[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Penanganan Kesehatan Bencana di Sebagian Sumatra

Enam langkah kesehatan yang perlu dilakukan pada saat bencana seperti yang saat ini terjadi di sebagian Pulau Sumatra.

Diterbitkan 28 November 2025, 15:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Prof Tjandra merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI juga Direktur Program Pasca Sarjana Universitas YARSI Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta Kita tentu amat berduka tentang bencana yang melanda saudara-saudara kita di sebagian Pulau Sumatra.

Secara umum saya sampaikan enam langkah kesehatan yang perlu dilakukan pada saat terjadi bencana seperti yang sekarang menimpa saudara-saudara kita di sebagian pulau Sumatra, yaitu:

  1. Penilaian cepat apa yang dibutuhkan segera (rapid needs assessments)
  2. Mengevaluasi apa sumber daya yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhan yan diperlukan. Dalam hal ini pengaturan pelayanan kesehatan (dari primer, sekunder dan tertier) di sekitar daerah bencana sebaiknya jadi prioritas utama untuk dilaksanakan.
  3. Upaya pencegahan terhadap dampak kesehatan selanjutnya, artinya dengan kegiatan promotif preventif langsung di lapangan.
  4. Segera menerapkan strategi pengendalian penyakit, baik menular maupun tidak menular yang kronik.
  5. Selalu melakukan evaluasi terhadap efektivitas strategi yang dilakukan.
  6. Perbaikan contingency planning untuk antisipasi kemungkinan bencana di masa datang. 

Tentang bantuan mendesak maka ada empat hal pula yang menjadi perhatian yakni ketersediaan air bersih dan makanan sehat, bantuan alat kesehatan rutin harian dan tentu bantuan petugas kesehatan dan obat-obatan serta peralatan kesehatan yang memadai.

 

Kewaspadaan Penyakit

Tentang kewaspadaan penyakit maka perlu diwaspadai setidaknya empat jenis kemungkinan merebaknya penyakit menular, yaitu:

  1. Penyakit yang ditularkan melalui air (water-borne disease)
  2. Penyakit menular lewat makanan (foodborne disease)
  3. Penyakit paru dan pernapasan
  4. Penyakit yang menular melalui kontak langsung antar manusia.

Selain itu, maka tentu perlu diperhatikan tentang kemungkinan perburukan penyakit tidak menular (PTM) yang sudah lama diidap. Lalu, makan yang tidak teratur karena situasi bencana misalnya akan dapat mengganggu sistem metabolisme tubuh, perburukan diabetes mellitus dan lain-lain.

Penyakit paru kronik juga dapat memburuk, misalnya terjadi eksaserbasi akut dari Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan lain-lainnya.

Patut juga dicatat bahwa biasanya yang kita sebut kelompok rentan adalah lansia, anak-anak dan mereka dengan komorbid atau gangguan imunitas. Tetapi pada keadaan bencana maka masyarakat umum yang rumah atau desanya terkena bencana dapat menjadi rentan pula untuk terkena berbagai penyakit.

 

** Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffth University, Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025