Sukses

Satgas COVID-19 Mohon Komitmen Masyarakat Tetap Pakai Masker Ketika Sakit dan Berkerumun

Liputan6.com, Jakarta Indonesia saat ini tengah mengalami kenaikan kasus COVID-19 akibat varian Omicron BA.4 dan BA.5. Diperkirakan, puncaknya akan terjadi pada minggu kedua atau ketiga bulan Juli.

Kenaikan kasus tersebut juga bisa terlihat dari penambahan kasus harian COVID-19 yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Berdasarkan data terakhir yang dihimpun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada Senin, 4 Juli 2022, penambahan kasus harian COVID-19 ada sebanyak 1.434 kasus.

Sedangkan dalam tiga minggu terakhir, kasus harian COVID-19 di Indonesia pun sempat berkali-kali melewati angka dua ribu per harinya. Tepatnya pada tanggal 24 hingga 30 Juni dan 1 Juli 2022.

Namun seperti yang diketahui, aturan yang memperbolehkan masyarakat untuk lepas masker di luar ruangan juga masih berlaku. Hal ini pun telah dikonfirmasi lebih lanjut oleh Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 RI, Prof Wiku Adisasmito.

"Sejauh ini tidak ada perubahan aturan namun kami tetap mengimbau masyarakat untuk terus berhati-hati. Dimohon komitmennya juga untuk saling menjaga yaitu memakai masker saat sakit dan saat berkerumun," ujar Wiku melalui keterangan pada Health Liputan6.com, Selasa (5/7/2022).

Wiku menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih terus untuk berupaya mengendalikan kasus COVID-19. Ia pun berharap kenaikan kasus yang diprediksikan akibat Omicron BA.4 dan BA.5 tidak terjadi secara signifikan.

"Indonesia saat ini masih terus berupaya mengendalikan kondisi kasus COVID-19. Kita berharap bersama, tren kenaikan kasus tidak terjadi signifikan," kata Wiku.

2 dari 4 halaman

Perbedaan Suara Soal Aturan Lepas Masker

Dalam kesempatan berbeda, Wakil Presiden RI, Ma'aruf Amin mengungkapkan bahwa aturan penggunaan masker di luar ruangan harus diperketat kembali, termasuk saat masyarakat berada di luar ruangan.

Ma'aruf Amin mengungkapkan, ketika ada kenaikan kasus, maka kelonggaran penggunaan masker pun akan ditarik kembali hingga situasinya memungkinkan.

"Kalau masker, protokol kesehatan tetap kita ketatkan, masker terutama ya, ada kenaikan terpaksa masker harus dipakai lagi. Jadi kelonggaran itu kita tarik dulu sampai nanti situasinya memungkinkan baru kita buka lagi," ujar Ma'ruf Amin dalam pertemuan di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat, 1 Juni 2022.

Sedangkan dalam Rapat Terbatas Evaluasi PPKM di Jakarta pada Senin, 4 Juli 2022 kemarin, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa sejauh ini memang belum ada perubahan kebijakan mengenai masker.

"Belum ada perubahan dari kebijakan mengenai masker dari yang terakhir disampaikan oleh pemerintah," ujar pria yang akrab disapa BGS tersebut.

"Jadi di luar diizinkan untuk tidak menggunakan masker, sedangkan di dalam ruangan diharapkan, diimbau untuk memakai masker," tambahnya.

3 dari 4 halaman

Epidemiolog Sayangkan Ada Perbedaan Suara

Perbedaan suara soal aturan penggunaan masker yang disampaikan dalam jangka waktu berdekatan tersebut pun memang tak luput membuat masyarakat jadi kebingungan.

Terkait hal tersebut, Epidemiolog Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman juga menjelaskan bahwa hal tersebut membingungkan rakyat.

"Pemerintah justru sekarang berbeda suara soal aturan pelonggaran masker di luar ruangan. Wapres Ma'ruf Amin bilang ditarik sementara, sedangkan Menkes Budi Gunadi malah bilang tidak ada perubahan. Ini Jadi membingungkan rakyat," ujar Dicky melalui keterangan pada Health Liputan6.com pada Senin, 4 Juli 2022.

Dicky menjelaskan, perbedaan tersebut menjadi hal yang begitu disayangkan. Menurutnya, dalam hal strategi komunikasi risiko, konsistensi, kejelasan pesan, dan kesinergian antar pihak atau sektor di pemerintah merupakan hal yang penting.

"Ini membangun kepercayaan dan akan berpengaruh pada program lainnya. Seperti misalnya bicara masker atau bicara pandemi terkendali kemudian memburuk, bukan berarti tidak berpengaruh pada cakupan vaksinasi booster, itu berpengaruh," kata Dicky.

4 dari 4 halaman

Alur Informasi yang Seharusnya Selaras

Menurut Dicky, dengan adanya perbedaan informasi atau pemberian informasi yang terlalu optimis dapat membawa dampak lain. Hal tersebut dapat bukan berujung pada meningkatnya kewaspadaan masyarakat.

"Sekali masyarakat menerima informasi yang terlalu optimis atau yang hanya membawa positif-positif, yang terbangun bukan kewaspadaan. Selain mereka berharap ini selesai, sebagian juga di sisi lain akan menurun kepercayaannya dan itu berbahaya," ujar Dicky.

"Walaupun saat ini memang tahun kedua, tahun ketiga jauh lebih baik komunikasi resikonya dibanding tahun pertama. Tetap harus dijaga terus," Dicky menjelaskan.

Terlebih menurutnya, di negara-negara lain biasanya alur informasi yang diberikan oleh pimpinan dan pejabatnya akan selaras. Pejabat biasanya juga akan mengikuti aturan dari pimpinan atas, bukan sebaliknya.

"Kalau ini berbeda himbauannya, ini yang salah. Harus diperbaiki," kata Dicky.