Sukses

Lebih dari 5 Tahun Anak Masih Mengompol? Waspada Nokturnal Enuresis

Liputan6.com, Jakarta Orangtua harus mewaspadai kebiasaan mengompol pada anak apabila sudah berusia lebih dari 5 tahun. Bukan tidak mungkin ia mengalami nokturnal enuresis.

Nokturnal enuresis sendiri adalah ketidakmampuan mengontrol pengeluaran urin selama tidur yang terjadi pada anak dengan usia lebih dari 5 tahun atau perkembangan yang setara, setidaknya selama 3 bulan.

Irfan Wahyudi, Kepala Departemen Urologi FKUI-RSCM mengatakan, perlu waktu bagi anak selama 4 tahun untuk bisa mengontrol proses berkemihnya ketika ia bangun atau saat tidur.

Dalam sebuah temu media beberapa waktu lalu, ditulis Minggu (3/1/2020), Irfan mengatakan bahwa enuresis sendiri terjadi di malam hari ketika anak sedang tertidur.

"Kalau anaknya masih (bisa) bangun kemudian kencing pada malam hari itu bisa didefinisikan ke nokturia, tapi kalau misalnya mengompol pada saat tidur, masuknya ke enuresis," kata Irfan.

Sehingga enuresis bisa mulai diwaspadai apabila kondisi itu terjadi pada malam hari saat anak tidur, setelah dia berusia 5 tahun, serta tidak ada kelainan secara fisik baik anatomi atau saraf.

Irfan mengungkapkan, faktor penyebab nokturnal enuresis sendiri bersifat multifaktorial, misalnya kondisi genetik, konstipasi, infeksi saluran kemih, kapasitas kandung kemih yang kecil, kecemasan, gangguan tidur, serta diabetes.

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 3 halaman

Kapan Harus ke Dokter?

Dia menjelaskan, orangtua harus mulai memeriksakan anaknya ke dokter apabila ia masih mengompol walau usianya lebih dari 5 tahun. Dokter nantinya akan memeriksa beberapa hal seperti keluhan, perkembangan anak, riwayat keluarga dan penyakit penyerta, serta tinggi dan berat badan.

"Karena ada korelasi antara berat badan yang berlebih dengan gangguan mengorok, dan mengorok ini akan berkaitan dengan mengompol juga," katanya.

Irfan mengatakan, terapi yang perlu dilakukan perlu disesuaikan dengan penyebab yang mendasari pasien. Perbaikan gaya hidup pun juga menjadi salah satu terapi yang mungkin dianjurkan.

"Perbaikan gaya hidup yang dapat dilakukan yakni menghindari konsumsi cairan berlebih pada malam hari, menghindari minuman atau makanan mengandung kafein, memastikan konsumsi cairan yang cukup sepanjang hari, menghindari diet tinggi protein atau garam pada malam hari (menginduksi diuresis), mengingatkan untuk berkemih sebelum tidur, serta memberi penghargaan jika anak tidak mengompol."

Terapi lain yang juga mungkin dianjurkan adalah terapi menggunakan obat yakni desmopresin serta terapi alarm.

"Terapi alarm memiliki tingkat keberhasilan yang hampir sama dengan pemberian obat, dimana saat celana anak basah akibat mengompol, maka alarm akan berbunyi yang menyebabkan anak akan terbagun dan harus pergi ke kamar mandi." kata Irfan.

Ia mengatakan, terapi alarm dapat dianggap berhasil apabila anak tidak mengompol selama satu bulan tanpa penggunaan alarm, dan kebanyakan akan membuahkan hasil setelah 3 hingga 4 bulan terapi.

 

3 dari 3 halaman

Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.