Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

18 Tahun

Verifikasi UmurStop di Sini

Alergi Air Mani: Kondisi Langka yang Ternyata Bisa Dialami Pria dan Wanita

Sebuah studi terbaru di tahun 2024 bahkan memperkuat dugaan bahwa alergi air mani sebenarnya lebih umum dan sering salah diidentifikasi.

Diperbarui 28 Juni 2025, 22:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi kebanyakan orang, alergi biasanya dikaitkan dengan debu, bulu hewan, atau kacang-kacangan. Tapi tahukah Anda, sebagian kecil orang — terutama wanita — justru bisa alergi terhadap air mani pasangan? Kondisi langka ini dikenal sebagai hipersensitivitas plasma mani (seminal plasma hypersensitivity/SPH).

Apa itu SPH?

Menurut Cleveland Clinic, SPH termasuk dalam kategori hipersensitivitas Tipe 1, serupa dengan alergi kacang atau bulu hewan peliharaan. Artinya, reaksi imun terjadi cepat dan bisa berlebihan. Alergen utamanya bukan sel sperma, melainkan antigen spesifik prostat (PSA) yang terdapat dalam plasma mani.

“Banyak kasus tidak dilaporkan, salah didiagnosis atau dianggap sebagai IMS, infeksi jamur, atau ‘sensitivitas’ umum,” tulis Michael Carroll, profesor madya ilmu reproduksi, di The Conversation.

Sebuah studi terbaru di tahun 2024 bahkan memperkuat dugaan bahwa SPH sebenarnya lebih umum dan sering salah diidentifikasi.

Bagaimana tanda-tandanya?

Gejala alergi air mani bisa bervariasi, mulai dari ringan hingga cukup mengancam jiwa. Biasanya, wanita dengan SPH akan merasakan rasa terbakar, gatal, kemerahan, atau bengkak pada vulva atau vagina setelah kontak dengan air mani. Pada kasus yang lebih berat, bisa muncul biduran (gatal-gatal), sesak napas, pusing, hingga syok anafilaksis.

Dalam satu kasus, seorang mahasiswa di Colorado melaporkan wajahnya sampai mengalami kelumpuhan sementara setelah seks oral. Ia bercerita, keparahan gejala bergantung pada jumlah sperma yang mengenai tubuhnya.

SPH pertama kali dicatat secara medis pada tahun 1967, ketika seorang wanita harus dirawat di rumah sakit karena reaksi alergi parah setelah berhubungan seksual.

Awalnya, para ahli memperkirakan hanya ada kurang dari 100 kasus di seluruh dunia. Namun, riset Jonathan Bernstein pada 1997 mengungkapkan hampir 12% keluhan pascakoitus yang dilaporkan dapat digolongkan sebagai SPH. Angka ini didukung Carroll lewat survei lanjutan — meski menurutnya kasus sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, dilansir New York Post

 

Fakta Menarik: Ternyata Bisa Ada Reaksi Silang!

Carroll juga mencatat fakta unik: protein Can f 5 dalam bulu anjing punya kemiripan struktur dengan PSA manusia.

Artinya, wanita yang alergi terhadap anjing bisa memiliki risiko lebih tinggi mengalami alergi air mani. Ada juga kisah viral tahun 2022, di mana bintang OnlyFans Lucy Banks membagikan pengalamannya mengalami reaksi alergi kacang hanya karena pasangan seksualnya sebelumnya makan kacang.

Jadi, potensi “alergi silang” ini memang nyata.

 

Bisakah Dicegah atau Diobati?

Secara medis, diagnosis SPH bisa dilakukan melalui tes tusuk kulit. Penggunaan kondom bisa mengurangi paparan PSA — meskipun, bagi beberapa orang, alergi lateks pada kondom justru menambah masalah.

Bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, SPH tidak menyebabkan infertilitas secara langsung. Tapi memang bisa membuat program hamil jadi menantang.

Beberapa dokter merekomendasikan terapi desensitisasi dengan plasma mani yang diencerkan, pengobatan antihistamin sebelum berhubungan intim, atau bahkan IVF (bayi tabung) dengan sperma yang sudah dicuci bersih dari plasma mani.

 

Bukan Hanya Wanita, Pria Pun Bisa Alami Alergi Ejakulasi

Namun ternyata bukan hanya wanita yang bisa alergi air mani. Ada kondisi yang disebut sindrom penyakit pascaorgasme (POIS). Ini adalah reaksi autoimun atau alergi yang dialami pria terhadap air mani mereka sendiri.

Gejala POIS tidak main-main: kelelahan ekstrem, demam, berkeringat, hidung tersumbat, bahkan mata gatal. Bisa muncul dalam hitungan detik hingga jam setelah ejakulasi, dan berlangsung beberapa hari.

POIS pertama kali dicatat pada 2002, dan hingga kini baru sekitar 50 kasus yang terdokumentasi. Namun para ahli menduga, mirip seperti SPH, angkanya bisa lebih tinggi.

 

Mengapa Banyak Kasus Tidak Dilaporkan?

Karena gejalanya sering dianggap “malu-maluin” atau dikira infeksi jamur biasa, banyak penderita SPH atau POIS enggan memeriksakan diri. Padahal, diagnosis yang tepat bisa membantu mengurangi risiko gejala parah, termasuk syok anafilaksis.

Singkatnya, alergi air mani memang bukan sekadar mitos. Jadi, kalau Anda atau pasangan sering mengalami reaksi aneh setelah berhubungan intim, jangan ragu konsultasi ke dokter. Tes alergi sederhana bisa membantu mengungkap penyebab sebenarnya — dan membuka jalan untuk penanganan yang tepat.