Sukses

CISDI: Optimalisasi Peran Puskesmas untuk Vaksinasi COVID-19 Perlu Dibarengi Komitmen Pemerintah

Liputan6.com, Jakarta Puskesmas sebagai layanan kesehatan primer memiliki potensi untuk mempercepat memperluas cakupan program vaksinasi COVID-19 nasional.

Menurut Direktur Kebijakan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Olivia Herlinda, peran puskesmas sebagai modal Indonesia dalam mempercepat peningkatan cakupan vaksinasi perlu dibarengi dengan komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan jumlah sumber daya kesehatan dan perlindungan tenaga kesehatan.

“Dari segi sumber daya manusia (SDM), 90 persen puskesmas sudah memiliki tenaga vaksinator berjumlah di atas 4 orang. Namun, hampir 90 persen puskesmas memberdayakan staf puskesmas tanpa ada tenaga vaksinator tambahan,” ujar Olivia dalam keterangan pers dikutip Rabu (5/5/2021).

Selain itu, lebih dari 90 persen puskesmas juga sudah siap menangani Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Survei ini tidak bisa dianggap sebagai representasi dari seluruh puskesmas di Indonesia, tapi dari survei ini Olivia semakin yakin bahwa puskesmas memiliki posisi strategis dalam skema vaksinasi khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah pelosok.

Namun, lanjut Olivia, pemerintah pusat maupun daerah perlu terus memberikan penguatan puskesmas melalui penambahan SDM kesehatan, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD), dan tes berkala serta dukungan logistik.

2 dari 4 halaman

Contoh Kendala di Lapangan

Sejalan dengan Olivia, Kepala Puskesmas Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Hasna, S.K.M, mengatakan bahwa saat ini, persentase kasus COVID-19 di Sulawesi Barat mencapai 2,2 persen dari total kasus nasional (Satgas COVID-19, 3 Mei 2021).

Program vaksinasi sudah berjalan hingga tahap kedua yang menjangkau petugas pelayanan publik serta kelompok lansia. Namun kendala terbesar yang dihadapi oleh Puskesmas Bambalamotu adalah distribusi vaksin yang tidak mencukupi jumlah sasaran.

“Saat ini, jumlah kelompok sasaran Puskesmas Bambalamotu sekitar 14.000 jiwa sementara ketersediaan vaksin baru mencapai angka 300. Padahal antusiasme masyarakat sejauh ini sangat positif dan bisa menerima pemberian vaksinasi,” kata Hasna dalam keterangan yang sama.

Senior Advisor on Gender and Youth WHO, Diah Saminarsih, menambahkan, vaksinasi membawa harapan baru dalam penanganan COVID-19. Namun saat ini negara-negara di dunia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi keseimbangan antara supply dan demand vaksin COVID-19.

“Apa yang terjadi di tingkat puskesmas, komunitas dan nasional adalah refleksi dari apa yang terjadi di global. Saat ini suplai vaksin belum cukup padahal kebutuhannya sangat tinggi,” tutup Diah.

3 dari 4 halaman

Infografis 3 Kelompok Harus Dilindungi Saat Jaga Jarak Cegah COVID-19

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini