Sudah Dapat MBG tapi Gizi Anak Tetap Tanggung Jawab Orangtua

Kemenkes mengingatkan kepada orangtua untuk memastikan gizi anak-anak terpenuhi meski sudah mendapatkan MBG atau Makan Bergizi Gratis.

Diterbitkan 30 Januari 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tujuan MBG atau Makan Bergizi Gratis adalah untuk  membantu memperbaiki status gizi anak-anak di Indonesia. Meski sudah diberikan MBG, peran penting yang mengetahui kecukupan gizi anak adalah orangtua seperti disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Maria Endang Sumiwi.

"Ingat bahwa MBG itu kan hanya satu porsi, jadi masih ada tanggung jawab orangtua untuk dua porsinya. Pemenuhan gizi itu artinya macam makanannya cukup, berapa kalinya juga cukup," katanya dalam webinar peringatan Hari Gizi Nasional secara daring. 

Maria menegaskan, dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan, pemerintah memiliki mandat untuk pemenuhan dan perbaikan gizi. Di dalamnya tertulis bahwa pemenuhan gizi anak tidak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak tetapi atas kerja sama seluruh elemen masyarakat.

"Yang mesti kita lakukan bersama, pemenuhan gizi oleh semua, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, yakni keluarga. Lalu yang kedua ada perbaikan, misal gizi sudah dipenuhi tetapi kok berat badannya kecil, maka dilakukan perbaikan," ujar dia.

 Apabila berat badan anak tidak naik dan kurus, maka perbaikan gizi harus ditambahkan ekstra makan serta memeriksa kondisi sang anak apakah memiliki penyakit tertentu. Hal ini diketahui dari penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan secara rutin. 

"Orangtua di rumah juga harus memperhatikan pemenuhan gizi anaknya cukup atau enggak. Tahu cukup atau enggak dari mana? Dengan ditimbang dan diukur secara berkala," tuturnya mengutip Antara.

 

Sejak Hamil Gizi Wajib Diperhatikan

Maria juga menekankan pentingnya memperhatikan gizi ibu hamil karena pembentukan otak anak dimulai sejak di dalam kandungan. Hal ini lantaran sekitar 75 persen otak dibentuk sejak dalam kandungan. "Ketika usia tiga tahun itu sudah selesai pembentukan volume otak. Jadi, kalau gizi saat hamil tidak terpenuhi, maka otaknya bisa terhambat," katanya.

Ia juga menyampaikan, berdasarkan hasil dari Cek Kesehatan Gratis (CKG), anak usia dua tahun yang menderita anemia atau kekurangan sel darah merah tercatat 10 persen, artinya pemerintah masih memiliki pekerjaan penting untuk mengatasi hal ini.

"Satu dari 10 bayi usia dua tahun kita menderita anemia, artinya kita masih punya PR balita, dengan MBG mudah-mudahan balita anemia kita menurun. Di usia sekolah, pada SMP kelas 1 dan SMA kelas 1 itu 27 persen, masih satu dari tiga. Semoga setelah ada MBG ini, anemia kita akan turun, karena kalau gizi kita baik, anaknya tumbuh bagus, konsentrasi jadi meningkat," kata Maria Endang Sumiwi.

Menurut data Kemenkes bahwa angka anemia memang sudah menurun, yang lima tahun lalu tercatat 48 persen, kini sudah 27 persen.

"Kalau dulu satu dari dua ibu anemia, sekarang satu dari tiga. Ini membaik, tetapi masih harus turun jauh lagi kalau mau di bawah lima persen. MBG ini sasarannya ada ibu hamil, mudah-mudahan bisa memenuhi itu," katanya.