Sukses

6 Bulan Usai Vaksin Primer adalah Interval Terbaik Pemberian Booster COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Vaksin COVID-19 primer memiliki masa penurunan efektivitas dalam 6 bulan. Maka dari itu, penggunaan dosis booster atau penguat amat diperlukan setelah 6 bulan suntikkan vaksin primer.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan, jika vaksin primer intervalnya sudah lebih dari 6 bulan, apakah bisa langsung booster atau perlu mengulang dosis pertama dan kedua terlebih dahulu?

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro. Menurutnya, vaksin booster boleh langsung dilakukan tanpa mengulang vaksin primer.

“Untuk booster itu bukan hanya antibodi yang diukur tapi sebetulnya ada yang namanya sel memori. Sel ini bertahannya lebih lama dan diperlukan oleh booster. Sel ini harus aktif terus sehingga ketika diberi booster dia akan menghasilkan antibodi.”

“Jadi karena adanya sel memori ini, booster tetap bisa diberikan walau sudah lebih dari 6 bulan. Misalnya sudah 8 bulan ya jangan menunggu lagi, cepat-cepat suntik booster,” kata Sri dalam seminar daring bertajuk Perjalanan Vaksinasi COVID-19: Pentingnya Vaksinasi Booster di Masa Pandemi Sabtu (25/6/2022).

Sebaliknya, jika sebelum 6 bulan, misalnya baru 2 bulan pemberian vaksin primer maka pemberian booster tidak akan menunjukkan peningkatan antibodi yang signifikan.

“Dua bulan setelah vaksin primer itu antibodinya masih tinggi, kalau kita suntik lagi itu enggak akan naik tinggi. Nah ini harus hati-hati, kita sudah memakai batas 6 bulan itu sudah paling bagus ada penelitiannya.”

“Kalau lebih, silakan booster asal jangan kurang dari 6 bulan.”

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Booster untuk BA.4 dan BA.5

Sri juga menerangkan soal vaksin booster untuk BA.4 dan BA.5. Menurutnya, sejauh ini vaksin tersebut masih diteliti.

“Ya mungkin di luar negeri ada penelitiannya tapi memang belum dipublikasi karena ini tidak mudah, yang meneliti perlu waktu, uang, subjek, dan responden,” katanya.

Di sisi lain, penelitian vaksin pun dilakukan untuk Omicron secara keseluruhan bukan khusus untuk BA.4 dan BA.5.

“Bisa saja di masa depan ada BA.8 dan kita tidak mungkin mengikuti mutasinya sehingga yang diteliti adalah vaksin Omicron secara keseluruhan.”

Terlepas dari berbagai penelitian yang sedang dikembangkan, vaksinasi tetap penting apalagi di tengah merebaknya Omicron subvarian BA.4 dan BA.5.

Menurut Sri, vaksin booster masih sangat penting lantaran virus masih bermutasi. Mutasi adalah cara virus untuk tetap bertahan hidup dan vaksinasi adalah cara untuk melawannya. Mutasi yang terus terjadi kemudian menimbulkan pertanyaan apakah vaksin booster kedua diperlukan.

“Apa kita perlu booster kedua? Yang primer saja belum beres, minimal 70 persen dari populasi, ayo kita bereskan dulu.”

3 dari 4 halaman

Rampungkan Satu per Satu

Ia menambahkan, meskipun vaksin primer sudah beres, belum saatnya fokus pada booster kedua karena booster pertama pun belum rampung.

“Kalau itu sudah dibereskan, kita ke booster pertama, ini pun belum beres. Kalau booster dibereskan, mungkin kita belum perlu pakai booster kedua kalau masih ada yang belum divaksinasi,” ujar Sri.

Orang-orang yang belum divaksinasi adalah sumber dari mutasi. Sehingga perlu dikejar dulu vaksinasi primernya, kemudian ke vaksinasi booster.

Vaksinasi lengkap penting bagi masyarakat terutama bagi lanjut usia (lansia). Studi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, pada usia lanjut vaksinasi COVID-19 dapat menurunkan kejadian penyakit berat, masuk rumah sakit (rawat inap), dan kematian.

Artinya, lanjut Sri, kelompok masyarakat yang perlu menjadi prioritas dalam mendapatkan vaksin COVID-19 yakni usia lanjut, tenaga kesehatan, komorbid dan kelompok imunokompromais. Tak lupa kemudian kelompok dewasa, remaja dan anak-anak sehat.

Ia menyimpulkan, sebelum memikirkan vaksin booster kedua, maka kelompok-kelompok prioritas itu perlu dibereskan terlebih dahulu.

“Marilah kita bereskan dulu step by step, jangan ngacak, supaya hasilnya jauh lebih baik.”

4 dari 4 halaman

Booster Anak

Sri juga menyampaikan terkait booster anak usia 6-11 tahun. Menurut dia, pemberian booster pada anak di usia tersebut masih dalam proses kajian.

“Kita sedang mengkaji hal ini, karena ini terkait dengan jenis vaksin apa, kebutuhannya berapa, logistiknya bagaimana, kalau vaksin tidak cukup apa perlu berbayar, semua itu kan harus dipikirkan karena pemerintah juga sudah banyak mengeluarkan dana untuk program vaksinasi ini.”

“Kita masih menggodok bukan hanya sekadar perlu atau tidak perlu tapi banyak kaitan-kaitan yang harus kita kaji,” kata Sri.

Sebelumnya, Data Kementerian Kesehatan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah vaksinasi COVID-19 terbanyak di dunia.

Indonesia menempati urutan keempat setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat dengan sasaran target vaksinasi COVID-19 nasional sebesar 208.265.720 juta penduduk.

Namun, sekitar 76 persen masyarakat Indonesia belum melakukan vaksinasi booster. Padahal, diketahui bahwa seiring berjalannya waktu efektivitas vaksin primer bisa terus menurun.

Data surveilans Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 viral vektor aman sebagai vaksin primer maupun booster yang memberikan perlindungan tinggi dan konsisten setara dengan vaksin 'mRNA', bahkan pada kelompok yang lebih rentan.