Deteksi Dini HIV, Sifilis dan Hepatitis B, Jaga Kesehatan Ibu dan Bayi

Deteksi dini HIV dan Hepatitis B pada ibu hamil sangat penting untuk mencegah penularan ke bayi. Program Triple Eliminasi dan inovasi di puskesmas meningkatkan cakupan pemeriksaan.

Diperbarui 17 Mei 2025, 09:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Deteksi dini HIV dan Hepatitis B pada ibu hamil merupakan langkah krusial dalam melindungi kesehatan ibu dan bayi. Penularan HIV, Hepatitis B, dan Sifilis dari ibu ke anak dapat menyebabkan penyakit serius, bahkan kematian. Pemeriksaan darah selama perawatan antenatal (ANC) menjadi kunci pencegahan.

Indonesia memiliki program Triple Eliminasi untuk mencegah penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B. Program ini mencakup deteksi dini, pengobatan, dan imunisasi. Deteksi dini memungkinkan pemberian pengobatan tepat waktu, mengurangi risiko penularan, dan melindungi kesehatan ibu dan bayi.

Studi MENJAGA oleh tim Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM menunjukkan peningkatan signifikan dalam cakupan pemeriksaan di beberapa puskesmas. Penelitian ini menekankan pentingnya deteksi dini sejak trimester awal kehamilan melalui inovasi layanan dan kolaborasi lintas sektor. Inovasi ini berhasil meningkatkan cakupan tes HIV, sifilis, dan Hepatitis B pada ibu hamil.

Pentingnya Triple Eliminasi Sejak Trimester Awal

Deteksi dini HIV, Hepatitis B, dan Sifilis melalui program Triple Eliminasi sangat penting dilakukan sejak trimester pertama kehamilan. Penanganan dini infeksi ini dapat mencegah penularan ke bayi dan melindungi kesehatan ibu.

Pemeriksaan rutin selama ANC membantu mendeteksi infeksi lebih awal. Pengobatan antivirus untuk HIV dan imunisasi Hepatitis B pada bayi sangat efektif mencegah penularan.

"Intervensi di kedua wilayah itu berhasil meningkatkan cakupan tes HIV, sifilis, dan hepatitis B pada ibu hamil secara signifikan melalui inovasi layanan berbasis puskesmas dan kolaborasi lintas sektor," ujar Prof. Ari Probandari, peneliti utama dari PKT UGM, dikutip dari laman ugm.ac.id. 

 

Transformasi Puskesmas Rumpin

Puskesmas Rumpin, Kabupaten Bogor, menunjukkan peningkatan luar biasa dalam cakupan pemeriksaan Triple Eliminasi. Awalnya hanya 50% di trimester pertama, setelah menerapkan Continuous Quality Improvement (CQI), angka ini meningkat hingga 126,8%.

Peningkatan ini berkat metode CQI yang mendorong analisis akar masalah dan solusi berbasis lokal. Peran aktif tenaga kesehatan juga sangat penting dalam keberhasilan ini.

"Peningkatan di Puskesmas Rumpin ini menjadi peningkatan tertinggi dibanding puskesmas lainnya setelah dilakukan intervensi," ungkap Prof. Ari Probandari. "Berkat studi ini, inovasi kami menjadi juara 1 dalam lomba inovasi di tingkat kabupaten," tambah dr. Kuncahyo Sri Harri Murthi, Kepala Puskesmas Rumpin.

Bandung Perkuat Kolaborasi dengan Bidan Swasta

Di Kota Bandung, peningkatan cakupan tes dicapai melalui penguatan jejaring dengan bidan swasta. Kolaborasi ini memperluas akses pemeriksaan bagi ibu hamil.

Pembentukan tim lintas program di setiap puskesmas dan sistem pelaporan yang lebih terintegrasi juga berperan penting. Sistem yang lebih responsif dan terintegrasi memudahkan pemantauan dan penanganan.

"Dalam studi ini kami jadi didorong untuk menganalisis masalah dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan sistematis," jelas dr. Ira Jani Dewi, Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bandung.

Harapan untuk Sistem Kesehatan yang Lebih Tanggap

Studi MENJAGA bertujuan memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan. Bukan hanya soal angka, tetapi juga kualitas layanan.

Setiap puskesmas didorong untuk menganalisis masalah, merancang solusi, dan memonitor dampaknya. Pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan sangat penting.

"Setiap pengelola puskesmas diharapkan bisa menganalisis akar masalah dalam layanan tes antenatal, merancang solusi berbasis konteks, serta memonitor dampaknya," pesan Prof. Ari Probandari. Studi ini merupakan kolaborasi PKT UGM, UNS, LSHTM, dan UNSW, didukung UK Medical Research Council.

Deteksi dini HIV dan Hepatitis B pada ibu hamil sangat penting untuk mencegah penularan ke bayi. Partisipasi aktif ibu hamil dalam program skrining dan pemeriksaan antenatal sangat dianjurkan untuk memastikan kehamilan yang sehat dan mencegah penularan infeksi ke generasi berikutnya. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh dari tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.