Raya Bocah Sukabumi Meninggal Akibat Cacingan, BPJS Kesehatan Sampaikan Duka

Raya, bocah Sukabumi berusia 3 tahun meninggal akibat cacingan. Pengobatan terkendala biaya karena tak terdaftar BPJS Kesehatan. BPJS pun menyampaikan duka atas peristiwa tragis ini

Diperbarui 20 Agustus 2025, 12:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang balita asal Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia akibat penyakit cacingan setelah sempat dirawat selama sembilan hari di rumah sakit. Bocah berumur tiga tahun yang akrab disapa Raya itu tak mampu bertahan, meski berbagai upaya pengobatan telah dilakukan.

Selama masa perawatan, Rumah Teduh Sahabat Iin menjadi pihak yang mengurus seluruh kebutuhan medis Raya. Namun, pengobatan terkendala biaya karena balita tersebut tidak memiliki kartu identitas, sehingga otomatis tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Akibatnya, pihak Rumah Teduh harus menanggung biaya pengobatan hingga Rp23 juta, seperti terungkap dalam video yang diunggah akun Instagram @rumah_teduh_sahabat_iin.

Menanggapi kasus ini, BPJS Kesehatan menyampaikan belasungkawa. "Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil merupakan syarat utama pendaftaran peserta JKN," kata Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, dalam keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Rabu, 20 Agustus 2025.

Menurut Rizzky, NIK melekat pada setiap penduduk Indonesia sejak lahir hingga meninggal dunia. "Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk mengurus dan memiliki NIK," ujarnya.

Gubernur Jabar Angkat Bicara

Dia, menambahkan, bagi warga kurang mampu, kepesertaan dapat diusulkan untuk ditanggung pemerintah, baik melalui skema PBI (Penerima Bantuan Iuran) dari pemerintah pusat maupun PBPU Pemda dari pemerintah daerah.

"Kami juga mengimbau masyarakat untuk memastikan status kepesertaan JKN aktif, supaya tidak ada kendala saat mengakses layanan kesehatan," tambah Rizky.

Kisah tragis Raya turut mendapat perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. "Saya menyampaikan rasa prihatin dan kecewa yang sangat dalam, serta permohonan maaf atas meninggalnya balita berusia 3 tahun dengan tubuh dipenuhi cacing," kata Dedi melalui akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71.

Dedi menyebut sudah berbicara dengan dokter yang menangani Raya. Menurut keterangan medis, penyakit yang diderita balita itu adalah cacingan parah. Kondisi hidupnya juga jauh dari layak. Ibunya mengalami gangguan jiwa (ODGJ) dan ayahnya mengidap penyakit tuberkulosis (TBC).

"Sejak kecil dia terbiasa tinggal di kolong rumah, dekat kotoran dan ayam. Kemungkinan tangan sering kotor lalu masuk ke mulut, sehingga menyebabkan cacingan akut," ujar Dedi.

Kondisi Keluarga Raya Bocah Cacingan Sukabumi

Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, mengungkapkan bahwa Raya sering kali harus hidup sendiri. "Anak itu sering main di kolong rumah bersama ayam karena rumahnya panggung. Untuk berjalan juga agak lambat, sering demam, dan sempat didiagnosis sakit paru," kata Wardi.

Wardi, mengatakan, pemerintah desa sudah berusaha memberi perhatian, mulai dari bantuan makanan tambahan harian, pendampingan kesehatan, hingga membangun kembali rumah keluarga Raya yang sempat roboh.

Namun, perawatan medis di rumah sakit baru dilakukan ketika kondisinya memburuk. "Mungkin keluarga tidak menyangka kondisinya sudah separah itu," kata Wardi.

Mengenal Kecacingan

Mengenai kasus ini, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa kecacingan merupakan penyakit akibat infeksi parasit.

"Di antaranya cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang seperti Necator americanus serta Ancylostoma duodenale. Selain itu, ada juga Strongyloides stercoralis dan jenis lainnya," kata Prof. Tjandra kepada Health Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat.

Dia, menambahkan, penularan biasanya terjadi melalui telur cacing yang terdapat pada tinja, lalu mencemari tanah di daerah dengan sanitasi buruk.

"Telur cacing ini bisa masuk ke tubuh anak-anak yang bermain di tanah terkontaminasi, kemudian memasukkan tangan ke mulut tanpa mencuci tangan. Penularan juga bisa lewat air yang tercemar," ujarnya.

Menurut Prof. Tjandra, anak yang terinfeksi cacing umumnya memiliki masalah gizi dan kondisi fisik yang lemah. "Itulah sebabnya kecacingan sering menyerang kelompok rentan," katanya.

Lebih lanjut, Prof. Tjandra menyebut WHO telah menetapkan empat pendekatan utama dalam penanganan kecacingan:

  • Konsumsi obat cacing secara berkala.
  • Penyuluhan kesehatan untuk masyarakat.
  • Perbaikan sanitasi lingkungan.
  • Pemberian obat yang aman dan efektif bila penyakit sudah terjadi.