Nyeri Usai Cedera Tak Kunjung Hilang, Bisa Jadi Ada Masalah pada Sistem Saraf

Sudah istirahat cukup dan jalani fisioterapi, pada beberapa orang ada yang tetap merasakan nyeri pascacedera. Jika ini terjadi, kemungkinan penyebab ada di sistem saraf.

Diterbitkan 19 Oktober 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Istirahat cukup sudah, fisioterapi pun juga sudah dijalani tapi rasa nyeri pasca cedera tak kunjung pulih. Terkait ini, bisa jadi penyebabnya adalah pada sistem saraf.

“Pasien sering datang dengan keluhan yang sama, padahal sudah fisioterapi, stretching, atau bahkan istirahat cukup. Tapi nyerinya muncul lagi. Itu tandanya ada sinyal dari sistem saraf yang tidak seimbang. Ototnya tidak salah, tapi sarafnya yang belum pulih,” kata dokter spesialis neurologi Irca Ahyar di DRI Clinic Bintaro, Tangerang Selatan.

Irca mengatakan memahami hubungan antara saraf dan otot adalah langkah pertama menuju pemulihan sejati.

“Saraf adalah kabel utama tubuh kita. Kalau kabelnya terganggu, pesan dari otak ke otot jadi tidak sampai," tutur Irca.

Kondisi itu membuat otot bisa terasa tegang, lemah, atau nyeri, meskipun secara struktur sebenarnya baik-baik saja.

Salah satu ciri bahwa ada yang tidak tepat dengan sistem saraf yakni ketikan nyeri muncul berulang di tempat sama atau sensasi kebas yang makin sering.

"Maka dari itu, jangan tunggu sampai cedera parah baru diperiksa,” kata sosok yang juga Direktur DRI Clinic ini.

 

Pemulihan Harus Dimulai dari Akar Masalah

Menurut Irca, sebagian besar terapi konvensional masih berfokus pada perbaikan gejala di permukaan. Kalau penanganan hanya fokus pada otot tanpa menelusuri jalur sarafnya, hasilnya seperti menambal ban tanpa mencari paku penyebabnya, alias cepat bocor lagi.

“Setiap tubuh itu unik. Karena itu, kami tidak memberikan terapi yang seragam. Kami menilai bagaimana otak, saraf, dan otot berkomunikasi. Kalau salah satu tidak seimbang, hasil pemulihan tidak akan optimal,” terang Irca.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi pasien dalam proses pemulihan.

“Kami ingin pasien tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Kalau pasien mengerti asal nyerinya, mereka bisa lebih cepat pulih dan lebih sadar untuk mencegah cedera berulang,” katanya

Sistem Saraf Berfungsi Optimal, Tubuh Merespons Gerakan yang Akurat

Sistem saraf yang berfungsi optimal memungkinkan tubuh merespons gerakan dengan akurat. Inilah kunci pemulihan yang sering luput diperhatikan.

“Begitu jalur saraf dibenahi, komunikasi otak dan otot jadi lebih efisien. Gerak tubuh kembali seimbang, dan proses penyembuhan berlangsung alami,” jelasnya.

Untuk mengetahui kemajuan pasien, ia selalu menggunakan data. Yakni lewat alat diagnostik modern membantu mengukur kecepatan konduksi saraf, kekuatan otot, serta keseimbangan tubuh sebelum dan sesudah perawatan.

“Kami ingin semua prosesnya terukur. Pasien bisa lihat sendiri perbedaannya, bukan sekadar ‘merasa lebih baik’,” ujar Irca.

Penting juga bagi pasien untuk mengetahui perbedaan nyeri otot dan saraf.

“Nyeri otot biasanya terasa pegal atau tegang setelah aktivitas fisik. Tapi kalau nyerinya menusuk, menjalar, atau muncul tanpa sebab jelas, besar kemungkinan sumbernya ada di saraf,” tambahnya.

Terapi Saraf Butuh Waktu

Irca mengatakan regenerasi saraf berjalan jauh lebih lambat dibandingkan otot. Maka dari itu penting bagi pasien untuk tidak buru-buru kembali beraktivitas ketika merasa cedera sudah berkurang.  

“Kalau dipaksakan terlalu cepat, cedera bisa kambuh. Pemulihan itu bukan sprint, tapi maraton. Yang penting bukan cepat sembuh, tapi pulih dengan benar,” ujarnya.

Maka dari itu, penting ada proses latihan yang konsisten dan bertahap.