali anak-anaknya yang telah meninggal, dan memberinya keturunan yang lebih banyak dari sebelumnya. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa pada suatu ketika Nabi Ayyub mandi dalam keadaan telanjang, tiba-tiba belalang dari emas terjatuh kepadanya. Nabi Ayyub lalu menangkapnya dengan pakaiannya. Tuhannya berseru kepadanya, "Wahai Ayyub! Tidakkah Aku telah mencukupkanmu dari apa yang kau pandang sekarang ini?" Nabi Ayyub menjawab, "Benar wahai Tuhanku, akan tetapi aku tidak pernah merasa cukup dengan keberkahan yang Engkau berikan kepadaku."
Hikmah Memahami Kisah Nabi Ayyub AS
1. Ujian adalah tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya
Kisah Nabi Ayyub mengajarkan bahwa ujian tidak selalu menjadi tanda kemurkaan Allah. Rasulullah bersabda bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, lalu orang-orang terbaik setelah mereka.
Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Kisah Nabi Ayyub menunjukkan bahwa beratnya ujian dapat menjadi jalan bagi seorang mukmin untuk meningkatkan derajat dan kedekatannya kepada Allah.
2. Kesabaran sejati adalah tetap beribadah di tengah penderitaan
Nabi Ayyub menghadapi sakit dan penderitaan dalam waktu yang panjang. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya meninggalkan zikir dan ketaatan kepada Allah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Ayyub menghadapi seluruh ujian tersebut dengan penuh kesabaran dan tetap mengingat Allah.
Dari kisah ini, seorang Muslim belajar bahwa kesabaran bukan sekadar menahan keluhan, tetapi tetap menjaga ibadah ketika berada dalam keadaan sulit.
3. Jalan keluar akan datang bagi orang yang bertakwa dan bertawakal
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Talaq ayat 2–3 bahwa siapa saja yang bertakwa kepada-Nya akan diberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Nabi Ayyub menjadi teladan dalam mempertahankan harapan kepada Allah meskipun menghadapi penderitaan yang berat.
Pada akhirnya, Allah memberikan kesembuhan, mengembalikan nikmat yang hilang, serta menganugerahkan kembali keluarga dan keturunan kepadanya.
4. Kesetiaan istri yang salehah merupakan karunia yang sangat berharga
Kisah Nabi Ayyub juga memperlihatkan keteguhan istrinya, Rahmah binti Afraim, dalam mendampingi suaminya. Ia tetap merawat Nabi Ayyub ketika berada dalam kondisi sakit dan kesulitan, bahkan rela bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Dr. Amin asy-Syaqawi menjelaskan bahwa kisah tersebut mengandung pelajaran bagi para istri agar bersabar dalam mendampingi suami yang sedang menghadapi sakit, kemiskinan, maupun berbagai cobaan kehidupan.
5. Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang sabar
Kesabaran Nabi Ayyub mendapat pujian langsung dari Allah SWT dalam Al-Qur’an. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44)
Ayat tersebut menunjukkan tingginya kedudukan kesabaran Nabi Ayyub. Kesabarannya tidak sia-sia, tetapi justru menjadi sebab Allah memujinya sebagai hamba yang terbaik dan senantiasa kembali kepada-Nya.
Pertanyaan Seputar Kisah Nabi Ayyub
Apakah Nabi Ayyub sakit kulit selama 18 tahun?
Ya, menurut riwayat yang disebutkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Nabiyullah Ayyub berada dalam ujiannya selama delapan belas tahun. Selama masa itu, beliau menderita penyakit kulit yang sangat parah dan berbagai ujian lainnya, serta dijauhi oleh keluarga dekat dan jauh kecuali dua orang saudaranya. Namun, sebagian ulama lain menyebutkan durasi yang berbeda, seperti tujuh tahun tujuh bulan atau tiga tahun.
Apa doa Nabi Ayyub ketika sakit?
Doa Nabi Ayyub yang diabadikan dalam Al-Qur'an adalah: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (QS. Al-Anbiya: 83). Dalam doa lain yang disebutkan dalam Surah Shad ayat 41, beliau berkata: "Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan."
Siapa nama istri Nabi Ayyub yang setia?
Menurut pendapat mayoritas ulama, nama istri Nabi Ayyub yang setia mendampinginya selama ujian adalah Rahmah binti Afraim bin Yusuf bin Ya'qub AS. Ada pula yang mengatakan namanya Layya binti Minsa. Dia adalah sosok yang luar biasa sabar dan setia, yang tidak pernah meninggalkan suaminya meskipun dalam kondisi yang sangat sulit.
Apa hikmah utama dari kisah Nabi Ayyub?
Hikmah utama dari kisah Nabi Ayyub adalah bahwa kesabaran dalam menghadapi ujian akan berbuah manis di dunia dan akhirat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kesabaran Nabi Ayyub menjadikannya sebagai hamba yang saleh dan teladan dalam kesabaran bagi kaum Muslim, terutama bagi mereka yang tertimpa musibah. Ujian yang berat bukanlah tanda kemarahan Allah, melainkan tanda kasih sayang-Nya untuk mengangkat derajat hamba-Nya.
Mengapa Nabi Ayyub bersumpah memukul istrinya?
Nabi Ayyub bersumpah akan memukul istrinya seratus kali cambukan karena sang istri melakukan sesuatu yang membuatnya tidak berkenan. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa sang istri pernah terlambat pulang atau menjual rambutnya untuk membeli makanan. Setelah sembuh, Allah memberikan jalan keluar dengan memerintahkan Nabi Ayyub untuk mengambil seikat rumput atau tangkai kurma dan memukulkannya sekali sebagai pemenuhan sumpah seratus kali.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369365/original/034444800_1791519895-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-09T112039.867.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342535/original/041645600_1788773436-HOAX__11_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5078809/original/005995500_1736144544-Screenshot_20250106_121234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365046/original/083732600_1791097921-cek_fakta_sapi_bebek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5510130/original/015325900_1771818996-pexels-timur-weber-9127164.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369581/original/031250500_1791530274-IMG-20261009-WA0045.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3294207/original/087973100_1605152447-IMG_20201112_113514.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369486/original/049428600_1791526188-Pemindahan-Warga-Binaan-840x493.jpg.jpg)