Agar Tak Ada Aurelie Moeremans Lainnya, Orang Tua Wajib Peka pada Tanda-Tanda Child Grooming

Agar tak ada korban seperti Aurelie Moeremans, orang tua perlu peka mengenali tanda-tanda child grooming dan risiko yang mengintai anak.

Diterbitkan 12 Januari 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aurelie Moeremans mengambil langkah berani dengan membuka pengalaman pahit masa lalunya ke ruang publik. Melalui buku berjudul Broken Strings, dia membagikan kisah nyata tentang bagaimana dirinya menjadi korban grooming sejak usia remaja.

"Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku di-grooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri," tulis Aurelie dalam unggahan di Instagram pribadinya, 3 Januari 2026.

Aurelie, menegaskan, cerita dalam buku tersebut disampaikan tanpa romantisasi dan sepenuhnya dari sudut pandang korban. Dia ingin pembaca memahami bahwa grooming bukanlah proses yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan berlangsung perlahan, halus, dan kerap tidak disadari oleh korban maupun orang-orang di sekitarnya.

Pengakuan ini sekaligus menjadi pengingat penting bagi orang tua dan masyarakat luas bahwa child grooming dapat terjadi pada siapa saja. Oleh sebab itu, memahami siapa yang paling berisiko serta mengenali tanda-tandanya menjadi langkah awal untuk mencegah kejahatan ini.

Siapa yang Berisiko Mengalami Child Grooming?

Mengutip Family Education pada Senin, 12 Januari 2026, pada dasarnya semua anak berisiko mengalami child grooming. Namun, pelaku umumnya menargetkan anak-anak dengan kerentanan tertentu yang memudahkan proses manipulasi.

Beberapa kelompok anak yang lebih rentan mengalami child grooming antara lain:

  1. Anak yang memiliki rasa percaya diri rendah
  2. Anak dengan orang tua yang sangat sibuk atau kurang terlibat dalam kehidupan sehari-hari anak
  3. Anak yang tumbuh di lingkungan rumah yang tidak stabil atau penuh konflik
  4. Anak dengan disabilitas
  5. Anak yang merasa terlantar dan membutuhkan dukungan emosional
  6. Anak usia sangat muda yang belum mampu memahami situasi dan risiko di sekitarnya
  7. Anak yang aktif menggunakan internet dan media sosial tanpa pengawasan rutin dari orang tua
  8. Anak yang terisolasi secara sosial atau memiliki sedikit teman
  9. Dengan memahami faktor-faktor risiko tersebut, orang tua diharapkan dapat lebih waspada, membangun komunikasi terbuka dengan anak, serta menciptakan lingkungan yang aman dan suportif agar anak terhindar dari praktik grooming.

Tanda-Tanda Child Grooming dari Pelaku yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Menurut Sprea, ada pola perilaku umum yang sering ditunjukkan oleh pelaku grooming, di antaranya:

  1. Selalu ingin menghabiskan waktu dengan anak,
  2. Berusaha mencegah orang dewasa lain ikut campur saat bersama anak,
  3. Menunjukkan kekaguman yang berlebihan pada anak,
  4. Memberikan hadiah kepada anak tanpa izin orangtua dan tanpa alasan jelas,
  5. Meyakinkan orangtua bahwa mereka sangat menyayangi anak dan bisa dipercaya,
  6. Masuk ke kamar mandi saat anak berada di dalam atau sering mendatangi kamar anak,
  7. 'Tidak sengaja' memperlihatkan tubuh kepada anak,
  8. Membuat komentar tentang tubuh anak,
  9. Membagikan konten seksual atau melontarkan lelucon seksual,
  10. Sering menyentuh anak, mulai dari sentuhan yang terlihat wajar seperti pelukan atau tos,
  11. Perlahan meningkatkan sentuhan yang tidak pantas, seperti duduk di pangkuan, berciuman, hingga kontak seksual, serta
  12. Mengajak anak bepergian atau meminta izin orangtua untuk membawa anak berlibur.

Tanda-Tanda pada Anak yang Bisa Menjadi Sinyal Grooming

Selain memperhatikan perilaku orang dewasa di sekitar anak, orangtua juga perlu waspada terhadap perubahan pada anak, seperti:

  1. Muncul memar atau cedera seksual yang tidak dapat dijelaskan,
  2. Anak menunjukkan rasa takut terhadap orang tertentu,
  3. Terjadi kemunduran perkembangan, misalnya anak yang sudah tidak mengompol kembali sering mengompol,
  4. Prestasi akademik menurun secara bertahap,
  5. Perubahan perilaku, anak menjadi lebih pendiam, cemas, atau menarik diri, serta
  6. Anak membuat komentar seksual atau menunjukkan pengetahuan seksual yang tidak sesuai dengan usianya.