Menkes Budi: Minimal 28 Juta Warga Indonesia Alami Gangguan Jiwa

Menkes Budi menyebut minimal 28 juta warga Indonesia alami masalah kesehatan jiwa dan gangguan jiwa sehingga pemerintah dorong skrining masif di puskesmas.

Diterbitkan 21 Januari 2026, 12:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa masalah kesehatan jiwa di Indonesia jauh lebih besar dari yang terlihat selama ini. Mengacu pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Menkes menyebut minimal 28 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan kesehatan jiwa.

"WHO menyebutkan satu dari delapan sampai satu dari sepuluh penduduk memiliki masalah kejiwaan. Kalau penduduk Indonesia sekitar 280 juta, berarti minimal 28 juta orang punya masalah kesehatan jiwa," kata Menkes Budi dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI pada Selasa, 20 Januari 2026.

Masalah kesehatan jiwa yang dimaksud sangat beragam. Mulai dari gangguan ringan seperti depresi dan gangguan kecemasan (anxiety disorder), hingga gangguan berat seperti skizofrenia. Selain itu, terdapat pula gangguan perkembangan dan perilaku seperti ADHD, autisme, serta gangguan makan seperti bulimia.

Meski jumlah penderitanya diperkirakan sangat besar, hasil skrining kesehatan jiwa yang telah dilakukan pemerintah menunjukkan angka deteksi yang masih rendah.

Untuk kelompok dewasa, angka skrining masih berada di bawah 1 persen, sementara pada anak-anak sekitar 5 persen. Namun, Budi menilai skrining tetap penting sebagai langkah awal.

"Angkanya memang masih rendah, tapi dengan skrining ini kita sudah mulai tahu gambaran masalahnya," ujarnya.

Menurut Budi, skrining kesehatan jiwa secara masif baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Oleh sebab itu, ketika data mulai terkumpul, hasilnya terkesan mengejutkan.

 

Lebih Baik Kaget Ketimbang Tidak Skrining

Dia menilai kondisi ini justru lebih baik dibandingkan tidak memiliki data sama sekali. "Lebih baik kita kaget karena ada datanya, daripada selama ini tidak pernah diskrining dan tidak tahu apa-apa," tambahnya.

Pemerintah kini tengah menyusun strategi nasional kesehatan jiwa untuk menindaklanjuti hasil skrining tersebut. Fokus utamanya adalah memetakan jenis gangguan mental yang paling banyak dialami masyarakat agar penanganannya lebih tepat sasaran.

"Mental disorder itu banyak, ada tujuh sampai delapan jenis utama. Kita ingin tahu mana yang paling besar prevalensinya lewat pengecekan yang masif," kata Menkes Budi.

Setelah skrining, tantangan berikutnya adalah tata laksana atau penanganan. Dia, menjelaskan, penanganan gangguan kesehatan jiwa berbeda dengan penyakit fisik.

Ada kondisi yang memerlukan pengobatan medis, namun ada pula yang lebih membutuhkan pendekatan psikologis melalui konseling.

 

Penanganan Masalah Jiwa di Puskesmas

Untuk itu, Kementerian Kesehatan tengah mengembangkan layanan kesehatan jiwa di tingkat puskesmas. Sistem pelayanan akan dibangun secara bertahap agar puskesmas mampu menjadi pintu masuk pertama bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan mental.

Berbagai fasilitas pendukung seperti layanan konseling oleh tenaga psikolog akan disiapkan. Selain itu, ketersediaan obat-obatan untuk gangguan jiwa juga akan dijamin agar pasien bisa mengakses pengobatan dengan mudah.

"Indonesia termasuk negara yang paling masif melakukan upaya promotif dan preventif, termasuk untuk kesehatan jiwa," ujar Budi.

Dengan penguatan layanan di puskesmas dan skrining yang lebih luas, pemerintah berharap masyarakat dapat memperoleh bantuan kesehatan mental lebih cepat, sekaligus mengurangi stigma terhadap gangguan kesehatan jiwa di Indonesia.