Sukses

Kerap Dipandang Penyakit Remeh, PPOK Peringkat Ketiga Penyebab Kematian Tertinggi Dunia

Liputan6.com, Jakarta Dokter spesialis penyakit dalam konsultan pulmonologi RS Advent Bandung, Arto Yuwono Soeroto, mengatakan bahwa penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah penyakit yang cenderung dilupakan.

“Dia relatif kurang dipandang, relatif dipandang sebelah mata dibanding dengan penyakit tidak menular lainnya seperti penyakit jantung dan stroke,” kata Arto dalam seminar daring Kementerian Kesehatan Selasa (23/11/2021).

PPOK relatif tidak dipandang dengan dua mata, relatif sebelah mata padahal bebannya nomor tiga di dunia,” tambahnya.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizaton/WHO), PPOK adalah penyakit penyebab kematian tertinggi ketiga di dunia. Penyakit ini menyebabkan 3,23 juta kematian pada 2019.

2 dari 4 halaman

Prevalensi di Indonesia

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018), PPOK di Indonesia sebesar 2,4 persen dari penyakit lainnya.

“Jeleknya, diperkirakan dari waktu ke waktu kejadian PPOK akan meningkat karena adanya peningkatan aktivitas merokok. Asap rokok jika tidak terkontrol dengan baik, dikhawatirkan kita akan memetik hasilnya nanti.”

Menurut WHO, prevalensi PPOK diperkirakan akan meningkat selama 40 tahun ke depan. Pada 2060, diperkirakan kematian mencapai 5,4 juta per tahun yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas merokok.

“Dan ini tentu berdampak pada ekonomi, jangan dilihat dalam waktu pendek tapi lihat dalam jangka panjang.”

3 dari 4 halaman

Tentang PPOK

Sebelumnya, Arto juga menjelaskan terkait definisi PPOK. Menurutnya, dari sisi bahasa ada dua kata penting yang menyertai PPOK yakni obstruksi dan kronis.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) obstruksi artinya sumbatan, rintangan (misal: cairan yang dapat mengalir atau bergerak dalam saluran).

“Sedang, kronis berarti berjangkit terus dalam waktu lama, menahun tentang penyakit yang tidak sembuh,” katanya.

Dalam pengertian lainnya, PPOK adalah penyakit yang umum, dapat dicegah, dan dapat diobati yang dikarakteristikkan oleh gejala pernapasan dan limitasi aliran udara persisten. Ini dikarenakan abnormalitas saluran pernapasan dan/atau alveolus yang biasanya disebabkan oleh paparan signifikan partikel atau gas berbahaya dan dipengaruhi oleh faktor individu, termasuk abnormalitas perkembangan paru.

 

 

4 dari 4 halaman

Infografis Strategi Cegah Lonjakan Kasus dan Gelombang 3 COVID-19 Saat Libur Nataru