Sukses

Antara Inseminasi dan Bayi Tabung, Beda Banget Lho!

Banyak cara yang dipilih pasangan suami istri untuk memiliki anak, di antaranya dengan mengikuti program kehamilan inseminasi dan bayi tabung.

Inseminasi adalah teknik dalam dunia medis untuk membantu proses reproduksi dengan cara memasukan sperma yang telah disiapkan ke dalam rahim menggunakan kateter.

Hal ini bertujuan membantu sperma menuju telur yang telah matang (ovulasi) sehingga terjadi pembuahan. "Inseminasi itu pembuahan alami, jadi sperma kita ambil dari suami kemudian dibersihkan (preparasi) lalu dimasukan ke rahim istri dan sperma berjalan sendiri menuju indung telur sehingga pembuahan terjadi alami," ungkap Dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Rumah Sakit Omni Pulomas, Sub spesialis fertility dan hormon reproduksi, dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K).

Menurut dr. Caroline yang diwawancarai Liputan6.com, Kamis (5/9/2013) inseminasi dan bayi tabung merupakan dua program yang berbeda.

"Kalau bayi tabung, sel telur dibuahi sperma di laboratorium, sehingga yang dimasukan ke dalam rahim sudah berbentuk embrio," ujarnya.

Pengambilan sperma pada suami dapat dilakukan dengan cara bermasturbasi, namun bila ditemukan kendala akan dilakukan pengambilan sperma melalui buah zakar.

Pembuahan atau fertilisasi bayi tabung dilakukan di dalam media kultur di laboratorium, sehingga menghasilkan embrio. Setelah itu dilakukan proses transfer embrio ke dalam rahim agar terjadi kehamilan.

Proses bayi tabung memasuki fase luteal (merupakan masa saat ovulasi terjadi hingga hari pertama mens) untuk mempertahankan dinding rahim dengan memberikan hormon progesteron, biasanya diberikan selama 15 hari pertama.

"Biasanya dalam proses bayi tabung, pembuahannya berlangsung 2-3 hari baru kemudian dimasukan ke rahim si ibu," papar dr. Caroline.

Biaya inseminasi terbilang lebih murah yaitu 2,9 juta dibandingan bayi tabung yang merogoh kocek 60-70 juta. "Sudah pasti lebih mahal kalo bayi tabung karena kan tekhnologinya berbeda dengan inseminasi," ujar dokter yang pernah menangani kasus bayi kembar 3 yang berhasil bertahan hidup pada 19 Maret 2013.

(Mia/Abd)