Sukses

Dokter ICU Simulasikan Penderita COVID-19 yang Tak Pakai Masker di Akhir Hayatnya

Liputan6.com, Jakarta Sebuah video yang diunggah seorang dokter ICU menjadi viral karena menggambarkan apa yang akan dilihat pasien COVID-19 terakhir kali jika tidak mematuhi protokol kesehatan. Ia berharap video ini mampu mendorong masyarakat untuk mematuhi pedoman kesehatan masayrakat selama pandemi COVID-19.

Dokter Kenneth E. Remy, MD, MHSc, FCCM adalah dokter perawatan kritis anak dan dewasa di Washington University Medical Center di St. Louis, Missouri, negara dengan jumlah kasus COVID-19 yang meningkat setiap dua kali lipat setiap hari. Selain bertugas di ICU, ia juga meneliti COVID di laboratorium universitas.

 

"Inilah apa yang akan Anda lihat ketika bernapas 40 kali per menit, kadar oksigen menurun drastis di bawah 80," katanya.

"Saya berharap saat-saat terakhir dalam hidup Anda tidak terlihat seperti ini. Karena inilah yang akan Anda alami dan lihat terakhir kali hidup jika Anda tidak memakai masker saat keluar ke tempat umum, saat kita tidak mempraktikkan jarak sosial, ketika kita tidak sering mencuci tangan. Karena saya berjanji, inilah yang akan Anda lihat. Inilah yang akan terjadi di akhir hidup ibu, atau ayah Anda, atau anak-anak Anda, ketika mereka tertular COVID-19. Ini serius. Saya mohon, mohon lakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi penularan COVID-19, sehingga kami dapat secara efektif mencegah penyakit untuk Anda dan orang yang Anda cintai."

Remy belum lama ini mengatakan kepada CNN bahwa ia telah merawat lebih dari 1000 pasien COVID-19, yang memotivasinya untuk merekam video tersebut. Terlebih karena ia telah mendengar beberapa pasien mengklaim bahwa mereka menggunakan masker atau tidak, tidak mempengaruhi mereka. Ada juga yang meremehkan, mengolok-olok protokol kesehatan karena menganggap diri mereka tidak berisiko atau risiko tertularnya sangat rendah.

“Banyak dari pasien ini akan meninggal secara tiba-tiba. Oleh karena itu, saya sebagai dokter ICU, saya yang harus menolong mereka,” katanya, seperti dikutip Menshealth

"Sejujurnya, saya sepenuhnya menyadari bahwa membatasi cara kita menjalani hidup saat ini sangat sulit dan tidak nyaman," kata Remy. "Tapi Anda tahu apa yang benar-benar tidak nyaman? Tidak bisa bernapas. Tidak bisa meninggalkan unit perawatan intensif. Yang benar-benar tidak nyaman adalah rentan di tempat tidur, di mana seseorang meletakkan selang plastik di tenggorokan Anda untuk membantu Anda, dan kamu mungkin tidak bertahan. "

"Begitu Anda masuk ke dalam situasi di unit perawatan intensif di mana Anda memakai selang pernapasan, angka kematian Anda meningkat," tambahnya.

Remy khawatir dia akan melihat lebih banyak pasien virus corona COVID-19 setelah Thanksgiving, terlepas dari rekomendasi pejabat kesehatan sebelumnya yang melarang perjalanan atau pertemuan yang tidak penting dalam kelompok besar selama musim liburan.

 

2 dari 4 halaman

Ini bukan jualan rasa takut tapi nyata

Dokter mengatakan dia khawatir lonjakan lain akan membuat sakit petugas kesehatan dan membebani rekan-rekannya yang sudah "lelah".

"Penyakit ini cukup merajalela dan melonjak. Saya khawatir akan semakin melonjak," katanya. "Rumah sakit kita akan menjadi lebih penuh daripada saat ini."

"Ini bukan tindakan menjual rasa takut. Ini nyata," lanjut Remy.

Remy juga takut tertular virus novel di tempat kerja dan membawanya pulang ke istrinya, Allison, dan keempat anaknya: Caitlin, Emma, ​​Richard, dan Kenny.

"Yang benar adalah setiap kali saya melakukan intubasi atau melakukan CPR pada seseorang dengan COVID, saya sedikit gugup terkena penyakit tersebut," katanya. "Saya tidak dapat memberi tahu Anda cukup banyak bagaimana ketakutan itu nyata bagi saya dan semua rekan saya. Tampaknya aneh, tetapi pemikiran tentang kemungkinan menularkan penyakit secara tidak sengaja kepada mereka yang paling saya cintai di dunia ini [saat] melakukan pekerjaan itu. yang ingin saya lakukan sejak saya berusia lima tahun terus terang menakutkan. "

Hingga Kamis, ada lebih dari 12.851.200 kasus COVID-19 di Amerika Serikat dan setidaknya 262.100 kematian akibat penyakit terkait virus corona, menurut database New York Times.

3 dari 4 halaman

Infografis Jangan Remehkan Cara Pakai Masker

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: