Liputan6.com, Jakarta - Tradisi Gunung Kombang di pesisir selatan Kabupaten Malang menawarkan perpaduan unik antara warisan budaya yang kaya mitos dan ritual spiritual, sekaligus menjadi daya tarik wisata alam yang memukau. Berpusat di sebuah bukit karang di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, tradisi ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Inti dari tradisi Gunung Kombang adalah Petilasan Putri Kadita, sebuah area pertapaan dengan segala mitos yang mengelilinginya, serta upacara adat Labuhan yang menjadi wujud syukur dan tolak balak. Ritual-ritual ini telah berlangsung secara turun-temurun, menjaga kisah-kisah kuno tetap hidup di tengah modernitas.
Selain nilai spiritualnya, Gunung Kombang juga menyuguhkan keindahan alam yang mempesona, mulai dari hamparan pasir putih hingga panorama matahari terbenam yang magis. Simak informasi selengkapnya sebagaimana dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat (9/10/2026).
Advertisement
Petilasan Sakral
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3004543/original/003825300_1577177321-prayer-2544994_960_720.jpg)
Petilasan Putri Kadita menjadi pusat perhatian spiritual di Gunung Kombang, sebuah bukit karang di Pantai Ngliyep. Area ini bukanlah makam kuno, melainkan petilasan yang dalam tradisi Jawa dimaknai sebagai lokasi persinggahan, tempat bertapa, atau area terjadinya peristiwa penting di masa lampau. Banyak peziarah datang ke sini untuk memohon ketenangan batin, keberkahan usaha, dan kelancaran rezeki.
Masyarakat setempat meyakini bahwa Gunung Kombang merupakan salah satu titik utama tempat Putri Kadita menjalani tirakat berat, sebelum kisahnya berkembang dan dikaitkan dengan sosok legendaris Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan. Bahkan, konon Gunung Kombang di Pantai Ngliyep ini menjadi tempat pertapaan Nyi Roro Kidul sebelum ia menjadi Penguasa Pantai Selatan.
Advertisement
Tradisi Labuhan Gunung Kombang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369650/original/005646600_1791532327-wwww.jpg)
Sementara melansir unggahan Instagram @disparbudkabmalang dan @matic.kabmalang, tradisi Labuhan Gunung Kombang dilaksanakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat-Nya. Upacara adat ini biasanya dilakukan setiap tanggal 13 hingga 14 Maulud (Rabiul Awal), bulan ketiga dalam kalender Hijriyah. Tradisi Labuhan Gunung Kombang menjadi salah satu warisan budaya yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat dan menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang sangat penting bagi masyarakat Kabupaten Malang.
Melansir laman UPT Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM), masyarakat setempat terus melaksanakan upacara Labuhan Gunung Kombang karena tradisi ini dinilai masih memiliki fungsi dan makna dalam kehidupan sehari-hari. Di dalamnya terkandung banyak lambang yang menjadi pesan simbolik, yakni nilai-nilai budaya luhur warisan leluhur yang ingin terus disampaikan kepada generasi penerusnya.
Seiring perkembangan zaman, penyelenggaraan upacara ini memang mengalami perubahan. Namun perubahan tersebut hanya menyentuh teknis pelaksanaannya, sedangkan makna dan tujuannya tetap sama. Labuhan tetap menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat yang dilimpahkan-Nya. Selain itu, upacara ini juga menjadi wujud pelestarian tradisi oleh masyarakat setempat.
Pesona Alam dan Daya Tarik Wisata Gunung Kombang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369651/original/008228200_1791532327-efee.jpg)
Gunung Kombang, yang sebenarnya adalah sebuah bukit karang besar menjorok ke laut, terletak di sebelah timur Pantai Ngliyep dan dapat dijangkau melalui jembatan kayu. Meskipun disebut "gunung", ketinggiannya tidak terlalu mencolok sehingga lebih tepat disebut bukit. Area ini menawarkan hamparan pasir putih yang lembut dan pepohonan rindang.
Bagi pengunjung yang ingin menyaksikan langsung Tradisi Labuhan, waktu terbaik adalah sekitar tanggal 13 hingga 14 Maulud (Rabiul Awal) dalam kalender Hijriyah. Selain itu, Gunung Kombang dikenal sebagai salah satu spot terbaik untuk menikmati panorama matahari terbenam (sunset) yang magis, dengan pemandangan laut lepas dan langit jingga keemasan saat senja.
Ombak di Pantai Ngliyep cenderung cukup tenang, namun pengunjung tetap diimbau untuk berhati-hati. Di sekitar tebing dan karang Gunung Kombang, ombak besar yang menggulung kuat dan menghantam dinding karang menciptakan atraksi spektakuler berupa semburan air tinggi dan suara gemuruh dramatis.
Di sisi lain pantai, terdapat Bukit Cinta yang dibalut mitos lokal, konon pasangan kekasih yang berhasil menaikinya hingga ke puncak akan berjodoh. Secara umum, musim kemarau (Mei hingga Oktober) menjadi pilihan yang baik untuk kunjungan wisata pantai di Malang Selatan karena cuaca yang cerah.
Advertisement
Waktu Terbaik Mengunjungi Wisata Gunung Kombang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3595351/original/013332000_1633592458-pexels-md-iftekhar-uddin-emon-403495.jpg)
Waktu kunjungan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan Anda.
- Menyaksikan Labuhan: datanglah sekitar tanggal 13 hingga 14 Maulud (Rabiul Awal) dalam kalender Hijriyah.
- Menikmati sunset: Gunung Kombang dikenal sebagai salah satu spot terbaik untuk menikmati matahari terbenam yang magis, dengan pemandangan laut lepas dan langit jingga keemasan saat senja.
- Wisata pantai: musim kemarau (Mei hingga Oktober) menjadi pilihan yang baik untuk berkunjung ke pantai di Malang Selatan karena cuaca cerah.
- Berziarah atau menyepi: pilih hari biasa di luar musim liburan agar suasana lebih tenang.
Hormati adat setempat, berpakaian sopan, dan ikuti arahan warga saat berada di area petilasan. Jaga kebersihan, jangan meninggalkan sampah, dan tetap berhati-hati di jalur bukit karang yang bisa licin. Jika ingin mengabadikan prosesi Labuhan, sebaiknya minta izin lebih dulu kepada panitia atau warga.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tradisi Gunung Kombang
1. Di mana letak Gunung Kombang dan bagaimana cara menjangkaunya?
Gunung Kombang berada di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Lokasinya di sebelah timur Pantai Ngliyep dan dapat dijangkau melalui jembatan kayu. Meski disebut “gunung”, wujudnya sebenarnya bukit karang besar yang menjorok ke laut.
2. Apa yang dimaksud dengan tradisi Labuhan Gunung Kombang?
Labuhan adalah upacara adat warga Desa Kedungsalam sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat-Nya. Upacara ini juga menjadi bentuk pelestarian tradisi persembahan kepada Mbok Nyai Ratu Mas, penguasa laut selatan yang dimitoskan masyarakat setempat.
3. Kapan Labuhan dilaksanakan dan sudah berapa kali berlangsung?
Labuhan biasanya digelar setiap tanggal 13 hingga 14 Maulud (Rabiul Awal), bulan ketiga dalam kalender Hijriyah. Hingga kini tradisi ini telah berlangsung sebanyak 116 kali dan menjadi salah satu aset wisata budaya Kabupaten Malang.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362168/original/042983100_1790759666-WhatsApp_Image_2026-09-18_at_8.42.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485280/original/014174300_1769501374-IMG-20260127-WA0024.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369365/original/034444800_1791519895-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-09T112039.867.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369649/original/082045300_1791532326-wwww.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369516/original/043424300_1791526757-53053880-a09e-431e-a88b-27a50f2e4acd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3462099/original/094130400_1621600844-pexels-photo-4148842.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369785/original/019343900_1791536556-3e3977fe-c4ad-473f-a5db-3f0580a2d266.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369855/original/026873400_1791537890-b24eb2b3-be38-41be-8db5-7045e3a8cf80.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369693/original/051116300_1791534114-Gemini_Generated_Image_c6shd7c6shd7c6sh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369473/original/069744900_1791524730-ec81b70f-129f-4474-a803-baa1310e53bf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2917177/original/033475700_1568969131-ibunda_presiden_jokowi_didi_kempot-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5320393/original/040313900_1755594441-673x373_copy__2_.jpg)