Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

18 Tahun

Verifikasi UmurStop di Sini

Kerap Jadi Pemicu Perceraian, Seks Punya Andil Sangat Besar dalam Hubungan?

Liputan6.com, Jakarta - Fase awal pernikahan (honeymoon phase) sering dianggap sebagai masa paling berbunga-bunga. Anda dan pasangan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan kontak fisik dan dalam banyak kasus, hubungan seks paling banyak dilakukan pada fase tersebut.

Namun belum ada yang sepenuhnya dapat memastikan berapa lama honeymoon phase akan berlangsung. Bahkan dalam hubungan dengan chemistry yang kuat, hubungan seks biasanya akan menurun seiring berjalannya waktu.

Pada beberapa pasangan, seks juga terhenti dan menjadi salah satu pemicu perceraian. Lalu, benarkah seks punya andil sangat besar dalam hubungan hingga bisa memicu perceraian?

Edukator seks dan penulis Trans Sex: Clinical Approaches to Trans Sexualities and Erotic Embodiments, Lucie Fielding mengungkapkan bahwa terdapat beberapa penyebab mengapa seks dapat terhenti dalam hubungan.

"Apakah boleh mengakhiri hubungan karena seks? Tentu saja. Dalam beberapa kasus, seks memang bisa jadi alasan sebuah hubungan berakhir karena para pasangan tidak bisa melewati persoalan tersebut," ujar Lucie dikutip Elite Daily, Selasa (5/7/2022).

"Tapi apakah harus selalu jadi alasan untuk berpisah? Tentu saja tidak. Ada banyak cara untuk menyelesaikan persoalan tersebut," tambahnya.

Lucie menjelaskan bahwa seks seringkali menjadi perhitungan terakhir dalam hubungan. Sehingga akhirnya hal tersebut kerap menjadi alasan perpisahan karena para pasangan tidak tahu cara apa yang harus ditempuh untuk mengatasinya.

Menurut Lucie, apabila pasangan ingin mencegah perceraian, penting untuk lebih dulu berupaya fokus pada apa yang dapat membentuk keintiman, kesenangan, dan koneksi satu sama lain.

2 dari 4 halaman

Jadi Tantangan dalam Hubungan

Pendapat selaras diungkapkan oleh edukator seks, Aubri Lancaster. Aubri menjelaskan, menurunnya frekuensi seks dalam hubungan bisa menjadi tantangan yang sulit untuk diatasi.

Pilihan untuk mengakhiri hubungan karenanya pun tergantung pada bagaimana Anda dan pasangan mampu menyelesaikan persoalan tersebut. Menurutnya, hubungan yang memuaskan tidak ditentukan oleh seks kecuali Anda dan pasangan yang menginginkannya.

"Jika Anda memiliki cukup banyak kecocokan lainnya dalam hubungan, kurangnya seks tidak akan menghancurkan Anda dan pasangan," kata Aubri.

Lucie sendiri mengungkapkan bahwa ada banyak alasan mengapa frekuensi seks bisa menurun. Sebagian besar disebabkan oleh faktor di luar hubungan itu sendiri.

Misalnya, Anda atau pasangan merasa terlalu stres pada pekerjaan. Relasi dengan anggota keluarga lainnya juga bisa memicu dan seks seringkali jadi sesuatu yang tidak terlalu difokuskan oleh pasangan pada kondisi tersebut.

3 dari 4 halaman

Umur Ikut Berpengaruh

Terlebih, faktor lainnya seperti umur juga dapat berpengaruh pada frekuensi seks tiap pasangan. Menurut Lucie, perubahan pada kondisi tubuh juga bisa mempengaruhi hal tersebut.

"Kita juga menua. Tubuh mengalami perubahan dan terus-menerus mengalami transisi. Kita mungkin berharap tubuh dan hubungan seks akan tetap sama dalam berbagai titik kehidupan. Tapi kenyataannya, itu akan berubah seiring berjalannya waktu," ujar Lucie.

"Namun hal tersebut juga tidak masalah, yang paling penting adalah bagaimana Anda berkomunikasi dengan pasangan. Memahami apa yang mendorong ketidaktertarikan mereka pada seks," Lucie menjelaskan.

Apabila penyebabnya adalah keadaan eksternal seperti pekerjaan atau stres yang berkaitan dengan anggota keluarga lainnya, maka Lucie menyarankan untuk mencari cara lain untuk mendukung pasangan dan mendorong relaksasi mereka.

"Berbeda jika pasangan terus-menerus menunda setiap kali Anda mencoba untuk memulai hubungan seks, itu bisa jadi karena pasangan mulai berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi pada dirinya dan membuat mereka menarik diri," ujar Lucie.

4 dari 4 halaman

Bisa Lihat Faktor Lain untuk Selamatkan Hubungan

Lucie dan Aubri mengungkapkan bahwa mereka sama-sama setuju bahwa hubungan bisa berakhir karena menurunnya frekuensi seks. Namun keduanya juga tidak setuju apabila itu menjadi faktor penentu satu-satunya.

"Ketidakcocokan benar-benar bisa menjadi alasan yang baik untuk mengakhiri suatu hubungan, tetapi ketidakcocokan seksual hanyalah satu jenis ketidakcocokan, dan ada banyak cara lain untuk menikmati suatu hubungan,” kata Aubri.

"Jika ada cukup banyak hal lain dalam hubungan yang indah dan kuat, menurunnya frekuensi seks atau seks itu sendiri mungkin tidak sepenting yang pernah Anda pikirkan,” tambahnya.

Sedangkan menurut Lucie, tantangannya akan ada pada bagaimana Anda melakukan eksplorasi dalam hal seks. Begitupun saat pasangan memutuskan mereka tidak ingin berhubungan seks terlalu banyak.

"Jika pasangan memutuskan bahwa mereka tidak ingin berhubungan seks terlalu banyak, lihatlah itu sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai jenis keintiman lainya," ujar Lucie.