Kebanjiran Informasi Bikin Lelah, Psikolog UI Ingatkan untuk Rehat Sejenak

Bukan berarti tidak peka atau care dengan kejadian di sekitar, rehat sejenak dari informasi bentuk menjaga pikiran tetap tenang.

Diperbarui 07 September 2025, 10:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta Berita soal unjuk rasa belakangan ini terus hadir di media sosial maupun portal berita. Bila ingin rehat sejenak mengikuti informasi seputar hal itu wajar seperti disampaikan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dr Rose Mini Agoes Salim.

“Sebetulnya untuk merasa lelah dengan banyaknya kebanjiran informasi itu sesuatu yang menurut saya lumrah,” kata psikolog yang disapa Romi mengutip Antara.

Romi mengatakan terlalu banyak menerima informasi dari media baik televisi maupun konten media sosial bisa memberikan dampak secara psikologis, terlebih jika informasi yang didapat banyak yang kurang menyenangkan.

Maka itu, keputusan untuk rehat tidak mendengar, melihat atau membaca informasi yang berkaitan dengan kerusuhan atau kekerasan yang terjadi belakangan ini di media nasional menjadi keputusan yang wajar.

“Itu juga akan membantu agar kita tidak kebanjiran informasi yang belum tentu semuanya benar, kadang-kadang ada yang hoax,” katanya.

 

Rehat Sejenak Bukan Berarti Tidak Peka

Romi juga mengatakan tidak perlu merasa bersalah ketika ingin berhenti sejenak untuk tidak mendengar atau melihat berita kejadian kurang menyenangkan yang terjadi belakangan ini.

Romi menyebut dengan rehat sejenak bukan berarti tidak peka atau tidak mau berkontribusi pada apa yang sedang diperjuangkan masyarakat, namun untuk memberi waktu pada pikiran mencerna dan mencoba berpikir lebih kritis atas informasi yang sudah banyak diserap.

“Memberhentikan informasi yang masuk ke diri kita bukan berarti kita kemudian tidak peka, tidak empati, tidak care kepada orang lain," katanya. 

Rehat sejenak dari banjir informasi membuat seseorang sedang mencoba untuk lebih bisa berpikir kritis dan berpikir secara jernih.

 

 

 

 

Jangan Terprovokasi

Romi juga mengingatkan agar generasi muda tidak mudah terprovokasi di media sosial dengan menyajikan konten yang tidak nyata atau hanya dari satu persepsi saja.

Ia juga mengatakan perlunya manusia untuk bisa berpikir kritis atas informasi yang didapat agar bisa memilih dan memilah mana berita atau figur yang bisa dijadikan contoh dan mana saja yang tidak perlu terlalu dipikirkan lebih lanjut.