Sukses

Tebal Tipis Kantong Capres dan Cawapres

Liputan6.com, Jakarta - Oleh: Sunariyah, Taufiqurrohman, dan Siska Amelie F Deil

 

Mengenakan kemeja putih dan keris terselip di pinggang, calon presiden Prabowo Subianto tampil bak satria yang siap berperang. Penampilannya pada kampanye akbar di Gelora Bung Karno Senayan 23 Maret lalu, semakin terlihat gagah dengan menunggang kuda jangkung yang sangat terawat.

Ya, Kuda dan Prabowo memang tak bisa dipisahkan. Semua publik di Indonesia tahu bahwa capres nomor urut 1 itu sangat menyukai kuda.

Di kediamannya yang asri dan luas, di Desa Bojongkoneng, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Prabowo memelihara banyak kuda. Tercatat ada 81 kuda yang dimiliki mantan Danjen Kopassus itu. Sebagian berada di Nusantara Polo Club di kawasan Cibinong, Jawa Barat, sebagian lagi di kediamannya.

Dari 81 kuda itu, 17 di antaranya kuda jenis lusiano asal Portugal. Harga 1 ekornya mencapai miliaran rupiah. Kuda milik Prabowo disebut-sebut sebagai kuda termahal di Asia. Salah satu dari kuda itulah yang ditunggangi Prabowo saat kampanye Maret lalu.

Tak hanya kuda, barang lain yang menunjukkan Prabowo sebagai salah satu orang tajir di Indonesia adalah kediamannya yang sangat luas di balik bukit Hambalang, mobil Lexus dan tentu saja perusahaan-perusahaannya.

Berdasarkan laporan kekayaan yang dibacakan sendiri oleh Prabowo di Komisi Pemilihan Umum, total kekayaannya Rp 1,6 triliun dan US$ 7.503.137.

"Total nilai kekayaan saya per 20 Mei 2014 adalah Rp 1.670.392.580.402 dan US$ 7.503.137," kata Prabowo di ruang sidang utama Gedung KPU, Jakarta, Selasa (1/7/2014).

Aset terbanyak berasal dari surat berharga senilai Rp 1,5 triliun. Aset-aset itu tertanam di 26 perusahaan. Sementara surat berharga dalam dolar US$ 7.500.000.

Jika dirinci, kekayaan Prabowo terdiri dari harta tidak bergerak seperti tanah dan bangunan senilai Rp 205,8 miliar. Harta bergerak yakni 8 unit alat transportasi Rp 1,4 miliar. Peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan, pertambangan dan usaha lainnya Rp 12, 1 miliar. Barang seni dan antik Rp 3 miliar.

Harta bergerak lainnya Rp 1,2 miliar. Uang tunai berupa deposito, tabungan, giro, setara kas lainnya di empat rekening Rp 20,4 miliar dan 1 rekening dalam bentuk dolar senilai US$ 3.134.

Namun Prabowo juga tercatat memiliki utang senilai Rp 28.993.970. Kendati demikian dibandingkan lawannya capres Joko Widodo, cawapres Jusuf Kalla dan cawapresnya sendiri, Hatta Rajasa, Prabowo tercatat paling kaya.

Bermula dari PT Arthindo

Tiga belas tahun menjadi menteri, membuat kekayaan calon wakil presiden Hatta Rajasa terus melonjak. Saat mengumumkannya di KPU, Selasa (1/7/2014), total jumlah kekayaannya mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu Rp 30.234.920.584 dan US$ 75.092.

"Izinkan saya umumkan harta kekayaan calon wakil presiden Indonesia periode 2014-2019, yang telah disampaikan pada KPK pada 20 Mei 2014, dan diklarifikasi pada 25 Juni 2014," kata Hatta saat membacakan harta kekayaannya di ruang sidang utama Gedung KPU, Jakarta.

Berikut rincian harta kekayaan Hatta: harta tidak bergerak dan bangunan sebanyak Rp 21,7 miliar, logam mulia Rp 95 juta, batu mulia Rp 1,6 miliar, barang seni dan antik Rp 2 miliar, harta bergerak lainnya Rp 380 juta, surat berharga Rp 4 miliar, giro setara kas di 11 rekening Rp 357 juta dan uang tunai US$ 75.092.

Hatta juga tercatat memiliki utang, yakni Rp 157 juta. "Demikian rincian harta kekayaan saya umumkan, harta kekayaan ini tidak bisa dijadikan dasar bagi siapapun juga, untuk menyatakan bahwa seluruh harta kekayaan tersebut tidak terkait dengan tindak pidana," tandas Hatta.

Lonjakan kekayaan Hatta terlihat pada 2012. Dari yang semula berjumlah Rp 14,8 miliar pada 2009, naik menjadi Rp 16,95 miliar pada 2012. Penambahan harta kekayaan tersebut dapat dilihat dari pertambahan nilai jual tanah dan bangunan yang dimilikinya.

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK pada 27 Juli 2012, harta Hatta banyak berupa tanah dan bangunan di Jakarta, Tangerang, Bandung, Lampung, dan kampung halamannya, Palembang, Sulawesi Selatan.

Sumber kekayaan mantan menteri riset dan teknologi periode 2001-2004 ini tak semata-mata dari gajinya sebagai pejabat negara. Tapi juga dari perusahaannya. Bisnis Hatta dimulai dari perusahaan PT Arthindo yang dibangun bersama Bambang Sukarsono, Alimin Abdullah dan Affan Machmud.

Perusahaan ini awalnya hanya bergerak di bidang agrobisnis. Namun dengan cepat merambah ke bidang jasa operasi untuk oil rig. Salah satu spesialisasinya adalah inspeksi turbuler atau pipa.

Pada 1985, PT Arthindo Utama bekerja sama dengan PT Pertamina dalam hal Inspect & Repair Substructure untuk tipe rig 80bm milik PT Pertamina Prabumulih. Jabatan presiden direktur digenggam Hatta sejak 1982-2000.

Kini tanggung jawab memutar roda perusahaan diembankan pada sang anak, M. Reza Ihsan Rajasa, yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana PT Arthindo Utama. Sedangkan Hatta sejak 2001, fokus menjalankan tugasnya sebagai politisi dan pejabat negara.

Mendulang Untung dari Kayu

Sejak mengikuti bursa pemilihan kepala daerah DKI Jakarta pada 2012, publik sudah mengetahui bahwa capres Joko Widodo adalah seorang pengusaha. Berbeda dengan sebagian besar pejabat di tanah air, Jokowi demikian sapaan akrabnya,berbisnis di bidang perkayuan atau mebel.

Dalam pengakuannya dua bulan terakhir, saat menjawab tuduhan bahwa dia tak mengerti ekonomi, Jokowi mengaku bisnis mebelnya tidak hanya untuk pasar dalam negeri. Tapi juga menembus pasar luar negeri. Jokowi mengatakan biasa mengekspor produknya ke luar negeri bahkan hingga ke Eropa.

Tak heran jika harta kekayaan Jokowi mencapai miliaran. Seperti diumumkan di KPU, Selasa (1/7/2014), calon presiden nomor urut 2 itu mengatakan total harta kekayaannya Rp 29 miliar dan US$ 27 ribu.

"Total harta kekayaan saya per tanggal 19 Mei adalah Rp 29.892.946.012 dan US$ 27.633," kata Jokowi di ruang sidang utama Gedung KPU.

Jumlah total harta Jokowi itu terdiri dari harta tidak bergerak berupa tanah 24 bidang senilai Rp 29.453.455.000, alat transportasi sebanyak 12 unit Rp 954.500.000, Peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan, pertambangan dan usaha lainnya dengan total satu unit usaha senilai Rp 572.440.076.

Jokowi juga memiliki logam mulia 16 buah dengan nilai Rp 27.200.000, batu mulia Rp 15.000.000 dan harta bergerak lainnya yang tidak dirinci sebanyak 83 unit yakni Rp 19.150.000. Mantan walikota Solo 2 periode itu juga memiliki uang tunai, deposito tabungan, giro dan setara kas lainnya di 19 rekening dengan jumlah Rp 484.140.718 dan US$ 27.633.

Seperti rivalnya, Jokowi juga memiliki utang Rp 1,9 miliar. "Demikian rincian harta kekayaan yang dapat saya umumkan. Laporan ini tidak dapat dijadikan dasar oleh siapa pun juga bahwa laporan kekayaan ini tidak terkait dengan tindak pidana," tandas Jokowi.

Mewarisi Kekayaan Orangtua 

Berbeda dengan pasangannya Joko Widodo, cawapres Jusuf Kalla jauh lebih kaya. Tercatat mantan wakil presiden itu memiliki harta kekayaan Rp 465 Miliar dan US$ 1,05 Juta.

Berdasarkan perincian yang diumumkan di KPU, harta kekayaan JK terdiri dari harta tidak bergerak Rp 121,8 miliar, harta bergerak berupa alat transportasi dan mesin lainnya Rp 525 juta, peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan, pertambangan, dan usaha lainnya Rp 1 miliar, logam mulia Rp 300 juta, batu mulia Rp 100 juta, barang seni, barang antik dan harta bergerak lainnya Rp 138,7 juta, surat berharga Rp 334,8 miliar, dan US$ 357.751.

Harta Kalla dalam bentuk tunai deposito, tabungan, giro, dan setara kas lainya Rp. 6.9 miliar dan US$ 700.813. JK juga memiliki piutang Rp 19 juta.

"Total nilai harta kekayaan saya Rp 465.6 miliar dan US$ 1.058.564," ujar JK.

Kekayaan JK tak hanya diperoleh dari gaji sebagai pejabat negara. Ketua Palang Merah Indonesia ini sudah lama dikenal sebagai pengusaha dan mewarisi harta kekayaan orangtuanya yang seorang pengusaha terkenal, Haji Kalla.

Jika dibandingkan, dari dua pasangan capres dan cawapres yang akan bertanding dalam pemilu 9 Juli 2014 nanti, calon presiden paling tajir adalah Prabowo Subianto. Sedangkan cawapres terkaya adalah Jusuf Kalla.

Adapun capres Jokowi, dibandingkan 3 calon lainnya, bisa disebut paling kere. Tak heran jika capres yang diusung PDI Perjuangan, Partai Nasdem, PKB, Partai Hanura dan PKPI ini harus menggalang sumbangan dana dari rakyat untuk membiayai kampanyenya. (Ans)