Musim Hujan Tidak Merata di Indonesia, Ini Penyebab dan Wilayah yang Terdampak

Musim hujan tidak merata di Indonesia karena geografi, monsun, dan El Nino. BMKG prediksi awal musim hujan 2026/2027 lebih lambat.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 16:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Musim hujan tidak merata di Indonesia, dan tahun ini pola itu terlihat lebih jelas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 datang bertahap, dan di sebagian besar wilayah jatuh lebih lambat dari biasanya.

Penyebabnya tidak tunggal. Letak Indonesia di garis khatulistiwa, di antara dua benua dan dua samudra, membuat setiap daerah punya pola hujannya sendiri. Di atas itu, angin monsun serta fenomena global seperti El Nino dan La Nina ikut menentukan kapan hujan tiba dan seberapa deras turunnya.

Berikut ini Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber prediksi terbaru BMKG, alasan wilayah barat umumnya lebih dulu diguyur hujan, serta peran El Nino pada musim hujan kali ini. Di bagian akhir ada imbauan BMKG yang bisa dipakai masyarakat untuk bersiap.

Prediksi BMKG: Musim Hujan Datang Bertahap dan Lebih Lambat

Dalam siaran pers 22 September 2026, BMKG memperkirakan musim hujan 2026/2027 mulai November 2026 di 185 zona musim (ZOM) yang mencakup 24,66 persen daratan Indonesia. ZOM adalah pembagian wilayah berdasarkan pola hujannya. Gelombang berikutnya disusul Desember 2026 di 266 ZOM dengan cakupan 17,31 persen daratan, dan prosesnya bergerak bertahap dari Sumatera bagian utara ke wilayah lain.

Jika dibandingkan dengan kondisi normal, awal musim hujan mundur di 529 ZOM atau 61,08 persen luas wilayah. Hanya 26 ZOM (2,15 persen) yang dimulai pada waktu normal, sedangkan 11 ZOM (1,12 persen) justru lebih maju. Artinya, tahun ini sebagian besar daerah harus menunggu lebih lama.

Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember 2026 di 155 ZOM, Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. BMKG juga memperkirakan musim hujan berlangsung lebih pendek dari normal di 482 ZOM (51,90 persen luas daratan), sementara sifat hujannya berada pada kategori normal di 510 ZOM (69,76 persen).

Letak Geografis: Negara Kepulauan di Garis Khatulistiwa

Indonesia berada di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, serta di antara benua Asia dan Australia. Wilayahnya melintang di khatulistiwa, kira-kira pada 6 derajat Lintang Utara hingga 11 derajat Lintang Selatan dan 95 hingga 141 derajat Bujur Timur. Menurut Britannica, kombinasi struktur kepulauan dan posisi di khatulistiwa menjaga suhu tetap tinggi dan relatif merata.

Pada umumnya, Indonesia mengenal dua musim. Kemarau berlangsung sekitar Mei hingga Oktober, sedangkan musim hujan sekitar November hingga April. Namun, jadwal ini hanya gambaran umum. Setiap daerah punya waktu mulai dan berakhir yang berbeda, dan itulah alasan BMKG membaginya ke dalam ratusan zona musim.

Jumlah hujan tahunan pun timpang antarwilayah. Britannica mencatat, daerah pegunungan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Barat dapat menerima lebih dari 3.000 milimeter per tahun. Sebaliknya, gugusan pulau Nusa Tenggara yang terdekat dengan Australia hanya mendapat sekitar 1.000 hingga 1.500 milimeter per tahun.

Angin Monsun, Pembawa Hujan dan Kemarau

Pergantian musim di Indonesia banyak ditentukan oleh monsun. Pada Desember hingga Februari, monsun barat atau monsun Asia mengantar hujan deras ke selatan Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara. Pada periode inilah curah hujan di banyak daerah mencapai puncaknya.

Sebaliknya, monsun timur atau monsun Australia bertiup dari benua Australia, yang bertekanan tinggi, menuju benua Asia yang bertekanan rendah. Udara yang dibawanya kering, sehingga identik dengan musim kemarau di banyak wilayah. Dari Jawa Tengah ke arah timur menuju Australia, kemarau umumnya berlangsung sekitar Juni hingga Oktober, dan Pulau Timor serta Sumba menerima hujan yang sedikit pada bulan-bulan itu.

Tidak semua daerah mengikuti pola tersebut. Sumatra dan Kalimantan terletak dekat khatulistiwa dan jauh dari Australia, sehingga tidak memiliki musim kering yang tegas. Hujan di sana memang cenderung sedikit berkurang pada Juli dan Agustus, tetapi tidak sampai berhenti.

Mengapa Wilayah Barat Lebih Dulu Diguyur Hujan

Wilayah barat Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan bagian barat, dan Jawa bagian barat, berada di bawah pengaruh langsung monsun barat. Dalam kajian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya (FMIPA UNESA), arah angin ini pertama kali menyentuh kawasan tersebut. Karena itu, hujan lebat cenderung datang lebih dulu dan lebih kerap di barat dibandingkan di timur, seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

Faktor lainnya adalah kedekatan dengan sumber uap air raksasa. Samudra Hindia bagian timur termasuk salah satu perairan terhangat di dunia, dan suhu laut yang hangat mempercepat penguapan sehingga awan hujan lebih mudah terbentuk. Sebaliknya, wilayah timur lebih dipengaruhi Samudra Pasifik dan kerap lebih kering saat El Nino.

Ada pula Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang konveksi tropis yang sering memulai fase basahnya di Samudra Hindia bagian barat. Ketika bergerak ke arah Indonesia, Sumatra dan Jawa bagian barat merasakan dampaknya paling awal. Awan konvektif pun tumbuh cepat, sementara pegunungan memaksa udara naik dan memperkuat pembentukan hujan lokal.

El Nino dan La Nina: Pengatur Besar Musim Hujan

El Nino dan La Nina adalah bagian dari El Nino-Southern Oscillation (ENSO), anomali suhu laut di Samudra Pasifik tropis. Menurut BMKG, saat El Nino angin pasat melemah dan air hangat bergeser ke Pasifik tengah dan timur, sehingga pembentukan awan dan hujan ikut menjauh dari Indonesia dan risiko kekeringan meningkat. Saat La Nina, angin pasat menguat dan mendorong air hangat ke barat, sehingga hujan cenderung bertambah dan risiko banjir membesar.

Kondisi tahun ini condong ke arah El Nino. BMKG mencatat anomali suhu muka laut Nino3.4 mencapai +2,83 pada akhir Agustus 2026, sedangkan indeks ENSO periode Juli sampai September sebesar +2,63. Angka itu menandakan El Nino sangat kuat. Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada Agustus tercatat +0,376 dan ada peluang bergerak ke fase positif sampai akhir tahun. Itulah yang mendasari prediksi musim hujan yang lebih lambat.

BMKG pun mengimbau masyarakat bersiap. Petani disarankan mengatur jadwal tanam, memakai varietas berumur lebih pendek, dan mengendalikan hama. Rumah tangga diminta berhemat air, pemerintah daerah diminta menyiapkan drainase dan jalur evakuasi untuk potensi banjir serta longsor, dan masyarakat dianjurkan menjalankan pemberantasan sarang nyamuk karena demam berdarah dapat meningkat.

Tanya Jawab Seputar Musim Hujan Tidak Merata di Indonesia

1. Kapan musim hujan 2026/2027 dimulai? Menurut BMKG, mulai November 2026 di 185 ZOM dan Desember 2026 di 266 ZOM, diawali dari Sumatera bagian utara.

2. Apakah musim hujan tahun ini lebih lambat? Ya. Awal musim hujan mundur dari normal di 529 ZOM atau 61,08 persen luas wilayah.

3. Mengapa wilayah barat lebih dulu hujan? Karena terkena monsun barat lebih awal dan lebih dekat dengan Samudra Hindia bagian timur yang hangat.

4. Apa pengaruh El Nino terhadap hujan? El Nino menggeser pembentukan awan dan hujan menjauhi Indonesia, sehingga curah hujan berkurang dan musim hujan bisa datang lebih lambat.

5. Kapan puncak musim hujan? BMKG memprediksi puncaknya pada Desember 2026 hingga Februari 2027, dengan jumlah wilayah terbanyak pada Februari 2027 (190 ZOM).

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6