Cegah Alzheimer Sejak Usia Muda, Dokter Geriatri UGM Ungkap Cara agar Otak Tajam hingga Tua

Ini rumus mencegah Alzheimer sejak usia muda menurut dokter geriatri dari UGM.

Diterbitkan 01 Desember 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri, Probosuseno, dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan rumus mencegah Alzheimer sejak usia muda.

Rumus ini disebut MAS OK yang merupakan singkatan dari:

M (Mother of Learning) menekankan kebiasaan membaca, mendengarkan, menulis, dan menjelaskan ulang untuk merangsang otak.

A (Agama) menekankan doa, kegiatan spiritual, dan sujud yang dapat menstabilkan pikiran.

S (Seni dan Sosial) mengajak seseorang terlibat dalam seni dan aktivitas sosial guna menjaga kesehatan mental.

Selain itu, Probo merangkum pola hidup sehat melalui rumus “OK”, yang mencakup:

O (Obat) minum obat secara teratur bagi pengidap penyakit kronis.

K (Kontrol) melakukan kontrol kesehatan.

Dokter yang akrab disapa Probo menjelaskan, aktivitas fisik merupakan cara paling mudah dan terbukti mampu menunda munculnya Alzheimer.

“Bentuk aktivitasnya tidak harus berat; berjalan kaki selama 30 menit sehari sudah memberi dampak signifikan,” katanya, mengutip laman UGM pada Minggu (30/11/2025).

Target langkah dapat disesuaikan dengan usia, yakni 3.000–5.000 langkah untuk lansia dan 5.000–7.000 langkah untuk usia muda.

“Tidak harus langsung setengah jam. Boleh dicicil 10 menit pagi, 7 menit sore sampai totalnya setengah jam sehari sudah cukup,” katanya.

 

Waktu Ideal Beraktivitas Fisik

Probo juga menyarankan waktu ideal untuk beraktivitas fisik, yakni pukul 07.00–10.00 karena cahaya matahari pagi membantu mengatur hormon suasana hati dan memperbaiki kualitas tidur.

Untuk lansia yang memiliki keterbatasan gerak, aktivitas dapat dilakukan dengan pilihan yang lebih ringan, seperti senam otak, latihan otot sederhana, hingga gerakan tubuh dasar.

“Yang terpenting tubuh tetap aktif karena kalau kurang gerak justru mempercepat terjadinya demensia,” pesannya.

 

 

15 Faktor Risiko Alzheimer

Probo menjelaskan, Alzheimer adalah penyakit degeneratif yang terjadi ketika jaringan otak pada penghantar sinyal saraf mengalami kerusakan. Akibatnya, proses berpikir melambat.

Menurutnya, ada 15 faktor risiko yang meningkatkan kerentanan terhadap Alzheimer, yakni:

  1. Diabetes
  2. Hipertensi
  3. Kolesterol
  4. Obesitas
  5. Polusi
  6. Merokok
  7. Depresi
  8. Pendidikan rendah
  9. Gangguan pendengaran
  10. Gangguan penglihatan
  11. Kurang olahraga
  12. Minim interaksi sosial
  13. Cedera kepala
  14. Kurang cahaya matahari
  15. Jarang beraktivitas di luar.

“Faktor-faktor ini tidak membuat seseorang pasti terkena Alzheimer, tetapi meningkatkan kemungkinan terjadinya demensia,” jelas Probo.

 

Prevalensi Alzheimer di Indonesia

Probo pun mengulas soal angka pengidap Alzheimer di Indonesia. Menurutnya, angka pasiennya terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia.

Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 4,2 juta penduduk Indonesia mengalami Alzheimer, menjadikannya salah satu tantangan kesehatan terbesar bagi masyarakat usia tua.

Kondisi ini muncul akibat penurunan fungsi otak yang berdampak pada memori, perilaku, serta kemampuan berpikir.