Sukses

7 dari 10 Masyarakat Indonesia Tak Berniat Kurangi Makan Daging Saat Puasa Ramadhan 2023

Liputan6.com, Jakarta - Penelitian survei dari Health Collaborative Center (HCC) menunjukkan indeks keinginan berperilaku makan berkelanjutan (sustainable eating intention index) pada puasa Ramadhan tahun ini cenderung rendah. 

Studi Sustainable Eating Intention Index yang dilakukan pada 2531 responden ini menunjukkan total indeks responden mayoritas kearah tidak sustainable.

“Perilaku yang paling tidak sustainable adalah aspek pilihan jenis dan bahan makanan yang secara mayoritas responden berniat tetap ingin mengonsumsi makanan dari daging, serta diolah dengan minyak olahan,” jelas Peneliti Utama dan Ketua HCC Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK.

Menurut konsep pangan berkelanjutan, memang sebaiknya pola konsumsi yang kaya dengan ikan atau nabati dinilai lebih sustainable.

“Namun, studi kami ini menunjukkan jelang puasa ini masyarakat masih berniat untuk mempertahankan pola dan bentuk makan yang sama bahkan cenderung lebih banyak daging dan olahan dengan minyak,” tuturnya.

Simpan Makanan untuk Sahur

Di sisi lain, ada temuan baik. Salah satu yang secara statistik signifikan adalah niat atau intensi responden untuk menyimpan kelebihan makanan pada saat buka puasa.

Makanan berlebih itu kemudian dijadikan sebagai menu sahur.

“Ini adalah sikap dan niat atau intensi yang konsisten dengan salah satu sustainable eating index yaitu ‘cut the waste’ atau mengurangi kecenderungan membuang sisa makanan,” lanjut Ray. 

2 dari 4 halaman

Tidak Buang-Buang Makanan

Bahkan, analisis lanjutan memperlihatkan mayoritas orang Indonesia, yang diwakili oleh responden pada survei ini, secara tegas mengatakan sangat setuju untuk menyimpan kelebihan makanan yang biasanya sering terjadi pada saat buka puasa dan mengungkapkan pasti akan dikonsumsi untuk sahur. 

Indeks intensi ini sangat dominan sehingga bisa diinterpretasikan bahwa responden yang berpuasa akan memilih untuk tidak banyak food waste selama puasa.

3 dari 4 halaman

Kesadaran Minum Air Putih Meningkat

Ray juga menemukan fakta bahwa intensi masyarakat untuk lebih banyak minum air putih dan atau air mineral dibanding air mengandung gula atau minuman manis meningkat.

“Begitupun dengan niat lebih banyak minum air putih dan atau air mineral. Ini adalah intensi yang baik,” tutur Ray.

“Minuman manis atau bersoda dan minuman mengandung gula tinggi dikategorikan sebagai tidak sustainable. Selain mengakibatkan potensi risiko kesehatan juga asupan minuman manis atau mengandung gula tinggi terkait dengan pengolahan yang tidak berkelanjutan juga,” tegas Ray.

4 dari 4 halaman

Penyebab Rendahnya Sustainable Eating

Menurut Ray ada beberapa aspek kunci yang menyebabkan indeks sustainable eating menjadi rendah.

“Ada korelasi antara ketersediaan dan stok bahan pangan serta akses dan kemampuan membeli bahan pangan dengan total sustainable eating index, dengan kekuatan korelasi sedang,”

“Artinya responden khawatir kalau berniat mengganti kebiasaan makan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan tetapi nanti stok ikan atau sayur atau pangan ramah lingkungan malah tidak bisa tersedia dan bahkan mungkin harga akan lebih mahal saat bulan puasa”, ungkap Ray.

Tim peneliti HCC merekomendasikan pentingnya untuk mengapreseasi beberapa intensi dan sikap positif terkait pola makan berkelanjutan selama bulan puasa ini. Studi ini secara metodologi memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi atau confident interval 95% dan margin of error rendah (1,95%).

Sebaliknya, beberapa indeks perilaku makan yang cenderung tidak berkelanjutan, seperti kecenderungan untuk mengonsumsi makanan dengan olahan minyak, harus dimitigasi agar tidak memberi dampak kesehatan yang tidak baik juga.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.