Sukses

Vaksinasi COVID-19 Lansia, 7 Cara Meminimalisasi Efek Samping Vaksin bagi Oma Opa

Liputan6.com, Jakarta Penelitian menyebutkan efek samping dari vaksinasi COVID-19 pada lanjut usia (lansia) sejauh ini tidak terlalu parah, efek vaksinasi pun dapat diminimalisasi dengan berbagai cara.

Menurut Dr. dr. Kuntjoro Harimurti, Sp.PD-KGer, MSc dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (RSCM-FKUI), setidaknya ada 7 cara meminimalisasi efek-efek vaksinasi bagi lansia yakni:

-Menghindari dan mengendalikan penyakit komorbid.

-Mencegah atau memperbaiki kondisi malnutrisi.

-Menjaga dan meningkatkan kebugaran.

-Mengoptimalkan sistem imunitas tubuh.

-Menghindari polifarmasi (minum obat banyak).

-Mempertahankan serta meningkatkan aktivitas atau mobilitas.

-Menghindari stres psikis.

“Ini pesan-pesan penting yang perlu diperhatikan oleh oma dan opa,” ujar Kuntjoro dalam seminar daring Geriatri TV, Minggu (21/2/2021).

Ia menambahkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hanya 20 persen lansia yang mengalami efek samping usai menjalani vaksinasi COVID-19.

Efek samping yang dirasakan pun sebagian besar berupa reaksi lokal dan bersifat sementara. Seperti, reaksi sistemik berupa demam, fatik (lemas), dan sakit kepala. Efek-efek tersebut dapat diatasi dengan pengobatan sederhana seperti parasetamol dan istirahat.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Memastikan Lansia Siap Vaksinasi dengan Skrining

Seperti penerima vaksin lainnya, para lansia juga harus melalui proses skrining sebelum divaksinasi. Hal pertama yang dicek adalah suhu, jika suhu di atas 37,5 derajat maka vaksinasi akan ditunda hingga lansia tersebut sembuh.

Setelah mengecek suhu, langkah berikutnya adalah periksa tekanan darah. Kuntjoro menjelaskan, tingkat tekanan darah yang memenuhi syarat vaksinasi telah direvisi. Awalnya, tekanan darah yang memenuhi syarat adalah tidak boleh lebih dari 140/90, tapi angka tersebut membuat banyak orang tidak bisa divaksin.

“Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan dengan rekomendasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) mengubah tekanan darah menjadi 180/110 mmHg.”

Pengukuran tekanan darah akan diulang dalam 5 hingga 10 menit kemudian, jika masih tinggi, maka vaksinasi ditunda sampai terkontrol, kata Kuntjoro.

Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa lansia tidak terkena COVID-19, sedang dalam masa inkubasi, atau sedang mengidap penyakit kronik.

“Kalau penyakitnya tidak terkendali maka tidak bisa divaksinasi, untuk lansia dengan komorbid yang masih terkendali itu masih bisa diberikan vaksinasi asalkan penyakitnya terkontrol,” tutupnya. 

3 dari 4 halaman

Infografis Vaksinasi COVID-19 untuk Lansia di Atas 60 Tahun Dimulai

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini