Disebut Tolak Pasien Gawat Darurat, Ini Klarifikasi RS Unhas dan Kronologi Lengkap

Manajemen RS Unhas mengatakan kondisi IGD malam itu penuh tapi pasien tersebut tetap mendapatkan penanganan prosedur medis dari tenaga kesehatan yang berjaga.

Diperbarui 02 Mei 2025, 13:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makassar Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (RS Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan angkat bicara setelah viral video dugaan penolakan merawat pasien gawat darurat. Pihak RS Unhas memberikan klarifikasi termasuk pernyataan bahwa tidak pernah menolak pasien gawat darurat.

"Manajemen RS Unhas dengan tegas menyatakan bahwa rumah sakit kami tidak pernah menolak pasien gawat darurat. Setiap pasien yang datang dengan kondisi darurat selalu kami terima dan berikan penanganan sesuai dengan prosedur medis yang berlaku," tulis RS Unhas dalamp pernyataan resmi yang dikeluarkan pada 30 April 2025.

Dalam video yang viral di media sosial itu, tampak ada seorang pria yang tengah merekam pasien yang berada di dalam ambulans. Lalu, ada tenaga kesehatan menggunakan baju medis warna hijau yang mengatakan tentang larangan merekam tanpa izin di fasilitas pelayanan kesehatan. Video tersebut dinarasikan menolak pasien untuk masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD). 

Terkait kajadian itu, RS Unhas mengatakan bahwa pasien tersebut datang dengan ambulans pada Senin, 28 April 2025 pukul 21.30 WITA. Saat pasien tersebut datang, ruang IGD saat itu penuh dengan delapan pasien, serta terdapat dua pasien lain yang sedang menunggu antrean masuk.

Perawat memeriksa kondisi vital pasien. Lalu, dokter S yang berjaga di IGD saat itu keluar untuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien. Dokter kemudian mengatakan kepada keluarga pasien bahwa pasien dapat ditangani di RS Unhas dengan catatan pasien tetap dirawat di atas brankar ambulans karena semua brankar di IGD sudah terpakai.

RS Unhas pun mengatakan bahwa pasien tersebut sudah mendapatkan penanganan sesuai prosedur medis.

"Kami juga menegaskan bahwa meskipun kapasitas IGD pada saat tertentu penuh, kami tetap menerima pasien dan memberikan perawatan yang diperlukan, termasuk melakukan penanganan di luar ruang IGD apabila diperlukan demi keselamatan pasien," tulis RS Unhas. 

Kronologi Kejadian di RS Unhas pada Senin, 28 April 2025

Berikut adalah kronologi lengkap kejadian yang terjadi pada hari Senin, 28 April 2025:

  1. Sekitar pukul 21.30 WITA, seorang pasien laki-laki 66 tahun tiba di depan IGD RS Unhas menggunakan ambulans.
  2. Petugas keamanan RS segera memanggil perawat yang bertugas untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap pasien yang masih berada di atas ambulans.
  3. Perawat yang bertugas (Tn. A), segara melakukan pemeriksaan tanda vital pasien di atas ambulans. Lalu, menjelaskan bahwa ruang IGD saat itu penuh dengan delapan pasien, serta terdapat dua pasien lain yang sedang menunggu antrean masuk IGD.
  4. Perawat kemudian memanggil Dokter S yang sedang bertugas jaga di IGD untuk segera memeriksa pasien di atas ambulans sambil melaporkan hasil pemeriksaan tanda vital.
  5. Dokter S segera keluar dan memeriksa pasien, menilai kesadaran pasien yang tampak tidak sadar namun memberikan respons membuka mata saat dipanggil.
  6. Dokter menanyakan keluhan dan riwayat penyakit pasien kepada keluarga. Juga menunjukkan berkas resume medis pasien dan rencana kontrol di Poliklinik Penyakit Dalam RS Unhas keesokan harinya. Keluarga menjelaskan bahwa pasien tidak makan dan minum sejak pagi sehingga merasa lemas dan mengalami nyeri pada kedua lutut.
  7. Pemeriksaan tanda vital menunjukkan tekanan darah, nadi dan pernapasan yang tidak normal. Dokter menyimpulkan pasien membutuhkan penanganan segera.
  8. Dokter menjelaskan kepada keluarga bahwa IGD sedang penuh dan ada pasien lain yang sedang antre untuk masuk.

Keluarga Pasien Tetap Ingin Pasien Dirawat di RS Unhas

9. Keluarga pasien tetap menginginkan agar pasien segera ditangani di RS Unhas.

10. Pada saat pemeriksaan berlangsung, seorang laki-laki merekam video tanpa izin dan mengganggu proses pemeriksaan.

11. Dokter menegaskan larangan merekam tanpa izin di fasilitas pelayanan kesehatan khususnya selama tindakan medis berlangsung dan menjelaskan kondisi IGD yang penuh serta pasien yang sedang antre.

12. Dokter meminta pria tersebut yang sedang melakukan perekaman untuk melihat kondisi pasien lain yang menunggu, namun pria tersebut menolak dan tetap merekam.

Pasien Dirawat di Atas Brankar Ambulans

13. Dokter kemudian mengabaikan pria. Dokter fokus merawat pasien dan menjelaskan kepada keluarga bahwa pasien dapat ditangani di RS Unhas dengan catatan pasien tetap dirawat di atas brankar ambulans karena semua brankar di IGD sudah terpakai.

14. Dokter juga memohon pengertian pasien lain yang sedang menunggu untuk mengutamakan pasien yang kondisinya lebih gawat.

15. Dokter memberikan instruksi kepada perawat untuk melakukan prosedur tindakan medis serta mengambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium, sementara keluarga pasien melakukan pendaftaran administrasi.

16. Pasien mulai mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Keluarga meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi serta mengucapkan terima kasih kepada dokter.

17. Setelah pemberian cairan infus, tekanan darah pasien sudah mulai membaik dan pasien mulai sadar dengan tanda vital yang membaik.

18. Dokter menjelaskan bahwa beberapa pasien di dalam IGD akan segera dipindahkan ke ruang perawatan sehingga tempat tidur di IGD dapat digunakan untuk pasien yang menunggu.

19. Sekitar satu jam kemudian, tempat tidur di IGD tersedia dan pasien yang menunggu, termasuk pasien di atas brankar ambulans, dapat masuk dan mendapatkan penanganan lebih lanjut.

20 Sekitar pukul 00.00 WITA, hasil laboratorium telah di dapatkan dan pasien dikonsultasikan ke bagian penyakit dalam untuk penanganan lanjutan. Pada pukul 02.00 WITA, pasien dipindahkan ke kamar perawatan untuk perawatan lebih lanjut.