Kenangan Pahit Lebih Membekas daripada Bahagia, Sains Ungkap Penyebabnya

Mengapa kenangan pahit sulit dilupakan? Sains menjelaskan peran otak, emosi, dan bias negatif dalam menyimpan ingatan.

Diterbitkan 07 Januari 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hampir setiap orang pernah memiliki kenangan buruk di masa lalu. Bentuknya beragam, mulai dari pengalaman sederhana hingga peristiwa berat yang meninggalkan luka emosional mendalam. Menariknya, kenangan menyakitkan kerap terasa jauh lebih membekas dibandingkan momen bahagia.

Pernahkah terpikir mengapa rasa sakit akibat penolakan sosial, kegagalan, atau kecelakaan sulit dilupakan, sementara kebahagiaan seperti merayakan ulang tahun justru cepat memudar? Fenomena ini bukan kebetulan. Jawabannya berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia.

Semakin sering seseorang mengingat pengalaman pahit, semakin kuat pula jalur saraf di otak yang menyimpan memori tersebut. Akibatnya, kenangan buruk terasa terus 'hidup' selama sering diputar ulang dalam pikiran. Inilah sebabnya anggapan bahwa waktu akan otomatis menyembuhkan luka emosional tidak sepenuhnya tepat.

Dari sudut pandang psikologi evolusioner dan neurosains, otak manusia memang dirancang untuk lebih kuat mengunci pengalaman negatif. Mekanisme ini bersifat adaptif dan berperan penting dalam kelangsungan hidup manusia, sebagaimana dijelaskan dalam Psychology Today pada Selasa, 6 Januari 2026.

Penelitian neurosains menunjukkan bahwa memori yang melibatkan emosi negatif memicu aktivitas otak yang jauh lebih kuat dibandingkan memori netral atau menyenangkan. Proses ini melibatkan beberapa bagian penting otak, salah satunya amigdala, pusat pengolah rasa takut dan ancaman.

Amigdala bekerja bersama hipokampus, yang mengatur penyimpanan memori, serta korteks prefrontal, yang membantu menafsirkan konteks suatu peristiwa. Saat seseorang mengalami kejadian traumatis, ketiga area ini aktif secara intens untuk memastikan pengalaman tersebut tersimpan kuat dan mudah diingat kembali.

 

 

Penulis/Reporter: Masni

Pengaruh Faktor Genetika

Selain struktur otak, faktor genetik juga memengaruhi cara seseorang menyimpan dan mengingat trauma. Inilah yang menjelaskan mengapa sebagian orang lebih rentan mengalami gangguan seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Ingatan buruk tidak tersimpan di satu titik saja, melainkan tersebar dalam jaringan saraf yang sangat sensitif terhadap emosi.

Secara evolusioner, kecenderungan mengingat pengalaman negatif merupakan strategi bertahan hidup yang masuk akal. Bagi manusia purba, mengingat makanan beracun atau lokasi berbahaya jauh lebih penting dibandingkan mengingat pengalaman menyenangkan.

Meski kenangan positif berperan dalam membangun hubungan sosial dan kesejahteraan jangka panjang, ingatan negatif memiliki urgensi yang lebih tinggi bagi keselamatan. Dari sinilah muncul bias negativitas, yakni kecenderungan otak untuk lebih peka terhadap hal-hal buruk.

 

Kemampuan Otak Manusia

Sejumlah studi menunjukkan manusia lebih mudah mengingat informasi yang berkaitan dengan ancaman. Bias ini bukan kelemahan, melainkan sistem perlindungan alami agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang berpotensi fatal.

Namun di era modern, mekanisme ini tak selalu menguntungkan. Ancaman yang dihadapi manusia kini lebih bersifat psikologis dibandingkan fisik. Akibatnya, sistem perlindungan tersebut justru dapat memicu gangguan kesehatan mental.

PTSD menjadi contoh ketika memori traumatis terus aktif meski ancaman telah berlalu. Penderitanya dapat mengalami kilas balik yang mengganggu aktivitas sehari-hari karena otak gagal mematikan sinyal bahaya.

Bahkan, kecenderungan ini terbentuk sejak usia sangat dini. Penelitian pada hewan menunjukkan ingatan terhadap pengalaman tidak menyenangkan dapat muncul sebelum sistem memori berkembang sepenuhnya.

Hal ini menegaskan bahwa sejak awal kehidupan, manusia memang diprogram untuk lebih waspada terhadap rasa sakit demi bertahan hidup.