Sukses

Dibanding Pria, Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV

Kaum perempuan lebih rentan tertular virus HIV dibandingkan laki-laki dilihat dari sisi biologis dan hubungan sosial, kata Ketua Pokja CST Komisi Penanggulangan AIDS Bali Prof Dr dr Tuti Parwati Merati.
    
"Pada banyak kasus, sering ditemukan seorang istri yang hanya diam di rumah dan pada saat gadis tidak melakukan perilaku berisiko ternyata terkena HIV. Mereka tertular dari suaminya yang melakukan hubungan seksual bergonta-ganti pasangan," katanya saat menjadi pembicara pada  sosialisasi HIV/AIDS dengan awak media di Denpasar, seperti dikutip Antara, Selasa (20/8/2013).

Menurutnya yang membidangi pokja Pengobatan, Perawatan dan Dukungan (CST) bagi penderita HIV/AIDS, kaum laki-laki posisinya jauh lebih bisa menentukan nasib dirinya untuk tertular atau tidak, serta mencari cara supaya tidak menularkan dibandingkan kaum perempuan.

"Ditinjau dari segi biologis, bentuk organ reproduksi perempuan memungkinkan lebih banyak menampung cairan sperma yang kemungkinan mengandung virus HIV. Apalagi kondom khusus perempuan belum dijual bebas, harganya jauh lebih mahal dibandingkan kondom untuk pria dan kurang diminati pemakaiannya," ucapnya.
     
Dari sisi sosial, ujar dia, perempuan harus mengemban tugas rangkap. Tidak hanya di ranah domestik dengan berbagai kegiatannya mengurus rumah tangga dan tak sedikit harus bekerja. Akibatnya perempuan seakan tidak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri dan kondisi kesehatannya.
     
"Kaum perempuan seringkali baru memeriksakan dirinya sangat terlambat ketika sudah dalam kondisi sakit dan sudah pada fase AIDS. Demikian juga terkait akses informasi, ketika ada sosialisasi HIV/AIDS, kerapkali yang diprioritaskan mendapatkan informasi hanya kaum pria," katanya.
     
Kunci tidak menularkan HIV, kata guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu, sebenarnya terletak pada kaum laki-laki. Masalahnya apakah mereka mau membuat perubahan atau tidak dan tidak menularkan pada pasangan dengan memakai kondom?
     
"Harapan kami perempuan bisa lebih waspada, sadar dan mendapatkan informasi kesehatan secara seimbang. Memang peran perempuan dalam rumah tangga cukup berat, namun harus sensitif membaca keadaaan lingkungan termasuk perilaku suami," ujarnya.
     
Tuti menambahkan, di Bali yang awalnya HIV/AIDS terjadi pada kelompok berisiko, tidak bisa dipungkiri sudah merambah pada ibu rumah tangga dan bayi.
     
Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, secara kumulatif dari 1987-Mei 2013, jumlah perempuan di Pulau Dewata yang mengidap AIDS sebanyak 1.149 orang, dan HIV sebanyak 1.642 orang. Sementara laki-laki pengidap AIDS sebanyak 2.554 orang dan pengidap HIV sebanyak 2.511 orang.
     
Bahkan menurut kelompok umur, secara kumulatif dari 1987-Mei 2013, terdapat 204 orang yang berusia 1-4 tahun terkena HIV/AIDS, dan bahkan yang berusia kurang dari setahun sejumlah 52 orang. Anak-anak ini terkena HIV/AIDS karena ditularkan dari orang tuanya.

(Abd)
Loading