Mengungkap Daftar Anak Pakubuwono (PB) XIII, Generasi Penjaga Warisan Budaya Keraton Solo

Salah satu aspek penting dalam kelangsungan dinasti adalah keturunan, dan Pakubuwono XIII memiliki tujuh orang anak kandung yang memegang peran signifikan dalam dinamika keraton.

Diterbitkan 05 November 2025, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta Keraton Kasunanan Surakarta tengah diselimuti duka mendalam atas wafatnya Raja Sinuhun Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi pada Minggu (2/11/2025) di Rumah Sakit Indriati. Sang raja berpulang setelah berjuang melawan komplikasi penyakit yang dideritanya. Kepergian PB XIII tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga besar keraton, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat tentang siapa yang akan melanjutkan takhta Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Dalam tradisi kerajaan Jawa, suksesi biasanya jatuh kepada putra tertua dari istri resmi atau permaisuri. Namun hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai siapa penerus PB XIII. Di tengah persiapan prosesi pemakaman yang digelar pada Rabu (5/11/2025), perhatian publik pun tertuju pada daftar anak-anak PB XIII, yang kemungkinan besar menjadi calon penerus tahta selanjutnya.

Berikut ulasan lengkap daftar anak-anak Raja Sinuhun Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (5/11/2025). Melalui daftar anak Pakubuwono (PB) XIII, publik dapat memahami bagaimana tradisi kebangsawanan terus diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk tanggung jawab moral, serta dedikasi terhadap pelestarian budaya Jawa klasik.

Daftar Anak Pakubuwono (PB) XIII

1. GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani

Gusti Kanjeng Ratu Timoer Rumbai Kusuma Dewayani merupakan putri pertama dari Sri Susuhunan Pakubuwono XIII. Dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, beliau lebih akrab disapa sebagai GKR Timoer. Sejak kecil, GKR Timoer tumbuh di tengah tradisi agung Keraton Surakarta yang menjunjung tinggi tata krama, nilai moral, serta tanggung jawab luhur terhadap pelestarian budaya Jawa.

Ibundanya bernama Kanjeng Raden Ayu Endang Kusumaningdyah, sosok perempuan bangsawan yang dikenal anggun dan berperan penting dalam mendampingi PB XIII dalam berbagai kegiatan kebudayaan istana. Sebagai putri sulung, GKR Timoer sering kali dianggap sebagai panutan bagi saudara-saudaranya, tidak hanya dalam hal etika bangsawan, tetapi juga dalam perannya menjaga keharmonisan keluarga besar Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

2. GRAy Devi Lelyana Dewi

Putri kedua dari PB XIII adalah Gusti Raden Ayu Devi Lelyana Dewi, atau yang kerap disapa GRAy Devi. Ia dikenal sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan yang aktif berinteraksi di dunia modern tanpa meninggalkan akar budayanya. Melalui media sosial, GRAy Devi membagikan aktivitas dan pemikirannya tentang kehidupan bangsawan Jawa masa kini, memperlihatkan sisi dinamis seorang putri keraton dalam era digital.

Seperti kakaknya, Devi merupakan putri dari KRAy Endang Kusumaningdyah. Ia menunjukkan semangat baru dalam melestarikan budaya tradisional melalui pendekatan modern, menjembatani antara nilai-nilai klasik dan cara hidup generasi muda. GRAy Devi kerap menghadiri acara adat maupun kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat umum, sebagai bentuk dedikasinya terhadap warisan Kasunanan Surakarta.

3. GRAy Dewi Ratih Widyasari

Di urutan berikutnya terdapat Gusti Raden Ayu Dewi Ratih Widyasari, yang lebih dikenal dengan panggilan GRAy Ratih. Ia adalah putri ketiga dari PB XIII dan juga buah hati dari KRAy Endang Kusumaningdyah. GRAy Ratih tumbuh dalam suasana keraton yang penuh nilai-nilai spiritual dan tradisi luhur, menjadikannya pribadi berkarakter lembut namun memiliki keteguhan dalam menjaga adat keluarga.

GRAy Ratih juga aktif di media sosial, khususnya melalui akun Instagram pribadinya, tempat ia berbagi pandangan tentang kebudayaan dan kehidupan bangsawan di masa kini. Keaktifannya tersebut memperlihatkan bagaimana generasi muda keluarga kerajaan mampu menyeimbangkan warisan tradisi dan gaya hidup modern, tanpa mengurangi esensi nilai-nilai budaya Jawa.

4. GRAy Sugih Oceania

Salah satu putri PB XIII yang meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga kerajaan adalah Gusti Raden Ayu Sugih Oceania. Meski kini telah berpulang, kehadirannya semasa hidup tetap dikenang sebagai sosok yang penuh kelembutan dan kecintaan terhadap tradisi. Ia merupakan anak dari KRAy Winari Sri Haryani, istri kedua PB XIII.

Kepergian GRAy Sugih Oceania menjadi kehilangan besar bagi keluarga besar Kasunanan Surakarta. Meski demikian, jejak kehidupannya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah keluarga kerajaan. Sosoknya sering disebut sebagai lambang keteduhan dan kedamaian di lingkungan istana.

5. GRAj Putri Purnaningrum

Gusti Raden Ajeng Purnaningrum merupakan putri bungsu PB XIII dari pernikahan beliau dengan KRAy Winari Sri Haryani. Dalam kesehariannya, GRAj Purnaningrum dikenal sebagai pribadi yang cerdas, aktif, dan memiliki minat besar terhadap dunia seni serta kebudayaan Jawa. Ia juga berinteraksi secara terbuka di media sosial melalui akun pribadinya, @grajpoetry, tempat ia menyalurkan ekspresi dan pandangan mengenai kehidupan modern dalam bingkai tradisi bangsawan.

Meski terlahir sebagai bagian dari keluarga kerajaan, GRAj Purnaningrum tumbuh menjadi sosok yang sederhana dan bersahaja. Ia sering terlibat dalam kegiatan sosial maupun kebudayaan, menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai luhur Kasunanan Surakarta agar tetap relevan bagi generasi muda.

6. KGPH Mangkubumi

Putra tertua PB XIII adalah Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi, yang kemudian memperoleh gelar baru KGPH Hangabehi pada Desember 2022. Ia dikenal sebagai sosok penerus yang memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kesinambungan adat istana. Sebagai anak sulung laki-laki, perannya sangat penting dalam struktur keluarga kerajaan, terutama dalam urusan protokol dan adat kebangsawanan.

Putra ini lahir dari rahim KRAy Winari Sri Haryani, dan sejak muda telah dilibatkan dalam kegiatan internal keraton untuk memahami tata cara pemerintahan tradisional. KGPH Hangabehi dikenal berwibawa serta memiliki pemahaman mendalam tentang sejarah Mataram dan filosofi kepemimpinan Jawa.

7. KGPAA Hamangkunegoro

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Hamangkunegoro, yang juga dikenal luas sebagai Gusti Purbaya, merupakan salah satu anak PB XIII dari pernikahan beliau dengan KRAy Pradapaningsih, atau Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwana. Purbaya lahir pada tahun 2002 dengan nama kecil GRM Suryo Mustiko, dan kemudian dinobatkan menjadi putra mahkota pada usia 20 tahun, menandai peralihan penting dalam garis pewarisan Kasunanan Surakarta.

Sebagai penerus takhta, Purbaya dipersiapkan untuk memahami filosofi, tata nilai, serta tanggung jawab besar seorang raja Jawa. Ia dikenal rendah hati serta memiliki semangat belajar tinggi terhadap sejarah dan tradisi. Kehadirannya diharapkan menjadi simbol kelanjutan dinasti Kasunanan yang tetap menjunjung tinggi kehormatan, kesederhanaan, dan kebijaksanaan seperti leluhurnya.

 

Awal Kehidupan dan Masa Pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono XIII

Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, yang pada masa kecilnya dikenal dengan nama Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi, dilahirkan di Kota Surakarta pada tanggal 28 Juni 1948. Ia merupakan putra pertama dari Sri Susuhunan Pakubuwono XII, raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebelumnya, yang dikenal luas sebagai sosok pemimpin bijaksana sekaligus penjaga nilai-nilai budaya Mataram. Sejak usia muda, Hangabehi tumbuh di lingkungan keraton yang sarat aturan dan tata krama, di mana setiap gerak-gerik serta tutur kata diatur oleh norma-norma luhur warisan leluhur Jawa.

Sebagai putra sulung dari raja yang memiliki enam permaisuri dan 35 orang keturunan, posisi Hangabehi di dalam struktur keluarga kerajaan terbilang sangat penting, meski tidak lepas dari dinamika dan kompleksitas internal. Besarnya jumlah anggota keluarga menyebabkan persoalan mengenai suksesi atau penerus takhta kerap menimbulkan perbedaan pandangan di antara para bangsawan istana. Walau demikian, Hangabehi sejak muda menunjukkan minat mendalam terhadap kegiatan adat dan kehidupan internal keraton. Ia dikenal tekun mempelajari tata upacara, simbol-simbol kerajaan, serta makna filosofis di balik berbagai ritual tradisional Jawa.

Setelah wafatnya Pakubuwono XII pada tanggal 11 Juni 2004, yang kemudian dimakamkan di Kompleks Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta, muncul perdebatan mengenai siapa yang berhak melanjutkan tampuk kekuasaan di Kasunanan Surakarta. Sebagai putra tertua, Hangabehi dinilai memiliki legitimasi kuat untuk meneruskan tahta ayahandanya. Meskipun demikian, proses penetapan dirinya sebagai raja tidak berjalan mulus. Perpecahan di tubuh keluarga besar keraton membuat situasi menjadi sensitif dan memerlukan kebijaksanaan tinggi. Dalam masa-masa awal pemerintahannya, Hangabehi menghadapi tantangan besar; tidak hanya menjaga kelestarian adat istana, tetapi juga berupaya memulihkan harmoni di antara pihak-pihak yang sempat berselisih di dalam lingkungan keraton.

Upaya untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja, diwujudkan melalui upacara jumenengan yang dilaksanakan pada tanggal 18 hingga 19 Juli 2009 di Keraton Surakarta. Prosesi tersebut menjadi momen sakral bagi masyarakat adat Jawa karena menampilkan Tari Bedhaya Ketawang, sebuah tarian suci yang hanya boleh dipersembahkan untuk raja yang sedang bertahta. Kehadiran tokoh-tokoh penting dalam acara tersebut, termasuk Tejowulan yaitu salah satu anggota keluarga kerajaan yang sebelumnya sempat terlibat dalam perbedaan pendapat, menandai langkah menuju penyatuan kembali keluarga besar Kasunanan.

Perjalanan panjang menuju rekonsiliasi akhirnya mencapai titik terang pada tahun 2012. Melalui proses mediasi yang melibatkan berbagai pihak, termasuk DPR RI, Pemerintah Kota Surakarta di bawah kepemimpinan Wali Kota Joko Widodo saat itu, serta perwakilan keluarga besar keraton, tercapai kesepahaman untuk mengakhiri dualisme kepemimpinan. Dalam pertemuan bersejarah tersebut, Tejowulan secara terbuka mengakui dan menetapkan Hangabehi sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono XIII yang sah. Sebagai simbol perdamaian, ia pun diberi gelar kehormatan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung dan diangkat menjadi Mahapatih Keraton Surakarta. Kesepakatan ini menjadi tonggak penting yang menandai berakhirnya perpecahan internal, sekaligus membuka lembaran baru bagi Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk kembali bersatu dalam harmoni budaya dan kebangsawanan Jawa.

Sosok GPAA Hamangkunegoro Sang Putra Mahkota

Setelah wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memasuki babak baru dalam sejarah panjang dinasti Mataram. Posisi raja yang selama ini diemban oleh PB XIII pun menjadi kosong, meninggalkan pertanyaan besar mengenai siapa penerus sah takhta tersebut. Dalam tradisi kerajaan Jawa, proses penentuan pewaris tidak hanya berdasarkan garis keturunan, melainkan juga mempertimbangkan aspek spiritual, moral dan kapasitas kepemimpinan. Oleh sebab itu, penunjukan penerus PB XIII menjadi perhatian penting bagi masyarakat Surakarta dan pemerhati budaya di seluruh Indonesia.

Putra dari PB XIII dan G.K.R. Pakubuwana, yaitu Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra, yang lebih dikenal dengan sebutan Gusti Purbaya, telah dipersiapkan secara matang untuk meneruskan tampuk kepemimpinan Keraton Surakarta. Sejak usia muda, Purbaya menunjukkan ketekunan dalam memahami adat, filosofi, serta tata nilai luhur kerajaan Jawa. Ia secara resmi dinobatkan sebagai Putra Mahkota dalam upacara sakral Tinggalan Dalem Jumenengan Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIII yang digelar di Sasana Sewaka, Keraton Surakarta, pada Minggu, 27 Februari 2022. Momen tersebut menjadi tonggak penting dalam memastikan keberlanjutan tradisi monarki Jawa yang telah berusia ratusan tahun.

Ketika prosesi penobatan berlangsung, KGPAA Hamangkunegoro masih berada dalam masa perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang. Di usianya yang masih dua puluh tahun lebih sedikit, ia telah memikul tanggung jawab besar sebagai calon pemimpin spiritual sekaligus simbol kebudayaan Jawa. Dikenal memiliki kecerdasan akademik dan kepribadian rendah hati, Gusti Purbaya berhasil menyelesaikan studinya dengan baik, sebagaimana tercatat dalam basis data resmi Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI). Ia lulus pada periode akademik 2023/2024, menandai langkah awal dari perjalanan panjang menuju peran sebagai pemimpin masa depan Kasunanan Surakarta.

Tidak berhenti pada pendidikan sarjana, Gusti Purbaya kemudian melanjutkan studi ke jenjang Magister Politik dan Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Ia resmi terdaftar sebagai mahasiswa pada tanggal 19 Agustus 2025. Pilihan bidang studi tersebut menunjukkan kesungguhannya untuk memperdalam wawasan mengenai tata kelola pemerintahan dan strategi kepemimpinan yang modern, tanpa meninggalkan akar tradisi leluhur. Dengan perpaduan antara nilai akademik dan spiritualitas budaya Jawa, KGPAA Hamangkunegoro diharapkan mampu menjadi sosok pemimpin visioner yang menjaga keseimbangan antara warisan masa lalu dan tantangan zaman yang terus berubah. 

FAQ Seputar Topik

Siapakah sebenarnya Pakubuwono (PB) XIII dan bagaimana latar belakang keluarganya?

Pakubuwono XIII merupakan raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948. Beliau memiliki nama kecil Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi. Sebagai putra sulung dari PB XII, beliau mewarisi tanggung jawab besar dalam menjaga warisan budaya, tata adat, dan spiritualitas Jawa. Kehidupan keluarganya cukup kompleks karena PB XII memiliki banyak istri dan puluhan anak, sehingga garis keturunan dan daftar anak Pakubuwono (PB) XIII menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri.

Siapa saja daftar anak Pakubuwono XIII?

Pakubuwono XIII memiliki tujuh anak kandung dan KGPAA Hamangkunegoro (Gusti Purbaya) menjadi putra mahkota

Siapa yang ditunjuk sebagai putra mahkota Keraton Solo?

KGPAA Hamangkunegoro, yang dikenal sebagai Gusti Purbaya, telah dinobatkan sebagai putra mahkota Keraton Solo oleh Pakubuwono XIII pada 27 Februari 2022.

Mengapa topik daftar anak PB XIII menarik perhatian masyarakat?

Banyak orang tertarik membahas daftar anak Pakubuwono (PB) XIII) karena mencerminkan keberlanjutan garis keturunan kerajaan Jawa yang masih bertahan di era modern. Selain itu, kehidupan para keturunan raja sering kali dikaitkan dengan pelestarian budaya, kekuasaan simbolik, serta dinamika internal dalam lingkungan keraton. Publik juga ingin mengetahui bagaimana anak-anak raja menjalankan peran mereka di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan identitas sebagai bangsawan Jawa.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6