Apakah Trigliserida Sama dengan Kolesterol? Ini Bedanya yang Sering Disalahpahami

Trigliserida sering disamakan dengan kolesterol. Simak perbedaannya, fungsi masing-masing, serta dampaknya bagi kesehatan jantung.

Diterbitkan 25 Desember 2025, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis penyakit dalam, Tofan Rakayudha dari RS EMC Cibitung, mengatakan, banyak orang sering menyamakan trigliserida dengan kolesterol. "Padahal keduanya berbeda. Keduanya penting, tetapi memiliki fungsi yang berbeda," kata Tofan seperti dikutip dari laman EMC pada Rabu, 24 Desember 2025.

Perbedaan trigliserida dengan kolesterol yang paling dasar adalah:

Trigliserida

Trigliserida adalah salah satu jenis lemak (lipid) yang beredar dalam darah. Tubuh membutuhkannya sebagai sumber energi, terutama ketika tubuh tidak mendapat makanan dalam jangka waktu tertentu.

Setiap kali mengonsumsi makanan tinggi kalori, terutama lemak dan karbohidrat, maka kelebihannya akan disimpan dalam bentuk trigliserida.

Trigliserida berfungsi menyimpan energi dari makanan untuk digunakan saat tubuh membutuhkan.

Menjaga kadar lemak darah, termasuk trigliserida, penting untuk kesehatan jantung dan metabolisme tubuh. Namun faktanya, banyak orang memiliki trigliserida tinggi tanpa mereka sadari, bahkan saat merasa sehat dan tidak merasakan keluhan apa pun.

Kolesterol

Sementara, kolesterol adalah lemak yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel dan memproduksi hormon. Namun, jika kadarnya berlebihan, kolesterol dapat menumpuk di dinding pembuluh darah dan menyebabkan penyempitan hingga sumbatan.

Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan tekanan darah tinggi. Kolesterol digunakan untuk membangun sel, membuat hormon, dan membantu proses metabolisme.

Kondisi ini kerap dipicu oleh gaya hidup modern yang serba cepat, penuh makanan praktis, dan minim aktivitas fisik. Lalu sebenarnya, kebiasaan apa saja yang tanpa sadar bisa menyebabkan trigliserida tinggi?

 

Kebiasaan Sehari-hari yang Picu Trigliserida Tinggi

Tanpa disadari, banyak kebiasaan sehari-hari yang tampak biasa saja, tapi ternyata dapat memengaruhi kadar trigliserida dalam darah, seperti:

Terlalu Sering Konsumsi Makanan Manis dan Olahan Tepung

Gula tambahan dalam makanan manis, seperti kue, minuman boba, soda, hingga roti olahan mudah meningkatkan kadar trigliserida.

Gula yang tidak digunakan tubuh sebagai energi akan diubah menjadi lemak dan disimpan dalam bentuk trigliserida. Konsumsi berlebih juga mempercepat kenaikan berat badan, yang semakin memperburuk kondisi ini.

Pola Makan Tinggi Lemak Jenuh dan Trans

Makanan seperti gorengan, makanan cepat saji, mentega, daging berlemak, dan camilan kemasan mengandung lemak jenuh dan trans yang dapat meningkatkan kadar lemak darah.

Lemak-lemak ini tidak hanya menaikkan trigliserida, tetapi juga kolesterol jahat (LDL), sehingga risiko penyakit jantung menjadi lebih tinggi.

Kurang Gerak

Kurang berolahraga, banyak duduk, atau minim aktivitas harian membuat tubuh kesulitan membakar lemak. Akibatnya, trigliserida menumpuk dalam darah.

Aktivitas fisik yang teratur dapat membantu tubuh menggunakan trigliserida sebagai energi, sehingga kadarnya tetap stabil.

Konsumsi Alkohol Berlebihan

Alkohol mudah memicu peningkatan trigliserida karena tubuh memetabolisme alkohol sebagai gula dan lemak. Bahkan, konsumsi alkohol dalam jumlah sedang sekalipun bisa meningkatkan trigliserida pada beberapa orang, terutama jika disertai pola makan tinggi kalori.

 

Selanjutnya

Porsi Makan Terlalu Besar dalam Sekali Waktu

Makan dalam porsi berlebihan membuat tubuh menerima kalori yang lebih banyak daripada yang bisa diproses.

Kelebihan kalori ini langsung dikonversi menjadi trigliserida dan disimpan sebagai lemak tubuh. Makan lebih sering dengan porsi lebih kecil dapat membantu mengontrol kadar trigliserida.

Kurang Tidur dan Stres Berkepanjangan

Kurang tidur dapat mengganggu metabolisme, meningkatkan resistensi insulin, dan memicu kenaikan trigliserida. Stres kronis juga membuat tubuh menghasilkan hormon kortisol, yang dapat menyebabkan nafsu makan meningkat dan memicu kebiasaan makan tidak sehat.

“Itulah beberapa kebiasaan yang sering dilakukan tanpa disadari tetapi dapat memicu peningkatan trigliserida. Dengan mengenali pemicunya, Anda bisa mulai melakukan perubahan kecil yang berdampak besar bagi kesehatan, seperti memperbaiki pola makan, aktif bergerak, dan mengelola stres,” kata Tofan.

 

Dampak Trigliserida Tinggi

Trigliserida yang tinggi dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius jika tidak dikendalikan.

Lemak yang berlebihan dalam darah dapat menumpuk di pembuluh darah maupun organ tertentu, sehingga meningkatkan risiko penyakit jangka panjang. Inilah beberapa dampak yang perlu diwaspadai:

Penyakit Jantung Koroner

Penumpukan lemak dapat menyempitkan pembuluh darah dan mengganggu aliran darah ke jantung.

Stroke

Aliran darah ke otak bisa terhambat jika pembuluh darah tersumbat, meningkatkan risiko stroke.

Perlemakan Hati

Trigliserida berlebih akan disimpan di hati, memicu perlemakan hati alias fatty liver yang dapat menyebabkan peradangan atau kerusakan organ.

Pankreatitis

Pada kadar sangat tinggi, trigliserida bisa memicu peradangan akut pada pankreas yang menyebabkan nyeri hebat.

“Yang perlu diperhatikan, kondisi trigliserida tinggi sering tidak menimbulkan gejala awal. Banyak orang merasa sehat dan baru mengetahuinya saat melakukan pemeriksaan atau ketika komplikasi muncul. Karena itu, menjaga pola makan, aktif bergerak, dan rutin memeriksakan kadar lemak darah sangat penting untuk mencegah risiko jangka panjang,” jelas Tofan.