Sukses

Wamenkes Dante: Hanya 43,56 Persen yang Berupaya Berhenti Merokok

Liputan6.com, Jakarta Pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dante Saksono Harbuwono menyebutkan, hanya 43,56 persen penduduk Indonesia yang berupaya untuk berhenti merokok. Temuan ini merupakan hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) Tahun 2021 yang baru saja diluncurkan.

"Keinginan upaya berhenti merokok ada sebanyak 63,4 persen, tapi hanya 43,56 persen yang berupaya berhenti merokok. Ini niatnya sudah ada, tapi upayanya belum semuanya dilaksanakan," ungkap Dante saat Peluncuran Data Hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) dan Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta pada Selasa, 31 Mei 2022.

Data GATS Tahun 2021 pada rentang usia dewasa juga memaparkan, Indonesia dalam 10 tahun terakhir terjadi penurunan merokok yang hanya 1,6 persen. Namun, terjadi peningkatan jumlah perokok dewasa sebanyak 8,8 persen dari 60,3 juta meningkat menjadi 69,1 juta orang.

Persentase keterpaparan asap rokok di beberapa tempat umum seperti di restoran, rumah, gedung pemerintahan, tempat kerja, transportasi umum, dan fasilitas kesehatan masih tinggi.

"Label peringatan rokok sudah ada, tapi belum mampu membuat masyarakat berhenti merokok secara signifikan justru keterpaparan rokok dan iklan rokok di internet sangat tinggi, 10 kali lipat sangat tinggi, yang tadinya 1,9 persen, dengan perkembangan teknologi internet baru, maka iklan rokok 21,4 persen," lanjut Dante.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Edukasi di Media Sosial

Adanya gempuran iklan rokok, menurut Dante Saksono Harbuwono, harus mendapatkan perhatian. Upaya edukasi soal rokok harus lebih banyak lagi dilakukan, terutama di media sosial.

"Perlu melakukan edukasi yang lebih tinggi lagi di media sosial daripada jumlah iklan rokok yang ada di internet. Sebab, peningkatan 10 kali lipat pada iklan rokok di internet," katanya,

Lebih lanjut, Dante mengatakan, data survei GATS menunjukkan berbagai tantangan dan hambatan untuk mengurangi konsumsi tembakau, khususnya kelompok usia 10-18 tahun sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN).

Bertepatan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, diharapkan survei GATS dapat menjadi titik terang upaya pengendalian tembakau di Indonesia.

"Pertama, melaksanakan kebijakan program yang dapat mengurangi kepaparan tembakau di media cetak, elektronik ini juga media sosial. Ya, memang tugas kelihatan sangat mudah, tetapi sangat sulit dikerjakan, tapi kita bisa kerjakan bersama setelah melihat survei GATS ini," terang Dante.

"Kedua, bagi para perokok yang sudah terdaftar maupun yang lain belum terdaftar dapat dipastikan mendapatkan ajakan lebih baik untuk berhenti merokok melalui web atau pengendalian berhenti merokok yang dimiliki Kementerian Kesehatan."

3 dari 4 halaman

Promosikan Dampak Buruk Merokok

Dalam upaya pengendalian tembakau ketiga, Dante Saksono Harbuwono menyarankan untuk menggunakan media sosial dan mengajak para influencer  untuk mempromosikan dampak buruk merokok dan layanan berhenti merokok. Ini melibatkan seluruh elemen masyarakat  yang ada.

"Keempat, peningkatan jumlah kawasan tanpa rokok di lingkungan tempat tinggal, perkantoran, jenis sarana publik lainnya. Saya berharap keempat hal ini dapat dilakukan berdasarkan GATS," pesannya.

"Semoga survei GATS ini dapat dipakai oleh kementerian atau lembaga lain yang berbeda. Survei GATS tahun 2021 ini merancang strategi pendekatan sehingga upaya untuk berhenti merokok akan terlihat lebih baik. Ini tantangan bagi kita semua untuk melakukan pendekatan lebih ekspansif lagi kepada masyarakat."

Global Adult Tobacco Survey (GATS) adalah standar global untuk secara sistematis memantau penggunaan tembakau (hisap dan kunyah) oleh orang dewasa dan melacak indikator-indikator utama pengendalian tembakau.

4 dari 4 halaman

Survei GATS Tahun 2021 di Indonesia

GATS adalah sebuah survei representatif nasional yang menggunakan protokol yang konsisten dan standar di berbagai negara, termasuk Indonesia. GATS memperkuat kapasitas negara untuk merancang, mengimplementasi, dan mengevaluasi program pengendalian tembakau.

GATS juga akan membantu negara-negara memenuhi kewajiban berdasarkan Framework Covention on Tobacco Control (FCTC) World Health Organization (WHO) untuk menghasilkan data yang dapat dibandingkan secara nasional maupun internasional.

GATS menggunakan metodologi standar global yang mencakupinformasi latar tentang karakteristik, penggunaan tembakau (hisap, kunyah, produk tembakau yang dipanaskan), penggunaan rokok elektronik, penghentian penggunaan, asap rokok orang lain, ekonomi, media, serta pengetahuan, sikap, dan persepsi tentang penggunaan tembakau.

Di Indonesia, GATS dilaksanakan pada tahun 2021 sebagai survei rumah tangga terhadap orang yang berusia atau lebih dari 15 tahun oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan.

Rancangan sampel klaster geografis dan multi-tahap digunakan untuk menghasilkan data nasional yang representatif. Sebanyak 10.170 rumah tangga dilibatkan sebagai sampel, dan satu individu dipilih secara acak dari masing-masing rumah tangga peserta untuk mengisi survei.

Informasi survei dikumpulkan secara elektronik menggunakan gawai. Sebanyak 9.156 wawancara lengkap telah dilakukan, dengan angka respons keseluruhan sebesar 94,0 persen.