Idul Adha Bulan Apa? Ini Prediksi Tanggal, Libur dan Cuti Bersama

Idul Adha 2025 diperkirakan jatuh pada 6 Juni, di bulan Zulhijjah, berdasarkan prediksi Kementerian Agama dan Muhammadiyah.

Diterbitkan 16 Mei 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu momen penting dalam kalender umat Islam yang dirayakan dengan penuh makna. Perayaan ini identik dengan semangat pengorbanan, keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama. Banyak orang masih bertanya-tanya, Idul Adha bulan apa dirayakan, mengingat kalender Hijriah berbeda dengan kalender Masehi yang umum digunakan sehari-hari.

Dalam tradisi Islam, Idul Adha diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah, bulan terakhir dalam penanggalan Hijriah. Maka, jika muncul pertanyaan Idul Adha bulan apa, jawabannya akan selalu mengacu pada Dzulhijjah, meski tanggal pastinya di kalender Masehi dapat bergeser dari tahun ke tahun. Penentuan ini berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji yang hanya berlangsung pada waktu tertentu dalam bulan tersebut.

Momentum Idul Adha dimanfaatkan oleh umat Muslim untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang penuh ketaatan dan pengorbanan. Ketika seseorang ingin memahami secara mendalam Idul Adha bulan apa jatuhnya, hal ini sekaligus menjadi pintu pembuka untuk mengenal nilai-nilai spiritual dan sejarah di balik perayaan besar ini. Kesempatan ini juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan berbagi dengan sesama, melalui penyembelihan hewan kurban. 

Berikut ini penjelasan Idul Adha bulan apa yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (16/5/2025).

Perkiraan Tanggal Idul Adha 2025: Pemerintah, Muhammadiyah, dan NU

Berdasarkan informasi yang dikutip dari laman resmi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Hari Raya Idul Adha secara umum dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah. Untuk tahun 2025, Kementerian Agama Republik Indonesia telah merilis Kalender Hijriah Indonesia Tahun 1446 H, yang memprediksi bahwa 1 Dzulhijjah 1446 H akan jatuh pada hari Rabu, 28 Mei 2025. Oleh karena itu, apabila prediksi tersebut sesuai dengan hasil rukyat dan hisab resmi, maka Hari Raya Idul Adha diperkirakan akan jatuh pada hari Jumat, 6 Juni 2025.

Tanggal tersebut juga tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri mengenai Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025. Meski demikian, penting bagi masyarakat untuk menunggu hasil resmi dari sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag). Sidang isbat ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada Selasa, 27 Mei 2025, dan hasilnya akan menjadi dasar resmi penetapan tanggal 1 Dzulhijjah serta Idul Adha oleh pemerintah.

Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal Hari Raya Idul Adha 1446 H melalui perhitungan astronomi (hisab). Dalam Maklumat Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah, disebutkan bahwa Idul Adha 1446 Hijriah jatuh pada Jumat, 6 Juni 2025. Penetapan ini dilakukan berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni metode perhitungan posisi geometris bulan terhadap matahari dan bumi, tanpa memerlukan pengamatan visual hilal secara langsung.

Dengan metode hisab ini, Muhammadiyah dapat menetapkan awal bulan dalam kalender Hijriah jauh hari sebelumnya, sehingga keputusan mereka mengenai hari raya dapat diumumkan lebih awal. Berdasarkan hisab tersebut, 1 Dzulhijjah 1446 H ditetapkan pada Rabu, 28 Mei 2025, sehingga 10 Dzulhijjah, atau Hari Raya Idul Adha, jatuh tepat sepuluh hari setelahnya, yaitu Jumat, 6 Juni 2025.

Adapun organisasi keagamaan terbesar lainnya di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU), memiliki pendekatan yang berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriah dan hari-hari besar Islam. NU menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap hilal atau bulan sabit muda setelah matahari terbenam, yang dilakukan oleh Lembaga Falakiyah PBNU di berbagai titik rukyat di seluruh Indonesia.

Hingga pertengahan Mei 2025, NU belum secara resmi menetapkan tanggal Idul Adha karena mereka masih menunggu hasil rukyatul hilal yang akan dilakukan menjelang akhir bulan Zulkaidah 1446 H. Namun, jika merujuk pada prediksi kalender pemerintah serta keputusan Muhammadiyah, ada kemungkinan besar bahwa NU juga akan menetapkan Idul Adha pada hari Jumat, 6 Juni 2025, tergantung pada hasil pengamatan hilal yang dilakukan pada tanggal 29 Zulkaidah.

 

Jadwal Libur dan Cuti Bersama Idul Adha 2025 Berdasarkan SKB Tiga Menteri

Pemerintah Republik Indonesia secara resmi telah menetapkan jadwal libur nasional dan cuti bersama untuk perayaan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri. Penetapan ini tertuang dalam SKB Nomor 1017 Tahun 2024, Nomor 2 Tahun 2024 dan Nomor 2 Tahun 2024, yang mengatur rincian hari-hari libur nasional serta cuti bersama sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan keputusan tersebut, masyarakat Indonesia akan mendapatkan libur selama dua hari dalam rangka memperingati Idul Adha, yaitu:

- Jumat, 6 Juni 2025: Ditetapkan sebagai Libur Nasional Hari Raya Idul Adha 1446 H.

- Senin, 9 Juni 2025: Ditetapkan sebagai Cuti Bersama Hari Raya Idul Adha 1446 H.

Yang menarik dari jadwal ini adalah penempatan hari libur yang berdekatan dengan akhir pekan. Dengan demikian, libur Idul Adha 2025 berpotensi menjadi libur panjang selama empat hari berturut-turut, yakni:

- Jumat, 6 Juni 2025: Libur Nasional Idul Adha

- Sabtu, 7 Juni 2025: Libur akhir pekan

- Minggu, 8 Juni 2025: Libur akhir pekan

- Senin, 9 Juni 2025: Cuti Bersama Idul Adha

Rangkaian libur ini tentu menjadi momen yang sangat dinantikan oleh banyak masyarakat, terutama bagi mereka yang ingin memanfaatkan waktu luang untuk berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, atau melaksanakan berbagai kegiatan sosial keagamaan seperti penyembelihan hewan kurban dan pembagian daging kepada yang membutuhkan.

Selain itu, libur panjang ini juga menjadi peluang emas bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan wisata atau pulang kampung (mudik) untuk merayakan Idul Adha di daerah asal. Dengan total empat hari libur, masyarakat memiliki waktu yang cukup fleksibel untuk merencanakan berbagai aktivitas, baik yang bersifat religius, sosial, maupun rekreasional.

Namun demikian, perlu dipahami bahwa jadwal cuti bersama bersifat dinamis dan dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan terbaru dari pemerintah pusat. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi yang diumumkan oleh pemerintah, khususnya dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Tenaga Kerja, dan Kementerian PAN-RB.

Mengapa Ibadah Kurban Dianjurkan Saat Idul Adha? Inilah Hikmah dan Maknanya dalam Islam

Idul Adha merupakan salah satu hari besar dalam Islam yang penuh dengan nilai spiritual dan sosial. Salah satu ibadah utama yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan pada momen ini adalah berkurban, yaitu menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, atau unta sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah SWT. Perintah ini bukan hanya merupakan ritual semata, melainkan memiliki makna yang sangat dalam dan menyentuh berbagai aspek kehidupan umat Muslim, baik secara individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Pertama, ibadah kurban merupakan ekspresi syukur atas nikmat Allah SWT. Dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam dianugerahi rezeki dalam berbagai bentuk: kesehatan, harta, ketenangan batin, serta keluarga yang harmonis. Dengan berkurban, seorang Muslim menunjukkan rasa terima kasihnya kepada Sang Pencipta. Tindakan ini sekaligus menjadi bentuk pendekatan diri kepada Allah (taqarrub), sebagai wujud penghambaan dan keimanan yang tulus.

Kedua, kurban mengandung pelajaran tentang pengendalian diri dan pengorbanan. Menyembelih hewan kurban tidak sekadar tindakan fisik, melainkan simbol dari kesiapan seorang hamba untuk menundukkan hawa nafsunya. Dalam konteks ini, kurban menjadi simbol dari kerelaan untuk meninggalkan egoisme, kepentingan pribadi, serta kemelekatan terhadap harta dunia demi menjalankan perintah Ilahi. Sikap ini mencerminkan keteladanan Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh keikhlasan siap mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ketaatan mutlak kepada Allah, meskipun akhirnya digantikan dengan seekor hewan.

Ketiga, nilai sosial dari ibadah kurban sangatlah tinggi. Hewan yang disembelih kemudian dibagikan dagingnya kepada fakir miskin, kaum dhuafa, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan, sehingga tercipta suasana saling peduli di tengah masyarakat. Kurban menjadi jembatan untuk mempererat tali persaudaraan serta menumbuhkan rasa empati terhadap sesama. Dalam situasi ekonomi yang tidak merata, momen seperti ini sangat penting untuk mengurangi kesenjangan sosial dan menghadirkan keadilan distribusi rezeki.

Selain itu, ibadah kurban juga mengajarkan umat Islam tentang keikhlasan dan kesabaran dalam melaksanakan perintah Allah. Tidak semua orang dengan mudah melepaskan sebagian hartanya, apalagi dalam bentuk hewan ternak yang bernilai ekonomis tinggi. Namun, melalui kurban, seorang Muslim belajar bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan dengan niat ikhlas semata-mata karena Allah akan mendatangkan ganjaran yang berlimpah, baik di dunia maupun di akhirat.

enjelasan tentang mengapa umat Islam dianjurkan berkurban sesuai dengan Al Quran surat Al Kautsar ayat 1 dan 2. Dalam penjelasannya, ayat tersebut menerangkan tentang pentingnya mensyukuri nikmat yang Allah berikan melalui berbagai karunia di dunia melalui kurban.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan karunia sangat banyak kepadamu, maka sholatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah qurban.” (Al-Kautsar: 1-2).