Sukses

KemenPPPA: Gesekan Persoalan dalam Keluarga Selama Pandemi Tak Boleh Dibiarkan

Liputan6.com, Jakarta Gesekan-gesekan persoalan yang terjadi antar anggota keluarga di masa pandemi COVID-19 tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Hal ini disampaikan Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan dan Pendidikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Entos Zainal.

Menurutnya, berbagai persoalan baru yang timbul di masa COVID-19 tak hanya dirasakan orangtua, tapi juga oleh anak.

Salah satu problematika akibat pandemi COVID-19 adalah Sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang memaksa anak belajar di rumah. Orangtua harus menghadapi anak yang akhirnya merasa bosan, jenuh, dan sulit berkonsentrasi.

Di sisi lain, orangtua juga khawatir jika anak-anaknya kurang mendapatkan penanaman nilai-nilai kehidupan.

Oleh karenanya, mengelola emosi menjadi penting dilakukan bagi orangtua dan anak dalam lingkungan keluarga. Utamanya, ketika orangtua mendampingi anak saat belajar.

Selain mampu menanamkan nilai-nilai kehidupan, dengan pelatihan emosi, anak akan bertumbuh dengan baik, mandiri, dan menemukan potensi dirinya.

“KemenPPPA melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) hadir untuk memberikan layanan pembelajaran dan pendampingan bagi keluarga,” kata Entos mengutip keterangan pers Kamis (22/7/2021).

2 dari 5 halaman

Layanan Psikologi di Masa Pandemi

Selain PUSPAGA, KemenPPPA bersama Kantor Staf Presiden (KSP) dan beberapa pihak lainnya telah meluncurkan Layanan Psikologi Sehat Jiwa (SEJIWA).

Layanan ini diluncurkan untuk menjamin pemenuhan hak kesehatan mental masyarakat di masa pandemi COVID-19.

Melalui layanan yang bekerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), masyarakat bisa mendapatkan edukasi, konsultasi, dan pendampingan psikologi dari ahli.

3 dari 5 halaman

Butuh Kerja Sama

Dalam keterangan yang sama, psikolog sekaligus dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Ifa H. Misbach mengatakan bahwa orangtua dan guru perlu saling bekerja sama.

Kerja sama dapat dilakukan dalam aspek pendidikan di mana orangtua dan guru dapat berperan sebagai pelatih emosi anak.

“Fungsi pendidik (guru dan orangtua) adalah sebagai pelatih emosi untuk melatih mental anak untuk bertumbuh kembang, mandiri, dan menemukan potensi dirinya. Oleh karenanya, menjadi penting bagi orangtua untuk mengelola emosinya juga,” kata Ifa.

Selain itu, prinsip pendampingan harus dilakukan bersama-sama, lanjutnya. Diperlukan peran dan interaksi antara anak, guru, dan orangtua untuk menentukan model pengalaman belajar.

“Dunia pendidikan kita saat ini tidak sama lagi dengan sebelumnya. Mari anggap permasalahan ini menjadi sebuah tantangan bersama,” terang Ifa.

Ifa juga menyampaikan 2 cara menjaga emosi anak, yakni dengan mengajaknya bermain dan menghindari penggunaan kalimat yang menghakimi.

Menurutnya, bermain bersama anak merupakan hal penting untuk memperkuat ikatan emosi antara orangtua dan anak. Bermain juga dapat melatih anak dalam mengelola emosinya.

“Teman terbaik anak saat bermain adalah orangtua. Selain menjadi hak, bermain adalah ‘makanan otak’ untuk anak, bermain adalah pekerjaan utama anak.”

Sedang, dalam hal komunikasi orangtua juga diimbau menghindari kalimat verbal yang bersifat menghakimi, mendikte, menyindir, merendahkan harga diri, membandingkan, mengancam, dan menyalahkan.

“Ayo, para orangtua ubahlah kalimat-kalimat tersebut menjadi pernyataan positif yang disertai dengan dukungan dan apresiasi. Tanya dan dengarkan pendapat, kondisi, dan saran dari mereka,” tutup Ifa.

4 dari 5 halaman

Infografis 7 Tips Cegah Klaster Keluarga COVID-19

5 dari 5 halaman

Simak Video Berikut Ini: