Hari Kebudayaan Nasional: Sejarah Penetapan dan Maknanya

Mengenal Hari Kebudayaan Nasional: latar belakang penetapan, makna bagi identitas bangsa, dan cara memperingatinya.

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia adalah bangsa dengan kekayaan budaya yang luar biasa besar. Ribuan pulau menyimpan ragam bahasa, tarian, musik, pakaian adat, hingga kuliner yang berbeda di setiap daerah. Di tengah kekayaan itu, Hari Kebudayaan Nasional hadir sebagai momentum tahunan untuk merawat dan mengenang warisan budaya bangsa.

Setiap suku bangsa membawa cerita dan kearifan lokal masing-masing, dari upacara adat hingga kesenian tradisional. Warisan ini terus hidup di tengah masyarakat, diturunkan dari generasi ke generasi lewat keluarga, komunitas, dan lembaga pendidikan. Kekayaan ini menjadi identitas yang membedakan Indonesia dari bangsa lain di dunia.

Artikel ini akan membahas Hari Kebudayaan Nasional secara lebih mendalam, mulai dari pengertian, sejarah penetapan, hingga cara sederhana untuk memperingatinya. Mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat (16/10/2026).

Apa Itu Hari Kebudayaan Nasional?

Hari Kebudayaan Nasional adalah hari peringatan yang jatuh setiap 17 Oktober. Hari ini ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan sebagai momentum khusus untuk mengenang dan merawat kebudayaan Indonesia. Berbeda dari hari libur keagamaan atau hari kemerdekaan, hari ini tidak masuk daftar hari libur nasional. Meski begitu, kedudukannya tetap penting dalam kalender peringatan resmi negara.

Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 162 Tahun 2025. Keputusan itu ditandatangani pada 7 Juli 2025 dan berlaku sejak tanggal tersebut. Isinya singkat namun jelas, menetapkan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional.

Secara sederhana, hari ini hadir untuk mengingatkan masyarakat bahwa kebudayaan adalah fondasi identitas bangsa. Lewat peringatan tahunan, pemerintah berharap masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga warisan budaya. Peringatan ini juga menjadi ruang bagi seniman, budayawan, dan komunitas lokal untuk menunjukkan karya serta tradisi yang selama ini mereka rawat.

Sejarah Penetapan Hari Kebudayaan Nasional

Gagasan Hari Kebudayaan Nasional bermula dari usulan seniman dan budayawan di Yogyakarta. Mereka melakukan kajian sejak awal tahun 2025, lalu menyampaikan hasilnya ke Kementerian Kebudayaan setelah melalui beberapa kali diskusi mendalam. Usulan ini kemudian dibahas dan dikaji lebih lanjut oleh pemerintah sebelum akhirnya disetujui dan ditetapkan secara resmi.

Tanggal 17 Oktober dipilih bukan tanpa alasan. Tanggal ini merujuk pada pengesahan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara. Peraturan tersebut menjadi dasar resmi penggunaan Garuda Pancasila beserta semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kedua simbol ini dianggap mewakili identitas dan semangat persatuan bangsa Indonesia sejak awal kemerdekaan.

Semangat persatuan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika sendiri sudah tumbuh jauh sebelum peraturan itu disahkan. Benihnya dapat ditelusuri sejak Kebangkitan Nasional pada 1908, berlanjut ke Sumpah Pemuda pada 1928, hingga sidang BPUPKI dan PPKI menjelang kemerdekaan pada 1945. Rangkaian sejarah inilah yang menjadi landasan penetapan Hari Kebudayaan Nasional.

Jejak Kongres Kebudayaan Sejak 1918 dalam Membentuk Jati Diri Bangsa

Akar semangat yang melatari Hari Kebudayaan Nasional sesungguhnya bisa ditarik jauh lebih panjang, hingga ke forum Kongres Kebudayaan pertama pada 1918 di Surakarta. Kongres yang kala itu digagas kalangan bangsawan dan cendekiawan Jawa ini lahir dari keresahan akan nasib kebudayaan pribumi di tengah dominasi kekuasaan kolonial, dan dari pertemuan itulah muncul mosi yang kemudian melahirkan Java Instituut pada 1919, lembaga ilmiah pertama yang menaungi upaya pemajuan kebudayaan Jawa secara terorganisasi.

Forum ini tidak berhenti pada satu kali pertemuan. Kongres Kebudayaan berikutnya digelar pada 1919 di Surakarta, lalu berlanjut ke Yogyakarta pada 1924 dan Surabaya pada 1926, menjadikannya ruang dialog rutin bagi tokoh-tokoh bangsa untuk merumuskan arah kebudayaan bersama. Setiap kongres pada masa itu menjadi panggung bagi gagasan kebangsaan yang tumbuh beriringan dengan semangat pergerakan nasional, sejalan dengan Kebangkitan Nasional 1908 dan kelak Sumpah Pemuda 1928.

Setelah Indonesia merdeka, tradisi kongres ini dihidupkan kembali sebagai langkah meletakkan dasar pembangunan kebudayaan bangsa yang baru lahir. Kongres Kebudayaan di Magelang pada 1948, hanya tiga tahun setelah proklamasi, menjadi penanda penting karena dari sanalah muncul gagasan membentuk Lembaga Kebudayaan Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa kebudayaan dipandang sebagai fondasi yang tidak terpisahkan dari upaya membangun identitas bangsa yang merdeka.

Pentingnya Hari Kebudayaan Nasional

Kehadiran Hari Kebudayaan Nasional membawa sejumlah manfaat bagi bangsa Indonesia. Berikut beberapa alasan mengapa peringatan ini penting untuk terus dijaga dan dirayakan setiap tahun.

- Memperkuat Identitas Bangsa: Peringatan ini mengingatkan masyarakat bahwa Garuda Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah simbol pemersatu bangsa. Lewat momentum tahunan ini, identitas kebangsaan terus dijaga agar tidak luntur di tengah derasnya arus budaya asing yang masuk lewat berbagai media.

- Mendorong Pelestarian Budaya: Hari ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya perlu dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat. Tanpa upaya aktif dari semua pihak, banyak tradisi dan kesenian daerah berisiko hilang begitu saja seiring berjalannya waktu.

- Meningkatkan Kebanggaan Budaya: Peringatan tahunan memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dalam kekayaan budaya daerahnya masing-masing tanpa harus pergi jauh. Rasa bangga yang tumbuh dari pengenalan ini penting agar generasi muda tidak merasa asing dengan tradisi leluhurnya sendiri.

- Menjadi Fondasi Pembangunan Karakter: Kebudayaan berperan besar dalam membentuk karakter dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh dari generasi ke generasi. Hari Kebudayaan Nasional mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak bisa lepas dari nilai budaya yang sudah ada sejak dahulu.

Tantangan dan Harapan untuk Kebudayaan Nasional di Era Modern

Di tengah arus globalisasi, kebudayaan nasional menghadapi berbagai tantangan. Berikut beberapa persoalan yang perlu diperhatikan bersama, lengkap dengan harapan ke depannya.

- Minimnya Minat Generasi Muda: Banyak anak muda lebih akrab dengan budaya populer dari luar negeri dibanding tradisi lokal yang diwariskan keluarga. Tantangan ini perlu dijawab dengan memperkenalkan budaya secara lebih menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari generasi muda saat ini.

- Keterbatasan Dokumentasi Warisan Budaya: Sejumlah tradisi dan kesenian daerah belum terdokumentasi dengan baik karena keterbatasan tenaga dan anggaran di tingkat lokal. Padahal dokumentasi penting agar warisan budaya tidak hilang dan tetap bisa dipelajari oleh generasi berikutnya kelak.

- Minimnya Dukungan Pendanaan: Pelaku budaya di daerah sering kesulitan mendapat dukungan dana untuk mengembangkan karya serta memperluas jangkauan pertunjukan mereka. Perhatian lebih besar dari pemerintah dan masyarakat diharapkan bisa membantu mengatasi persoalan pendanaan ini secara berkelanjutan.

- Harapan Sinergi Pusat dan Daerah: Ke depan, kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan semakin erat dalam merawat kebudayaan lokal. Sinergi ini penting agar kearifan lokal di berbagai wilayah bisa tersampaikan secara konkret kepada masyarakat luas tanpa terkendala birokrasi.

Cara Memperingati Hari Kebudayaan Nasional

Memperingati Hari Kebudayaan Nasional tidak harus dengan cara yang rumit. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan siapa saja.

- Mengenakan Pakaian Adat: Mengenakan pakaian tradisional pada 17 Oktober menjadi cara sederhana menunjukkan kecintaan pada budaya daerah masing-masing. Langkah kecil ini sekaligus memperkenalkan kekayaan busana nusantara kepada orang di sekitar lingkungan tempat tinggal.

- Mengikuti Pertunjukan Seni Lokal: Menonton pertunjukan tari, musik, atau teater tradisional di lingkungan sekitar bisa menjadi cara menikmati sekaligus mendukung pelaku seni budaya lokal. Kegiatan ini juga mempererat kebersamaan antarwarga sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap karya seni tradisi.

- Mengunjungi Museum atau Situs Budaya: Berkunjung ke museum, cagar budaya, atau situs bersejarah memberi pengalaman langsung mengenal masa lalu bangsa secara nyata. Kunjungan semacam ini mendekatkan masyarakat dengan akar sejarah budayanya sendiri sekaligus menambah wawasan baru.

- Berbagi Cerita Budaya di Media Sosial: Membagikan foto, cerita, atau pengetahuan tentang budaya daerah di media sosial turut membantu memperluas kesadaran publik secara luas. Cara ini sederhana namun berdampak besar, terutama bagi generasi digital yang aktif bermedia sosial setiap hari.

Pertanyaan Seputar Hari Kebudayaan Nasional

Kapan Hari Kebudayaan Nasional diperingati? Hari Kebudayaan Nasional diperingati setiap tanggal 17 Oktober, sesuai Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 162 Tahun 2025.

Apakah Hari Kebudayaan Nasional termasuk hari libur? Tidak. Hari ini ditetapkan sebagai hari peringatan nasional, bukan hari libur, sehingga aktivitas kerja dan sekolah tetap berjalan seperti biasa.

Mengapa tanggal 17 Oktober dipilih sebagai Hari Kebudayaan Nasional? Tanggal ini merujuk pada pengesahan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara, yang menetapkan Garuda Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Siapa yang mengusulkan Hari Kebudayaan Nasional? Usulan ini datang dari kalangan seniman dan budayawan Yogyakarta, yang melakukan kajian sejak awal 2025 sebelum disampaikan ke Kementerian Kebudayaan.

Apa tujuan utama penetapan Hari Kebudayaan Nasional? Tujuannya memperkuat identitas nasional, mendorong pelestarian budaya, serta menumbuhkan pendidikan dan kebanggaan budaya di kalangan masyarakat.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6