Ketidakpatuhan Minum Obat Picu Dampak Serius Secara Fisik dan Mental, Pakar: Tak Boleh Anggap Remeh

Kepatuhan minum obat dukung kesembuhan, sebaliknya ketidakpatuhan malah memperpanjang prosesnya dan dapat memicu masalah serius.

Diterbitkan 15 Februari 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kepatuhan minum obat menjadi penentu keberhasilan pengobatan. Sayangnya, dalam konsumsi obat, masih ada pasien yang tidak mematuhi aturan dan anjuran.

Guru Besar Ilmu Farmasi Praktis Universitas Airlangga (UNAIR), Profesor Yunita Nita mengatakan, permasalahan ketidakpatuhan konsumsi obat bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya faktor pasien, terapi, sistem kesehatan, dan kondisi sosio ekonomi.

“Ketidakpatuhan bisa bersifat disengaja ketika pasien menolak atau mengubah pengobatan. Dan tidak disengaja, ketika pasien gagal mengikuti pengobatan meski berniat melakukannya,” kata Yunita di Surabaya, Kamis (12/2/2026) seperti mengutip laman UNAIR.

Ketidakpatuhan minum obat tidak boleh dianggap remeh karena dapat menimbulkan konsekuensi. Pada kondisi kronis seperti hipertensi, gula darah tinggi, dan penyakit ginjal, ketidakpatuhan minum obat dapat menyebabkan peningkatan kerusakan organ. Sedangkan pada aspek mental, melewatkan pengobatan dapat memperburuk gejala sehingga menurunkan kualitas hidup, meningkatkan angka rawat inap, hingga memicu bunuh diri.

Tak hanya berdampak klinis, Yunita mengungkapkan bahwa ketidakpatuhan terhadap terapi juga menimbulkan beban finansial sistem kesehatan. Menjawab tantangan itu, peran apoteker sudah seharusnya bergeser dari sekadar berorientasi pada produk, menjadi berorientasi pada perawatan pasien (patient-oriented care).

“Perubahan paradigma ini terbukti mampu meningkatkan kepatuhan pasien sekaligus memperbaiki luaran klinis dan kualitas hidup,” kata Yunita.

Edukasi dan Pemanfaatan Teknologi

Yunita menambahkan, edukasi kepada pasien saat menerima obat menjadi hal penting.

“Edukasi pasien adalah salah satu strategi yang banyak diterapkan. Yang melibatkan pemahaman pasien tentang kondisi kesehatan mereka dan pentingnya mematuhi pengobatan, hingga pemberian alat bantu juga sudah banyak dibagikan,” katanya.

Edukasi ini dapat pula didukung dengan penerapan teknologi sebagai sarana penting untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan.

“Beberapa inovasi bisa menjadi pilihan. Seperti aplikasi seluler, sistem pemantauan elektronik serta telemonitoring dapat memungkinkan pasien menerima pengingat minum obat, melacak kepatuhan secara real-time, dan memberi kesempatan tenaga kerja untuk melakukan intervensi,” jelas Yunita.

Semakin Patuh Semakin Besar Peluang Sembuh

Minum obat memang kerap menjadi hal yang melelahkan bagi sebagian pasien. Namun, ketidakpatuhan bukanlah pilihan. Alih-alih membuat cepat sembuh, tidak patuh minum obat malah memperlama proses penyembuhan.

Misalnya pada pasien tuberkulosis (TBC) yang harus rutin konsumsi obat setiap hari selama enam hingga sembilan bulan. Jika terlewat, maka tidak akan mencapai konsentrasi optimal dalam darah dan memungkinkan berkembangnya resisten.

Minum dosis obat tepat waktu dan minum secara benar adalah penting untuk mencegah resistensi. Derajat kepatuhan minum obat sangat berhubungan dengan keberhasilan dalam mempertahankan  penekanan virus TB, seperti mengutip laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).