Jangan Salah, Istilah 'Sembuh' pada Kanker Payudara Ternyata Bisa Menyesatkan

dr. Andhika Rahman mengungkap alasan istilah 'sembuh' pada kanker payudara sebaiknya dihindari demi edukasi pasien.

Diterbitkan 30 Oktober 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh perempuan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Namun, istilah 'sembuh' dalam konteks kanker payudara sering kali menyesatkan. 

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Subspesialis Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, DR. dr. Andhika Rahman, SpPD-KHOM, penanganan kanker payudara lebih berfokus pada mengontrol penyakit daripada menyembuhkannya. 

"Hal ini dilakukan guna meningkatkan kualitas harapan hidup pasien kanker payudara," ujarnya dalam diskusi 'Pendekatan Multidisiplin dalam Perawatan Kanker Payudara di Stadium Lanjut' pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Istilah 'sembuh' dapat menimbulkan harapan yang tidak realistis bagi pasien. "Artinya, si pasien bisa bilang 'Oh ini sudah terkontrol bagus'. Hindari kata sembuh, gitu, teman-teman. Jadi, kalau kami selalu mengedukasi jangan bilang sembuh," tambahnya.

Kanker payudara masih menjadi penyebab kematian utama pada perempuan di Indonesia. Andhika mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus terjadi karena pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. 

"Sebagian besar kasus terjadi karena pasien datang dalam kondisi stadium lanjut," tambahnya.

Kanker Payudara sebagai Penyebab Kematian Utama

 

Data menunjukkan bahwa kanker payudara menempati urutan teratas dari berbagai jenis kanker yang diteliti dan diobati. "Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kanker payudara masih menempati urutan teratas dari berbagai jenis kanker yang diteliti dan diobati," kata Andhika.

Tingginya angka kasus kanker payudara di Indonesia disebabkan oleh berbagai hambatan, termasuk keterlambatan deteksi. "Banyak pasien datang dalam kondisi sudah berat karena tidak mengenali gejala awal," ujarnya. 

Minimnya edukasi juga menjadi faktor utama, di mana masyarakat sering mengabaikan tanda-tanda awal seperti benjolan kecil di area payudara.

Ciri-ciri Stadium Lanjut Kanker Payudara

Masyarakat perlu mewaspadai ciri-ciri stadium lanjut kanker payudara. Pada stadium tiga, kanker akan menyebar ke kelenjar getah bening dan menyebabkan benjolan yang membesar. "Pada stadium empat, sel kanker akan mulai menyebar ke organ-organ lain seperti paru-paru, tulang, dan hati," ujar Andhika.

Pengobatan pada stadium empat akan lebih lama dan harapan hidup akan lebih pendek, dengan tingkat kelangsungan hidup lima tahun hanya sekitar 20 persen. "Jadi, kalau stadium empat itu survive untuk lima tahun cuma 20 persen," ujarnya.

Andhika menjelaskan dua strategi onkologi utama dalam menangani kanker payudara: Overall Survival (OS) dan Progression Free Survival (PFS). OS adalah penelitian menyeluruh terkait berapa lama pasien hidup, sedangkan PFS melihat pengendalian kanker sehingga sel kanker tidak muncul kembali.

Pasien kanker payudara juga perlu melakukan terapi kombinasi, mengingat efek samping obat dapat membahayakan pasien. "Pasien kanker payudara perlu melakukan terapi kombinasi. Menurut penelitian lebih lanjut, efek samping obat juga dapat menyebabkan nyaman pasien terancam," tambahnya.

Peran Penting Tim Multidisiplin

Pemahaman yang baik tentang kanker payudara juga memerlukan peran penting dari tim multidisiplin. Tim ini melibatkan dokter onkologi, dokter bedah, radioterapis, dan berbagai ahli lainnya. 

"Dengan gabungan setiap ahli dalam penanganan kanker payudara, kualitas hidup pasien akan meningkat," kata Andhika.

Semua keputusan dibuat melalui diskusi bersama dalam sistem yang disebut Tumor Board, sehingga diagnosis lebih akurat dan efek samping dapat dilihat bersama-sama.