Apakah Laki-Laki Umur 21 Tahun Masih Bisa Tinggi? Jawabannya Tak Sesederhana yang Kamu Kira

Masih bisakah laki-laki umur 21 tahun bertambah tinggi? Pelajari faktor genetik, nutrisi, dan kesehatan yang memengaruhi pertumbuhan.

Diterbitkan 20 November 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak laki-laki bertanya-tanya apakah tinggi badan masih bisa bertambah setelah usia 21 tahun? Pertanyaan ini wajar muncul, terutama ketika melihat teman sebaya yang tampak terus tumbuh lebih tinggi. Secara umum, pertumbuhan tinggi badan memang melambat drastis menjelang umur 18 s.d 20 tahun. Namun, jawabannya tidak sesederhana itu.

Tinggi badan ditentukan oleh kombinasi genetik dan lingkungan. Faktor genetik menyumbang hingga 80 hingga 90 persen variasi tinggi badan seseorang. Artinya, riwayat tinggi dalam keluarga memiliki pengaruh sangat besar terhadap tinggi akhir, seperti dikutip dari Health pada Selasa, 19 November 2025.

Sebagian besar laki-laki mencapai tinggi badan dewasa pada umur sekitar 18 tahun. Meski begitu, masih ada yang terus bertambah tinggi hingga usia 20 tahun, bahkan awal 20-an dalam kasus tertentu. Hal ini berkaitan dengan waktu penutupan lempeng pertumbuhan (growth plate) yang berada di ujung tulang panjang.

Selama lempeng pertumbuhan ini belum sepenuhnya menutup, tubuh masih bisa tumbuh lebih tinggi. Setelah lempeng ini menyatu, pertumbuhan tinggi berhenti total.

Biasanya, lempeng pertumbuhan pada laki-laki menutup antara umur 14 hingga 19 tahun, tapi setiap orang berbeda.

Karena adanya variasi individual inilah sebagian kecil laki-laki masih memiliki peluang tumbuh hingga usia 21 tahun. Meski demikian, pertambahan tinggi biasanya sangat kecil dan tidak signifikan.

 

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tinggi Badan Laki-Laki

Pertumbuhan laki-laki dipengaruhi kombinasi faktor genetik dan lingkungan, seperti riwayat keluarga, kualitas tidur, nutrisi, hingga kondisi kesehatan tertentu.

Genetik dan Lingkungan

Beberapa hal yang berperan besar dalam menentukan tinggi badan antara lain:

1. Sifat poligenik

Tinggi badan dipengaruhi oleh banyak gen dari kedua orangtua. Penelitian menunjukkan bahwa genetika menjadi faktor terbesar penentu perbedaan tinggi sekitar 80 s.d 90 persen. 

2. Nutrisi

Faktor terbesar kedua setelah genetika adalah nutrisi. Malanutrisi pada masa kecil atau saat kehamilan, berdampak pada pertumbuhan. Hal ini dapat menyebabkan tinggi badan lebih pendek.

3. Tidur

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak cukup tidur selama masa pubertas juga dapat memengaruhi tinggi badan secara keseluruhan, meski bukti ilmiahnya masih beragam.

4. Obat-obatan

Obat-obatan stimulan untuk attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dapat memperlambat pertumbuhan diawal. Namun, dampaknya pada tinggi badan secara keseluruhan masih belum jelas.

5. Status ekonomi

Anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang lebih tinggi cenderung tidak mengalami kekurangan gizi dan memiliki akses nutrisi yang cukup, yang mendukung pertumbuhan.

Kondisi Kesehatan yang Memengaruhi Tinggi Badan

Beberapa kondisi yang dapat menentukan tinggi akhir meliputi:

1. Kondisi genetik

Kondisi genetik tertentu dapat memengaruhi tinggi badan, seperti marfan syndrome dapat membuat seseorang lebih tinggi. Di sisi lain, down syndrome dan turner syndrome dapat menghambat pertumbuhan.

2. Kondisi endokrin

Ketidakseimbangan hormon seperti hipotiroidisme atau hipopituitarisme dapat menghambat pertumbuhan karena tubuh memproduksi lebih sedikit hormon pertumbuhan.

3. Penyakit kronis

Kondisi seperti kanker, penyakit jantung, atau artritis dapat meningkatkan risiko hambatan pertumbuhan.

4. Skeletal dysplasia

Kelompok kondisi yang memengaruhi pertumbuhan tulang dan sendi, termasuk stenosis tulang belakang atau kifosis yang dapat menurunkan tinggi badan.

5. Pubertas dini

Pubertas sebelum usia 9 tahun menyebabkan pertumbuhan cepat di awal, lalu melambat, sehingga tinggi dewasa bisa lebih pendek dari rata-rata.

Pertumbuhan Setelah Usia 18 Tahun

Laki-laki biasanya berhenti tumbuh antara umur 14 s.d 19 tahun. Namun, beberapa orang tetap tumbuh hingga usia 20-an, yang dapat terjadi karena:

  • Keterlambatan penutupan lempeng pertumbuhan: Bisa terjadi pada mereka yang memiliki defisiensi aromatase, zat yang membantu pembentukan hormon estrogen, hormon yang juga berperan penting dalam pertumbuhan tulang pada laki-laki.
  • Gigantisme: Meningkatkan hormon pertumbuhan dan biasanya membuat penderita terus bertambah tinggi hingga sekitar usia 23 tahun.
  • Hemokromatosis: Kondisi genetik di mana terjadi penumpukan zat besi yang dapat menyebabkan kerusakan organ dan pertumbuhan tambahan pada orang yang memiliki kondisi tersebut.
  • Akromegali: Kondisi langka yang membuat kelenjar pituitari memproduksi hormon pertumbuhan berlebih sehingga jaringan dan tulang tumbuh lebih besar.

Jadi, apakah laki-laki umur 21 tahun masih bisa tinggi? Masih mungkin, tapi peluangnya kecil. Faktor terbesar tetaplah genetik dan apakah lempeng pertumbuhan sudah menutup.

Di usia ini, fokus pada postur tubuh, olahraga, nutrisi, dan gaya hidup sehat lebih realistis dibanding berharap pertumbuhan tinggi yang signifikan.