Pasien TBC Kena Campak, Begini Penanganannya Menurut Dokter

Pengobatan pasien TBC yang kena campak tidak boleh sembarangan, begini kata dokter.

Diterbitkan 14 Maret 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bogor - Pasien tuberkulosis atau TBC bisa terkena campak yang kini angkanya tengah mengalami peningkatan.

TB adalah penyakit menular akibat bakteri yang umumnya menyerang paru. Sementara, campak adalah penyakit akibat virus yang juga amat menular dan bisa memicu masalah paru-paru seperti pneumonia.

Lantas, bagaimana jika pasien TB terkena campak?

“Keduanya harus diobati, TB dengan obat TB, campak dengan antivirus biasanya. Tapi memang kita selalu sarankan untuk minum secara terpisah karena obat TB sendiri juga efek sampingnya cukup banyak biasanya ke lambung ya,” kata dokter spesialis paru dan pernapasan, dr. Herman, Sp.P, FISR kepada Health Liputan6.com dalam temu media di RS EMC Sentul, Bogor, Jumat (13/3/2026).

“Jadi, biasanya kita sarankan untuk minum di waktu berbeda agar lambungnya tidak menjadi sakit,” imbuhnya.

Dia tak memungkiri, sekarang ini banyak kasus campak dan virus lain yang bermunculan seiring terjadinya musim pancaroba.

“Sekarang banyak kasus campak dan juga virus-virus yang lain, memang pada saat pancaroba virus itu merajalela,” katanya.

Apa Pasien TBC Boleh Mudik?

Memasuki momen Lebaran, masyarakat mulai bersiap untuk mudik. Bagi pasien TBC, mudik bukanlah hal yang dilarang selama tetap memerhatikan perlindungan diri dan pemudik lain.

“Khusus untuk pasien-pasien TB ini tidak ada larangan sama sekali untuk mudik karena kita tahu langkah pencegahannya seperti apa. Apabila pasien tersebut mau melakukan aktivitas termasuk mudik, maka kenakanlah masker,” saran Herman.

Herman mendukung pasien TB untuk bergerak aktif termasuk dengan menjalankan kegiatan mudik. Pasalnya, jika pasien tidak aktif bergerak, maka dikhawatirkan sistem imunnya turun.

“Malah nanti imunnya menjadi turun, jadi silakan beraktivitas seperti biasa asalkan wajib kenakan masker terutama dalam dua minggu pertama itu wajib karena penularannya masih sangat tinggi.”

Dia menambahkan, penularan TB setelah dua minggu mulai menurun, tapi penggunaan masker tetap direkomendasikan terutama jika bertemu orang banyak.

“Kalau belum dua bulan saya tetap sarankan untuk tetap mengenakan masker. Kenapa sampai dua bulan? Karena setelah dua bulan kita akan lakukan tes dahak ulang. Apabila dahaknya sudah negatif, maka dia sudah tidak menularkan lagi dan itu sudah bisa beraktivitas seperti biasa tanpa mengenakan masker,” jelasnya.